Di era di mana popularitas sering diukur dari jumlah pengikut dan intensitas unggahan di media sosial, Marissa Anita justru memilih jalan sunyi yang menyegarkan. Aktris, jurnalis, dan pembelajar seumur hidup ini membagikan perspektifnya tentang bagaimana tetap tenang, waras, dan bahagia di dunia yang semakin bising.
Daftar Isi
1. Memutus Rantai Kecemasan Digital

Bagi banyak orang, Instagram dan TikTok adalah jendela dunia. Namun bagi Marissa, itu bisa menjadi sumber kecemasan yang tidak perlu. Ia secara sadar memilih untuk tidak memiliki akun di platform tersebut.
“Manusia yang tidak mampu memperhatikan sesuatu atau fokus untuk waktu yang lama itu sudah pasti dia akan cemas. Makanya sekarang tuh banyak banget orang ngomong anxiety… Cobalah kita lihat seberapa intens aktivitas kita di media sosial.”
Marissa percaya bahwa membandingkan diri dengan kehidupan “fabulous” orang lain di media sosial hanya akan menumbuhkan rasa kurang. Dengan menjauh dari visualisasi yang melelahkan tersebut, ia menjaga kesehatan mentalnya tetap stabil.
2. Teater sebagai Obat Luka Batin
Transisi karier Marissa dari jurnalisme kembali ke akting bukan sekadar urusan profesional, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk menyembuhkan trauma masa lalu. Mengutip buku The Body Keeps the Score, ia merasa tubuhnya secara alami mencari cara untuk mengurai emosi yang selama ini terpendam.
“Tampaknya yang terjadi kenapa aku itu tiba-tiba bisa menyukai seni peran atau teater, kayaknya tubuhku itu secara alami mencari obatnya sendiri.”
Baginya, akting adalah medium di mana ia diizinkan untuk merasa, menangis, dan marah secara jujur—hal yang mungkin dulu sulit dilakukan karena tuntutan untuk selalu “bersikap baik.”
3. Filosofi Syukur yang Disiplin
Marissa tidak percaya pada kebahagiaan instan. Baginya, rasa syukur adalah otot yang harus dilatih setiap hari secara disiplin. Ia mempraktikkan “tiga syukur harian” untuk memastikan hatinya tetap ternutrisi.
“Bersyukur itu adalah salah satu kunci kebahagiaan… Kalau misalnya orang tidak bisa bersyukur atau tidak bisa menemukan hal-hal yang dia syukuri, dia nggak bisa bahagia.”
Ia menekankan bahwa kebahagiaan tidak datang dari pencapaian besar semata, melainkan dari hal-hal kecil seperti masih bisa bernapas atau menikmati waktu berkualitas dengan sahabat.
4. Mengubah Luka Menjadi Cahaya
Setiap orang punya penderitaan, namun Marissa memilih untuk tidak menjadi pahit (bitter) karena pengalaman pahit tersebut. Ia melihat trauma antar generasi (intergenerational trauma) sebagai pelajaran untuk memahami diri sendiri lebih dalam.
“Hidup itu cuma satu, cuma sekali lu dikasih kesempatan ini. Lu mau menjadi orang yang pahit atau lu mau menjadi orang yang terus tumbuh berkembang dari segala macam asam garam kehidupan?” [00:34:43]
Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika ia berterima kasih kepada dirinya sendiri karena tidak pernah menyerah, seberat apa pun tantangan yang dihadapi.
5. Menjalani Hidup yang “Pelan”
Kunci ketenangan Marissa juga terletak pada rutinitasnya. Ia adalah penganut slow morning, di mana ia tidak langsung menyentuh ponsel setelah bangun tidur. Sebaliknya, ia memilih berinteraksi dengan makhluk hidup di sekitarnya dan bekerja dengan tenang di meja tulisnya.
Di akhir percakapan, Marissa memberikan pesan yang kuat bagi setiap orang yang merasa sedang berjuang sendirian:
“Thank you karena tidak pernah menyerah terhadap diri lu sendiri. Karena lu selalu cari jalan, seberapa pun sedihnya kita.”
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Menjadi “Rumah” Sebelum Terlambat: Seni Menjadi Teman bagi Anak di Era Modern
Response (1)