Di tengah riuhnya perbedaan aliran dalam Islam, sering kali kita mendengar sebuah pernyataan yang cukup menggetarkan: “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di neraka, dan hanya satu yang selamat.” Pernyataan ini kerap dijadikan senjata oleh sebagian kelompok untuk mengklaim bahwa hanya merekalah penghuni surga, sementara yang lain tersesat.
Namun, benarkah demikian? Syekh Muhammad Alfuli dalam kajiannya mengupas tuntas fenomena ini dengan sudut pandang yang menyejukkan dan penuh ilmu.
Daftar Isi
1. Menakar Kesahihan Hadis: Benarkah Rasulullah Bersabda Demikian?

Langkah pertama yang harus dilakukan seorang muslim adalah memastikan apakah sebuah perkataan benar-benar berasal dari Nabi SAW. Syekh Alfuli mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa hadis ini memiliki masalah besar dari segi sanad (rantai perawi).
-
Kritik Ulama Besar: Imam besar seperti Ibnu Hazm menyatakan hadis ini tidak sahih secara isnad.
-
Hadis Palsu (Maudu): Bahkan ulama Syafi’iyah seperti Ahmad bin Ali bin Muthair menyebut semua hadis tentang 73 golongan adalah maudu atau palsu.
-
Kritik Matan: Imam Syaukani memberikan kutipan emas: “Bagaimana mungkin (hadis ini) dijadikan dasar dalam perkara besar seperti penetapan kebinasaan atas umat yang penuh rahmat ini?”.
2. Tafsir yang Luas: Siapa “Satu Golongan” Tersebut?

Jika kita menganggap hadis ini sahih, Syekh Alfuli menjelaskan bahwa maknanya sering kali disalahpahami oleh mereka yang hanya membaca terjemahan tekstual.
-
Masuk Surga Tanpa Hisab: Menurut Al-Khattabi, 72 golongan lainnya tetap masuk surga, namun mereka harus melewati proses hisab yang panjang. Sementara “satu golongan” yang selamat adalah mereka yang istimewa (orang-orang salih pilihan) yang masuk surga tanpa hisab.
-
Mayoritas Umat (As-Sawadul A’zam): Tafsir lain menyebutkan bahwa “satu golongan” yang selamat justru adalah mayoritas umat Islam (99%) yang mencakup Asy’ariyah, Maturidiyah, Salafi, Sufi, dan lainnya. Yang masuk neraka hanyalah segelintir (1%) yang penyimpangannya sudah sangat ekstrem.
3. Akidah, Fikih, dan Jebakan “Manhaj”
Sering kali klaim “golongan selamat” hanya difokuskan pada perdebatan akidah atau ilmu kalam yang rumit. Syekh Alfuli mengingatkan bahwa para sahabat Nabi pun pernah berbeda pendapat dalam masalah yang bersifat akidah, namun mereka tetap bersatu.
Imam Ibnu Taimiyah sendiri dalam Majmu’ Al-Fatawa menyatakan:
“Para sahabat telah berselisih dalam masalah-masalah ilmiah yang bersifat akidah… namun semua itu tetap disertai dengan terjaganya kebersamaan dan persatuan.”
Artinya, perbedaan pendapat mengenai di mana Allah atau apakah Nabi melihat Tuhan saat Mi’raj tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menyesatkan.
4. Hakikat Keselamatan: Takwa, Bukan Label

Syekh Alfuli menegaskan bahwa keselamatan di akhirat tidak ditentukan oleh nama organisasi atau label manhaj, melainkan oleh ketakwaan.
Imam Ash-Shan’ani menjelaskan dengan sangat indah:
“Mereka (golongan yang selamat) adalah orang-orang yang mengikuti Rasulullah dalam ucapan dan perbuatan, dari golongan mana pun mereka berasal.”
Faktanya, di setiap golongan ada orang yang sangat bertakwa dan ada pula orang yang berperilaku buruk. Keselamatan adalah milik individu-individu yang bertakwa, bukan milik sebuah “merk” kelompok.
5. Penutup: Kita Tidak Benar-Benar Berselisih
Sebagai penutup yang menyentuh, beliau mengutip Amru bin Murrah. Ketika ditanya tentang perselisihan umat, Amru bertanya balik:
-
“Apakah mereka berselisih bahwa Muhammad adalah Rasulullah?” (Tidak)
-
“Apakah mereka berselisih tentang Al-Qur’an?” (Tidak)
-
“Apakah mereka berselisih tentang Ka’bah sebagai kiblat dan shalat lima waktu?” (Tidak)
Selama kita masih sepakat pada rukun-rukun utama Islam, maka pada hakikatnya kita adalah satu tubuh. Syekh Alfuli mengajak kita semua untuk berhenti memonopoli kebenaran dan mulai merajut kembali ukhuwah islamiah demi kebangkitan umat.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Menjadi “Jangkar” di Tengah Badai: Memahami Dinamika Favorite Person dalam BPD
Response (1)