Banyak dari kita berjalan di dunia ini sambil memikul “ransel” berat berisi ingatan masa lalu yang pahit. Kita sering berharap bahwa seiring berjalannya waktu, beban itu akan hilang dengan sendirinya.
Namun, dalam podcast Room for Improvement, praktisi kesehatan mental Adjie Santosoputro menegaskan bahwa waktu bukanlah obat ajaib.
Daftar Isi
1. Waktu Bukan Penyembuh, Tapi Kesadaran Adalah Kunci

Sering kali kita mendengar kalimat “Waktu akan menyembuhkan segalanya.” Namun, Adjie memberikan perspektif berbeda. Jika luka itu sangat dalam, waktu saja tidak cukup.
“Waktu itu penyembuh trauma atau sebenarnya waktu itu hanya membuat kita terbiasa saja? Tergantung seberapa dalam lukanya. Kalau hanya mengandalkan waktu, bisa justru bertambah parah.”
Penyembuhan membutuhkan niat (intention). Adjie mengibaratkan penyembuhan seperti membuat kopi; meskipun semua bahan sudah tersedia, kopi tidak akan jadi jika kita tidak bergerak untuk mengaduknya.
2. Meminta Tolong adalah Tanda Kekuatan
Salah satu hambatan terbesar dalam penyembuhan adalah ego. Banyak orang merasa bahwa mengakui luka atau pergi ke psikolog adalah tanda kekalahan.
“Minta tolong itu sering kali dianggap tanda lemah. Padahal enggak. Minta tolong adalah tanda bahwa kita kuat, tanda bahwa kita tetap ingin melanjutkan hidup ini.”
3. Tubuh Kita adalah “Hard Disk” Memori

Pernahkah Anda merasa sakit fisik yang tidak jelas penyebab medisnya? Adjie menjelaskan bahwa tubuh kita menyimpan jejak trauma yang belum tuntas. Tubuh sering kali lebih jujur daripada pikiran.
“Badan kita ini seperti hard disk dalam komputer. Apapun pengalaman peristiwa yang kita alami di masa lalu, itu tersimpan di tubuh kita.” [00:21:04]
Ia menceritakan pengalamannya sendiri saat terkena saraf terjepit (HNP) di usia 20-an, yang ternyata berkaitan erat dengan stres, kemarahan, dan rasa kesepian yang ia pendam sejak kecil akibat perceraian orang tua.
4. Mengenali “Alarm” Trauma dalam Hidup
Bagaimana kita tahu bahwa kita sedang membawa trauma yang belum sembuh? Adjie membagikan tiga indikator utama:
-
Relasi: Apakah kita mudah meledak (agresif) atau justru menutup diri dari orang terdekat?
-
Kreasi: Apakah kita bekerja dengan ambisi berlebih hanya untuk membuktikan diri (proving) pada orang yang pernah meremehkan kita?
-
Rekreasi: Apakah kita bisa benar-benar beristirahat, atau pikiran kita terus menghantui bahkan saat sedang berlibur?
5. Memutus Rantai Trauma Keluarga (It Stops With Me)
Trauma sering kali merupakan “warisan” yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Untuk memutus rantai ini, kita harus menjadi subjek yang sadar.
“Kita perlu tahu dulu luka yang ada di dalam diri kita… Upayakan untuk pulih sehingga tidak kita teruskan. Ketika kamu sadar, maka kamu berjarak dengan luka itu.”
Dengan memiliki kesadaran, kita tidak lagi bertindak berdasarkan “reaksi otomatis” masa lalu, melainkan memiliki pilihan untuk merespons dengan lebih bijak dan lembut kepada anak atau pasangan.
6. Healing Bukan Berarti Segalanya Sesuai Keinginan
Di akhir sesi, Adjie mengingatkan bahwa healing yang salah adalah ketika kita berharap hidup akan berjalan mulus tanpa hambatan setelah sembuh.
“Konsep healing yang salah adalah menganggap segala sesuatunya harus sesuai keinginan hidup ini. Saya tidak setuju.”
Penyembuhan yang sejati adalah kemampuan untuk menerima kenyataan apa adanya—baik yang pahit maupun yang manis—dengan hati yang lebih lapang dan tenang.
Kesimpulan: Penyembuhan adalah perjalanan pulang menuju diri sendiri. Jika hari ini Anda merasa lelah karena terus berlari dari masa lalu, berhentilah sejenak. Sadari bahwa pikiran Anda hanyalah awan yang melintas, dan Anda adalah langit luas yang tetap tenang di belakangnya.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Krisis Kejantanan di Era Digital: Antara Konspirasi, Hormon, dan “Brain Fog”