Dari Alas Kardus ke Panggung Dunia: Seni Menjadi “Medioker” yang Berdaya ala Alexander Tian

Alexander Tian
Alexander Tian

Dalam dunia yang terobsesi dengan kesempurnaan dan pencapaian instan, kisah Alexander Tian muncul sebagai pengingat yang membumi. Dikenal luas sebagai storyteller ulung dan konten kreator sukses, pria di balik akun @amrazing ini ternyata menyimpan masa lalu yang jauh dari kata berkilau.

Dari tidur beralaskan kardus hingga sempat ingin menyerah pada hidup, inilah perjalanan Alex dalam menemukan makna sukses yang sebenarnya.

1. Ketika Hidup Berada di Titik Nadir

450633545

Kehidupan Alex tidak dimulai dengan kemudahan. Kehilangan ayah di usia muda menjadi efek domino yang memporak-porandakan stabilitas keluarganya. Ia harus berpindah-pindah kota, menumpang hidup pada kerabat, hingga akhirnya berjuang sendirian di sebuah ruko kelontong.

“Gua pernah satu bungkus Indomie satu butir telur gua masak, kuahnya gua banyakin, gua kasih garam. Itu untuk makan seharian tiga kali,” kenang Alex.

Bahkan, saat berhasil mengumpulkan modal untuk membuka tokonya sendiri, ia tidak memiliki sisa uang untuk membeli kasur. “Selama berbulan-bulan gua tidur beralaskan kardus di toko gua sendiri.”

2. Senjata Rahasia: Belajar di Sela Waktu Luang

Apa yang membedakan Alex dengan orang lain di situasi serupa? Rasa haus akan ilmu. Di saat warung kelontongnya sepi, ia tidak sekadar melamun. Ia belajar bahasa Inggris secara otodidak melalui lirik lagu dan film bajakan.

Ia percaya bahwa solusi adalah satu-satunya cara keluar dari masalah:

“Upbringing gua adalah: lu kalau dikasih masalah, lu harus mencari solusi. Bukan menyalahkan semua orang kenapa ada masalah ini.”

Langkah kecil inilah yang nantinya membuka pintu koneksi internasional, pameran foto, hingga undangan dari berbagai badan pariwisata dunia.

3. Realita Kejam Industri Kreatif

Pendidikan
Pendidikan

Perjalanan karier Alex sempat mampir ke dunia penulisan skenario sinetron. Meski menghasilkan banyak uang, ia harus membayar harga yang mahal: kesehatan mental dan idealisme.

Ia pernah dikurung selama empat hari untuk menyelesaikan revisi dan harus menerima kenyataan pahit bahwa kualitas sering dikalahkan oleh kecepatan. Namun, dari sanalah ia belajar satu prinsip penting tentang integritas kerja:

“Do not bite the hand that feeds you. Kalau lu kerja di satu tempat dan lu enggak suka, either lu telan atau lu berhenti. Tapi jangan ngata-ngatain, karena itu tempat yang ngasih lu rezeki.”

4. Tamparan “Mak Haji” dan Seni Bersyukur

Ada satu momen krusial saat Alex merasa hidupnya jalan di tempat dan ingin menyerah. Ia merasa tidak berharga dan tidak ada yang akan merindukannya jika ia pergi. Namun, seorang wanita bernama Mak Haji memberikan “tamparan” verbal yang mengubah hidupnya.

Mak Haji mengingatkan bahwa dulu ia tidur di kardus, sekarang sudah punya kasur dan TV. Dulu makan susah, sekarang bisa menggaji orang.

“Orang yang paling jahat ke diri kita adalah kita sendiri. Kita benci kenapa kita enggak ganteng, enggak tajir… Padahal bangun dan bisa bernapas tanpa rasa sakit itu sudah privilege.”

5. Teori Kurva: Mengapa Menjadi Medioker Itu Tidak Apa-apa

Alex memiliki pandangan unik tentang kesuksesan. Ia membagi manusia dalam tiga kurva: kriminal/sangat malang, medioker, dan pesohor sukses. Menurutnya, sebagian besar manusia ada di tengah—dan itu bukan aib.

“Being mediocre is fine. Menjadi medioker itu tidak apa-apa, tapi kamu bisa menjadi versi terbaik walaupun kamu medioker.”

Ia mengakui bahwa dirinya mungkin bukan penulis atau fotografer terhebat di dunia, tapi ia terus belajar dan menjadi versi terbaik bagi dirinya sendiri tanpa harus kelelahan mengejar standar orang lain.

6. Tiga Kunci Menaklukkan Dunia

Di akhir perjalanannya, Alex merumuskan tiga keahlian dasar yang menurutnya wajib dimiliki oleh siapa pun yang ingin bertahan dan bersinar di era digital:

  1. Bahasa Inggris: Pintu gerbang menuju informasi dan koneksi global.

  2. Public Speaking: Cara agar gagasan kita didengar.

  3. Storytelling: Inti dari segala bentuk komunikasi.

“Begitu kamu jago storytelling, kamu bisa ngapain aja. Karena setiap orang punya cerita yang beda.”

Penutup

Kisah Alexander Tian adalah bukti bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai di puncak kurva, melainkan seberapa tangguh kita beradaptasi di tengah perjalanan. Jangan terlalu cemas pada masa depan yang belum tentu terjadi, karena seperti kata Alex: “Hari ini adalah hadiah (present).”

Read More :  Menjadi Manusia Berkelas di Era Absurd: Seni Belajar, Menata Identitas, dan Menjemput Tanggung Jawab

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *