Dunia investasi kripto di Indonesia baru-baru ini diguncang oleh pengakuan mengejutkan dari para mantan pengikut Timothy Ronald.
Melalui kanal YouTube Denny Sumargo, tabir gelap di balik kemegahan gaya hidup mewah dan janji-janji “bebas finansial” mulai terkuak. Bukan sekadar soal rugi investasi, ini adalah kisah tentang kepercayaan, intimidasi, dan hilangnya logika di hadapan narasi kekayaan instan.
Daftar Isi
1. Janji Manis di Balik Harga Selangit

Banyak member yang rela merogoh kocek dalam-dalam, mulai dari Rp15 juta hingga Rp50 juta, hanya untuk mendapatkan status lifetime member di Akademi Crypto (AC). Motivasi mereka sederhana: ingin belajar langsung dari sosok yang dibranding sebagai “Raja Kripto”.
Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Yongger, salah satu korban, mengungkapkan ketidakhadiran sosok mentor yang dijanjikan.
“Dikasih tahu signal segala macam, Bang… Tapi kalau mau curhat atau konsultasi langsung saat rugi, itu yang enggak bisa. Malah grup diskusinya ditutup.”
2. Fenomena Koin Manta: “Hajar di Tempat”

Salah satu poin paling krusial dalam diskusi ini adalah promosi koin “Manta”. Timothy Ronald dan timnya disebut-sebut membangun narasi bahwa koin ini akan terbang tinggi hingga 500%. Tragisnya, pengikut dilarang keras untuk ragu, apalagi menjual rugi (cut loss).
Dalam sebuah cuplikan video acara luring, muncul pernyataan intimidatif yang mengejutkan:
“T-shirt cak ketuan cut loss Manta kami hajar di tempat!”
Larangan untuk cut loss ini membuat banyak member, termasuk Yongger yang kehilangan Rp3 miliar, terjebak dalam kerugian yang semakin dalam.
3. Kritik Tajam Gema Goeyardi: “Etika Itu Nomor Satu”

Gema Goeyardi, pakar keuangan yang hadir sebagai penengah, memberikan edukasi keras mengenai etika seorang penasihat keuangan. Menurutnya, pamer kemewahan bukanlah bukti kompetensi.
“Tidak ada hubungannya pamer mobil dengan skill di dunia financial market. Sertifikasi itu bukan jaminan profit, tapi standar etika agar tidak merugikan orang lain.”
Gema juga menyoroti bahaya janji-janji pasti dalam investasi:
“Dilarang hukumnya mengatakan kata pasti. Kalau kamu mengklaim winning rate 90% tapi tidak memberikan edukasi risiko, itu menyesatkan.”
4. Intimidasi dan Tim Siber
Bukan hanya kerugian materi, para korban juga mengaku dihantui oleh rasa takut. Muncul dugaan penggunaan tim siber untuk membungkam kritik di media sosial.
“Saya takut buat laporan karena banyak pengancaman… dibilang bakal diserang pakai tim siber-nya dia.”
Bahkan, Denny Sumargo sempat diperlihatkan bukti berupa foto intimidasi yang menunjukkan seolah-olah pihak terlapor memiliki “kekuatan” di ranah hukum untuk menyerang balik mereka yang komplain.
5. Pesan Moral: Kembali ke Proses
Di akhir diskusi, Denny Sumargo dan Gema Goeyardi sepakat bahwa fenomena ini harus menjadi pelajaran bagi generasi muda (Gen Z). Kekayaan yang didapat dengan merugikan orang lain tidak akan membawa ketenangan.
Gema memberikan pesan penutup yang sangat mendalam:
“Gunakan cara-cara yang benar… kalau kamu tidak takut hukum dunia karena punya power, Tuhan akan mencatat karmanya. Itu mungkin kena ke anak cucumu.”
Kesimpulan: Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa dalam investasi, jika sesuatu terdengar terlalu indah untuk jadi kenyataan, biasanya memang begitu. Proses, logika, dan etika tidak bisa digantikan oleh narasi emosional dan pamer harta.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Ibrahim Risyad Ramai Dihujat Publik, Ibu Salshabilla Adriani Beri Pembelaan