Siapa sangka, di balik sosok Deryansha yang kini dikenal sebagai host cerdas di kanal Kasisolusi—tempat para CEO dan pebisnis berbagi ilmu—tersimpan masa lalu yang sangat gelap.
Dalam wawancara eksklusif di kanal Suara Berkelas, mantan personel band Vierra ini membongkar rahasia hidupnya yang belum pernah diceritakan sedetail ini: dari terjebak radikalisme ekstrem hingga strategi branding jenius yang membuat Deddy Corbuzier menggelontorkan dana investasi tanpa proposal.
Berikut adalah rangkuman perjalanan “gila” Deri yang penuh pelajaran berharga.
Daftar Isi
1. Masa Kelam: “Gue Sempat Jadi Teroris Muda”

Jauh sebelum bicara soal cashflow dan marketing, Deri mengalami krisis identitas di usia 20-an. Setelah menikah pada 2016, ia berniat memperbaiki diri, namun justru salah memilih guru dan lingkungan. Ia terperosok ke dalam pemahaman agama yang ekstrem.
Bukan sekadar “hijrah biasa”, Deri mengaku ia berada di level radikal yang berbahaya. Ia membenci pemerintah, mengkafirkan orang lain, bahkan siap memegang senjata.
“Gue waktu itu menjadi sangat ekstremis… bisa dibilang teroris muda kali ya. Jokowi gue kafirin, orang tuh kalau ninggalin komentar di sosmed sesuka hati, gue gak mikir dua kali. Semua gue kafirin, negara ini enggak bener.”
Dampaknya sangat destruktif, tidak hanya bagi dirinya tapi juga keluarganya.
“Nyokap bokap gue hampir tiap hari nangis. Gue sikat aja habis. ‘Salah Mama, Papa udah haram’. Wah, kacau perjanjian gue.”
2. Titik Balik: Diselamatkan oleh Ilmu Marketing
Ini adalah bagian paling unik dari kisah Deryansha. Apa yang menyadarkannya dari radikalisme? Ternyata bukan sekadar ceramah agama, melainkan Ilmu Marketing.
Deri menyadari adanya korelasi antara marketing dan cara berdakwah. Dalam marketing, ada istilah Customer Behavior—kita harus memikirkan perasaan dan sudut pandang konsumen, bukan memaksakan kehendak produsen.
Ia menyadari bahwa sikap kerasnya dulu adalah bentuk “egoisme produsen”—merasa produk (pendapatnya) paling benar tanpa memikirkan “konsumen” (orang yang didakwahi).
“Jangan-jangan lu melakukan ‘Onani Marketing’ atau ‘Masturbasi Marketing’. Asyik sendiri. Promo aja pasti laku… Padahal produk ini laku dibelinya sama konsumen. Haknya konsumen diatur sama produsen, ini enggak fair.”
Ia menerapkan logika ini ke dalam beragamanya:
“Kalau gaya gue haram-haram-haram, kan gue asyik sendiri. Orang ngelihatnya, ‘Apaan sih?’. Sementara begitu gue belajar marketing, gue mikir: Kalau gue bilang haram, apa kata orang ya? Gimana dakwah mau nyampe? Hidup ini harus sering-sering melibati konsumen (audiens).”
3. Rahasia Investasi: “Gue Gak Pernah Bikin Proposal ke Om Deddy”
Banyak orang bertanya, bagaimana Kasisolusi bisa mendapatkan suntikan dana dari Deddy Corbuzier? Apakah Deryansha memohon dan mengajukan proposal tebal? Jawabannya: Tidak sama sekali.
Deri memegang teguh prinsip perbedaan antara Selling dan Branding.
-
Selling: Sales mengejar konsumen (lelah, sering ditolak).
-
Branding: Konsumen yang mengejar kita.
Deri membangun brand Kasisolusi dengan sangat kuat sehingga menjadi magnet. Deddy Corbuzier-lah yang datang kepadanya, bukan sebaliknya.
“Gue pertama kali bongkar di sini. Tiba-tiba tim gue dihubungi produsernya Close The Door… Itu efek bangun brand. Kitanya diam, Om Deddy-nya datang. Sombong banget gue ya? Hahaha.”
“Kalau selling, kita bikin proposal, kirim email, pitching, ngemis-ngemis. Tapi kalau bangun brand, investornya yang datang. Itu the real magnet.”
Hasilnya? Valuasi Kasisolusi melonjak drastis.
“Kenaikannya after invest itu 10 kali lipat. Masyaallah.”
4. Pelajaran untuk Pemula: Hindari Perang Harga, Mulai dari Digital
Bagi anak muda atau pemula yang ingin memulai bisnis, Deri memberikan peringatan keras terhadap narasi “Mulai Aja Dulu” tanpa ilmu. Menurutnya, banyak pemula bangkrut karena masalah cashflow—uang keluar duluan untuk stok barang, tapi uang masuknya macet.
Saran Deri sangat pragmatis: Jika modal tipis, jangan jual barang fisik dulu. Jual Produk Digital.
“Kalau main rumahan, isunya cashflow. Uang keluar lu lebih cepat dibanding uang masuk… Mendingan lu cari yang minim risiko, yang bukan melulu fisik. Produk digital, ebook, kelas online. Uang lu keluarnya enggak di depan.”
Kesimpulan: Pentingnya “Isi Kepala”
Perjalanan Deriansha mengajarkan bahwa perubahan nasib—dari seorang yang radikal menjadi pengusaha sukses—dimulai dari perubahan mindset. Ia tidak hanya belajar cara mencari uang, tetapi belajar cara memahami manusia (lewat marketing) dan cara memosisikan diri (lewat branding).
Seperti yang ia kutip di akhir wawancara tentang esensi berbagi ilmu:
“Ada tiga amalan yang enggak akan terputus… salah satunya ilmu yang bermanfaat. Ketika lu meninggal, tapi ilmu itu terus diamalkan orang, tiba-tiba timbangan amal lu berat pas di akhirat. Itu motivasi gue.”
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti “Dikit-Dikit Healing, Dikit-Dikit Trauma”: Apakah Kita Generasi yang Lembek atau Justru Terlalu Banyak Tahu?