Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang begitu mempesona di awal, namun perlahan membuat Anda merasa “gila”, tidak berharga, dan kehilangan jati diri? Bisa jadi, Anda sedang berhadapan dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Dalam podcast Interaksi, Coach Indra Sugiarto membedah realita pahit di balik gangguan kepribadian ini. NPD bukan sekadar “narsis” biasa yang suka berswafoto, melainkan sebuah gangguan mental yang sangat toksik bagi orang di sekitarnya.
Daftar Isi
1. Topeng Sempurna dan Ketiadaan Empati

Seorang narsistik adalah aktor yang luar biasa. Mereka mampu memakai “topeng” agama, kebijaksanaan, atau kebaikan untuk menjerat korbannya. Namun, di balik itu semua, terdapat lubang besar: ketiadaan empati.
“Narsistik itu Noticeable (terdeteksi) kalau sudah ada komitmen. Masyarakat tidak ada yang tahu betapa dia tidak bertanggung jawab, karena di depan publik citranya sangat positif.” [00:09:43]
Ketiadaan empati ini membuat mereka menjadi sosok “raja tega”. Mereka bisa menelantarkan anak istri atau tidak membayar gaji karyawan tanpa merasa bersalah sedikit pun.
2. Menjadikan Emosi Orang Lain sebagai “Bensin”

Salah satu istilah kunci dalam dunia narsisme adalah Fuel (bahan bakar). Seorang narsistik butuh memvalidasi keberadaan dirinya melalui reaksi orang lain.
“Narsistik hidup bahan bakarnya adalah emosi orang lain. Entah itu pujian atau tangisan. Kalau pasangannya sampai menangis kecarian, bagi dia itu pesan: ‘Gue sepenting itu ya sampai bisa bikin lu hancur’.”
Inilah alasan mengapa mereka sering melakukan silent treatment atau memicu pertengkaran. Mereka menikmati sensasi ketika orang lain memohon-mohon atau marah besar karena ulah mereka.
3. Incaran Utama: High Value & Empath

Narsistik tidak mengincar orang sembarangan. Mereka sering kali menargetkan orang-orang dengan nilai tinggi (high value people) atau orang dengan empati luar biasa (empath).
-
Empath: Menjadi sasaran karena mereka cenderung ingin “menyelamatkan” orang lain.
-
High Value: Menjadi sasaran karena narsistik ingin mengeksploitasi aset, uang, atau status sosial korbannya.
4. Strategi “Main Cantik” untuk Lepas

Keluar dari jeratan NPD tidak semudah mengucap kata cerai atau putus. Coach Indra memperingatkan bahwa menghadapi narsistik membutuhkan strategi yang matang karena mereka sangat manipulatif, bahkan saat meminta maaf.
“Everything about narcissism is fake. Salah satunya adalah permintaan maaf palsu (fake apologies). Dia bisa minta maaf hanya untuk menyiapkan diri membuangmu dalam kondisi terburuk.”
Langkah strategis yang disarankan:
-
Jangan Reaktif: Hindari memaki atau memukul balik, karena mereka akan merekamnya sebagai bukti bahwa Andalah yang gila (perilaku ini disebut reactive abuse).
-
Dokumentasi Diam-diam: Simpan semua bukti chat dan rekaman di tempat yang aman (seperti Google Drive pribadi yang tidak mereka ketahui).
-
Amankan Aset: Sebelum bicara soal perpisahan, pastikan urusan finansial dan hak asuh anak sudah Anda amankan secara hukum.
5. Harapan untuk Pulih
Apakah narsistik bisa sembuh? Secara saintifik, kemungkinannya sangat kecil karena mereka jarang merasa dirinya bermasalah. Maka, fokus utama harus dialihkan kembali ke diri sendiri.
“Daripada berharap narsistik sembuh, taruh energi itu ke dirimu. Kamu juga perlu sembuh (healing), kalau tidak kamu akan menarik narsistik lain ke dalam hidupmu.”
Menjadi perempuan atau laki-laki yang cerdas dan berdaya secara finansial adalah kunci perlindungan diri. Pendidikan tentang parenting dan kesehatan mental bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar mata rantai trauma ini tidak menurun ke generasi berikutnya.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Berdamai dengan “Luka” Masa Lalu: Manifesto Baru Menuju Kebebasan Finansial