Bagi banyak orang, usia 60-an sering kali dianggap sebagai masa “senja”—waktu untuk berhenti berharap pada romansa dan sekadar menghabiskan hari dengan tenang. Namun, bagi Prof. Diah Kristina, usia 65 bukanlah akhir, melainkan sebuah gerbang menuju babak paling manis dalam hidupnya.
Kisah yang dibagikan dalam kanal YouTube Rory Asyari ini bukan sekadar cerita tentang pernikahan lansia, melainkan sebuah manifesto tentang ketangguhan seorang wanita yang berhasil mengubah luka menjadi kebijaksanaan.
Daftar Isi
1. Menempuh 100 KM Sambil Menahan Luka

Sebelum menemukan kebahagiaannya hari ini, Prof. Diah adalah definisi dari “Wanita Baja”. Sebagai tulang punggung keluarga (breadwinner), beliau membesarkan empat anak di tengah kondisi pernikahan yang secara finansial dan emosional tidak berfungsi.
Salah satu fragmen paling menyayat hati adalah ketika beliau harus menempuh perjalanan (commuting) dari Temanggung ke Solo selama 2,5 jam sekali jalan.
“Saya berdiri di bus yang penuh sesak selama 100 kilometer dalam kondisi hamil 8 bulan. Tidak ada yang memberi tempat duduk,” kenangnya.
Bukannya meratapi nasib, beliau justru menertawakan jalan yang berkelok-kelok itu, menyamakannya dengan jalan hidupnya sendiri. Itulah kekuatan Prof. Diah: kemampuan untuk berkontemplasi di tengah badai.
2. Strategi “Tiarap”: Sukses dalam Senyap

Menjadi wanita yang terlalu cerdas dan menonjol sering kali mendatangkan rasa tidak nyaman bagi lingkungan sekitarnya. Prof. Diah mengalami kecemburuan dari rekan sejawat karena prestasinya sebagai penerjemah menteri hingga presiden.
Alih-alih membalas dengan kesombongan, beliau memilih strategi “Tiarap”. Beliau menarik diri dari sorotan panggung, namun tetap bekerja dalam diam. Di balik ketenangannya, beliau sangat produktif menghasilkan buku dan karya ilmiah. Pelajarannya jelas: Jangan biarkan ego orang lain memadamkan apimu; cukup kecilkan volumenya, tapi tetaplah menyala.
3. Doa di Jabal Rahmah dan “Mutiara” yang Kembali

Setelah menjanda selama 16 tahun, sebuah doa terucap di Jabal Rahmah pada tahun 2019. Menariknya, Prof. Diah awalnya berdoa untuk jodoh anak-anaknya, namun di akhir doa, beliau menyelipkan permintaan untuk dirinya sendiri.
Tak disangka, Tuhan menjawabnya dengan cara yang sangat sinematik. Sosok itu adalah Pak Mariadi, teman kuliahnya 40 tahun yang lalu. Dulu, Pak Mariadi adalah pria pemalu yang selalu menyediakan kursi di sampingnya untuk Diah, namun tak pernah berani mengungkapkan perasaan karena Diah sudah memiliki kekasih.
Setelah empat dekade terpisah oleh garis takdir yang berbeda, mereka dipertemukan kembali. Pak Mariadi mengirimkan lagu “Mutiara yang Hilang” sebagai kode bahwa cintanya tidak pernah benar-benar padam.
4. Menikah di Usia yang Tepat

Prof. Diah memberikan perspektif baru tentang pernikahan. Baginya, “menikah di usia yang tepat” jauh lebih penting daripada “menikah cepat”.
Di usia 65, pernikahan bukan lagi soal gairah yang meledak-ledak atau ego untuk memiliki, melainkan soal companionship (persahabatan).
-
Tentang Kompromi: “Jangan berusaha mengubah orang yang sudah hidup 68 tahun dengan gayanya sendiri. Terimalah,” pesannya.
-
Tentang Cinta: Beliau percaya cinta wanita itu bertumbuh karena perhatian, sementara laki-laki harus benar-benar mencintai dari awal agar komitmennya tidak goyah.
5. Pesan untuk Jiwa yang Sedang Terluka
Bagi mereka yang saat ini berada dalam hubungan yang tidak sehat atau merasa kesepian, Prof. Diah memberikan pesan penutup yang kuat:
-
Stop the Bleeding: Beranilah mengambil keputusan besar jika hubunganmu hanya mendatangkan luka. Jangan biarkan “pendarahan” emosional berlangsung selamanya.
-
Know Thyself: Kenali dirimu. Fokuslah pada potensi dan prestasi. Saat kamu mencintai dirimu sendiri, dunia akan mulai menghargaimu dengan cara yang berbeda.
-
Cinta Tidak Pernah Kadaluwarsa: Jangan pernah merasa perjalanan cintamu sudah selesai hanya karena usia atau kegagalan masa lalu.
Kisah Prof. Diah Kristina adalah pengingat bahwa Tuhan adalah penulis skenario terbaik. Terkadang, Dia membiarkan kita melewati jalan yang berkelok dan menanjak, hanya untuk memastikan kita siap saat “Mutiara” yang hilang itu akhirnya kembali ke pelukan kita.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Seni Memulihkan Diri di Tengah Dunia yang Berisik Ala Coach Anez
Response (1)