Bayangkan terbangun setiap hari selama dua dekade di samping seseorang yang secara fisik ada, namun secara emosional membuat Anda merasa paling kesepian di dunia. Itulah realita yang dijalani Kartika Suminar.
Selama 23 tahun, ia membangun narasi pernikahan yang terlihat sempurna di mata orang lain, sementara di balik pintu tertutup, jiwanya perlahan terkikis.
Daftar Isi
1. Ilusi Cinta yang “Ugal-ugalan”

Segala sesuatunya dimulai seperti dongeng. Kartika mengenang masa-masa awal yang penuh dengan perhatian luar biasa—sebuah fenomena yang belakangan ia pelajari sebagai love bombing.
“Kelemahan wanita itu adalah emosional. Begitu merasa dicintai secara ugal-ugalan, kita akan merasa ‘Wow, orang ini sayang banget’.”
Namun, setelah janji suci terucap, topeng itu perlahan retak. Sosok yang dulu memuja, berubah menjadi kritikus paling tajam yang tak segan mempermalukannya di depan umum dengan dalih “bercanda”.
2. Menikah, Tapi “Menjanda”

Dalam kesendiriannya, Kartika memikul beban yang tak masuk akal. Sebagai seorang Alpha Woman, ia menjadi tulang punggung keluarga, mengurus rumah, hingga memperbaiki lampu yang rusak, sementara pasangannya tetap berada di zona nyaman tanpa empati.
“Saya sering merasa 23 tahun menikah tapi serasa seperti janda. Apa-apa sendiri. Saya jadi setengah perempuan, setengah laki-laki di dalam pernikahan itu.”
Tanpa ia sadari, tubuhnya mulai memberikan sinyal protes. Ia mengalami kecemasan kronis dan penurunan HB drastis yang tak bisa dijelaskan secara medis. Itulah saat tubuh “berteriak” ketika mulut dipaksa bungkam demi menjaga nama baik keluarga.
3. Tiga Kali di Ambang Maut

Tekanan mental yang begitu hebat membawa Kartika ke titik paling gelap dalam hidupnya. Tanpa ruang untuk bercerita karena takut dihakimi atau dianggap tidak bersyukur, ia sempat mencoba mengakhiri hidupnya sebanyak tiga kali.
“Mungkin karena saya memendam semua itu sendiri tanpa bercerita kepada siapapun, saya tiga kali ingin ‘end up my life’ karena sudah tidak kuat.”
Namun, selalu ada kekuatan tak kasat mata yang menjaganya. Ia menyadari bahwa memendam luka bukanlah bentuk kekuatan, melainkan bom waktu.
4. Hidayah di Balik Air Mata
Titik balik Kartika terjadi saat ia menyadari bahwa waktu tidak akan berjalan mundur. Di usia menjelang 50 tahun, ia akhirnya memilih untuk “pulang” kepada dirinya sendiri dan Tuhan. Menariknya, hidayah itu datang justru di saat-saat paling sulit dalam proses perceraiannya.
“Manusia itu tidak bisa merubah manusia lain, kecuali manusia itu ingin merubah dirinya sendiri.”
Melalui sujud yang tak lagi diwakili kata-kata, ia menemukan kedamaian. Perjalanan umrah dan keputusan berhijab menjadi simbol kemerdekaannya dari belenggu masa lalu. Kini, ia tidak lagi kurus kering karena batin yang tertekan; ia tampak berseri, bukan karena memiliki segalanya, tapi karena telah melepaskan apa yang merusaknya.
5. Menjadi Pelita bagi Orang Lain
Kini, melalui buku dan komunitas “Broken but Unbroken”, Kartika mengubah lukanya menjadi peta jalan bagi wanita lain. Ia ingin memastikan tidak ada lagi wanita yang merasa “bodoh” karena terjebak dalam hubungan dengan NPD.
“Luka yang sembuh tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi bisa menjadi pelita bagi orang lain. Semua orang berhak untuk bahagia.
Pesan Penutup untuk Anda: Kartika mengingatkan kita bahwa keluar dari hubungan toksik memerlukan strategi dan kekuatan finansial serta mental. Jangan terburu-buru, tapi jangan pula berhenti berharap.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Berdamai dengan “Luka” Masa Lalu: Manifesto Baru Menuju Kebebasan Finansial