Pernahkah Anda merasa bahwa uang yang masuk ke rekening hanya “numpang lewat”? Atau mungkin Anda merasa terjebak dalam siklus utang yang tak kunjung usai? Dalam sebuah perbincangan mendalam di kanal YouTube Folknomics, pakar keuangan Prita Ghozie membagikan strategi “mentalitas pemenang” untuk menguasai uang sebelum uang menguasai Anda.
Berikut adalah poin-poin emas yang bisa mengubah cara pandang Anda terhadap finansial:
Daftar Isi
1. Masalah Keuangan Bukan Tentang Angka, Tapi Tentang Usia
Prita menjelaskan bahwa setiap fase hidup memiliki “musuhnya” masing-masing. Memahami posisi Anda adalah kunci untuk mencari solusi:
-
Usia 20-an (Fase Kehilangan Peluang): Masalah utamanya bukan utang, tapi ketidaktahuan. “Di usia 20-an, major problem yang aku perhatiin tuh malah bukan utang, tetapi they do not know how to manage their money,”. Mereka sering terjebak present bias—mementingkan gaya hidup hari ini dan melupakan investasi masa depan.
-
Usia 30-an (Fase Sandwich): Di sinilah cicilan mulai menumpuk karena kebutuhan rumah tangga dan tekanan menjadi sandwich generation memuncak.
-
Usia 40-an (Fase Kritis Pensiun): Banyak yang lupa bahwa pensiun tinggal 10 tahun lagi. Ini adalah waktu terakhir untuk serius membangun dana hari tua agar tidak merepotkan anak kelak.
2. Mantra “Financial Reset”: Catat, Budget, Evaluasi
Jangan muluk-muluk memikirkan saham atau kripto jika langkah dasar ini belum dilakukan. Prita menyarankan tiga langkah rutin yang disebutnya sebagai Financial Reset:
-
Catat: Seperti journaling, mencatat pengeluaran membantu Anda mengenali pola perilaku diri sendiri.
-
Budget: Gunakan alokasi 50% (Living), 30% (Saving), 20% (Playing). Ingat, urutannya jangan dibalik!.
-
Evaluate: Jujurlah pada diri sendiri, apakah Anda sudah mempraktikkan apa yang Anda janjikan pada dompet Anda?.
3. Cinta Saja Tidak Cukup: 5 Pertanyaan Keuangan untuk Pasangan
Sebelum melangkah ke pelaminan, Prita menegaskan pentingnya “kencan finansial”. Salah satu kutipannya yang menarik: “Manusia itu tetap disuruh usaha,”. Jangan hanya mengandalkan “rezeki sudah ada yang ngatur” tanpa rencana yang jelas.
Diskusikan lima hal ini: Emosi terhadap uang, pola komunikasi (terbuka/tertutup), mimpi finansial (rumah/sekolah anak), pembagian tugas manajer keuangan, hingga keterbukaan soal utang dan bantuan ke keluarga besar.
4. Definisi “Pedas” Kemandirian Finansial
Prita memberikan tamparan realitas bagi kita semua mengenai apa itu kemandirian finansial yang sesungguhnya. Ia menyatakan bahwa Financial Independence adalah:
“Tidak menjadikan orang tua kita dana darurat, tidak menjadikan anak kita kelak dana pensiun, dan tidak menjadikan teman atau saudara kita sebagai paylater.”
Prinsip ini sangat krusial agar kita tidak menciptakan mata rantai sandwich generation baru bagi generasi setelah kita.
5. Pesan untuk Pejuang UMR
Bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, Prita memberikan tiga nasihat utama untuk bertahan dan naik kelas:
-
Haramkan Pinjol dan Paylater: Jangan menambah beban dengan bunga tinggi.
-
Fokus Prioritas: Tahan keinginan gaya hidup yang belum mampu dibeli.
-
Gali Talenta: Manfaatkan teknologi untuk mencari penghasilan tambahan berdasarkan talenta yang diberikan Tuhan.
Kesimpulan
Keuangan bukan hanya soal berapa banyak yang Anda hasilkan, tapi seberapa bijak Anda mengelolanya. Seperti kata Prita, “You manage your lifestyle, then you can manage your money. As simple as that,”.
Mulailah hari ini dengan mencatat, karena masa depan yang tenang tidak datang dari keberuntungan, melainkan dari persiapan yang matang.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Menavigasi Uang di Tahun 2026: Strategi Bertahan dari Guncangan Ekonomi dan Ancaman AI