Pasar saham Indonesia belakangan ini layaknya roller coaster. Di balik layar hijau dan merah yang berkedip di layar ponsel kita, ada pertarungan strategi antara raksasa investasi dunia, emiten konglomerat, dan regulator.
Dalam sebuah diskusi mendalam, praktisi pasar modal Andry Hakim membongkar apa yang sebenarnya terjadi di dapur bursa kita.
Daftar Isi
1. Investasi atau Judi? Semuanya Ada di Kepala Anda

Banyak orang takut masuk ke bursa saham karena menganggapnya sebagai meja judi. Namun, Andry Hakim menegaskan bahwa label “judi” atau “investasi” itu tidak datang dari instrumennya, melainkan dari cara kita berpikir.
“Saham itu bisa jadi judi atau investasi, itu tergantung pola pikir kita. Kalau mindset berjudi, ya kita tebak-tebakan besok naik atau turun. Kalau investasi, ya turun beli lagi karena kita tahu perusahaannya bagus.” [00:00:00]
2. Drama MSCI: Ketika “Kebohongan” Memicu Crash

Salah satu pemicu utama gejolak pasar adalah indeks MSCI (Morgan Stanley Capital Index). Bagi emiten besar, masuk ke indeks ini adalah “tiket emas” untuk mendapatkan likuiditas raksasa dari asing. Namun, ada harga yang harus dibayar: Transparansi.
Andry menjelaskan bahwa MSCI merasa kecewa karena banyak emiten yang tidak jujur soal porsi saham publik (free float) mereka. Banyak saham yang diklaim milik masyarakat, ternyata masih dikuasai oleh “tangan-tangan” internal melalui nomini.
“MSCI itu ibarat sudah sering dibohongi. Di pembukuan tulisnya masyarakat 15%, tapi riilnya cuma 3%. Barangnya dikekep sendiri supaya harganya gampang naik.” [00:09:05]
Akibatnya, ketika bursa dianggap lambat membenahi aturan ini, MSCI memberikan “hukuman” dengan tidak memasukkan emiten baru, yang memicu aksi jual massal dan efek domino margin call.
3. Kritik Pedas untuk Aturan Bursa

Andry juga menyoroti kebijakan regulator yang dianggap seringkali tidak berpihak pada pertumbuhan aset investor. Salah satu yang paling dikritik adalah kebijakan suspensi (penghentian perdagangan sementara).
“Di saham Indonesia itu rugi gampang, kalau untung dibatasin. Kalau naik dikit-dikit di-suspend, kalau turun terus malah didiamkan. Harusnya kita dapat aliran dana triliunan masuk, tapi dicegah karena suspensi.” [00:23:11]
4. Strategi “Serok” Saat Badai
Saat pasar merah membara, mayoritas investor ritel panik. Namun bagi mereka yang mengerti nilai sebuah perusahaan, harga jatuh adalah diskon besar. Bahkan perusahaan sekelas BCA pun melakukan buyback triliunan rupiah saat harga mereka turun.
“Kalau kita beli perusahaan bagus saat turun, itu bukan musibah. Turun itu adalah berkah karena kita bisa beli lebih banyak di harga yang lebih murah.” [00:14:37]
5. Rahasia Melipatgandakan Kekayaan
Bagaimana seseorang bisa membangun portofolio hingga angka triliunan? Kuncinya bukan pada keberuntungan semalam, melainkan pada pemahaman tentang sistem dobel.
“Kekayaan itu sebenarnya cuma sistem dobelin uang. Rp100 juta kalau lu bisa dobelin tiga kali sudah jadi Rp800 juta. Masalahnya, orang maunya bulan depan sudah kaya, padahal proses itu butuh waktu.” [01:01:20]
Kesimpulan: Menjadi Pemilik, Bukan Penonton
Pesan utama dari Andry Hakim bagi para investor adalah memiliki rasa kepemilikan terhadap perusahaan yang dibeli. Jangan hanya menjadi penonton yang panik saat harga turun, tetapi berpikirlah seperti pemilik bisnis (owner).
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Seni Menutup Telinga: Mengapa Kita Harus Berhenti Hidup demi “Kata Orang”
Jika Anda ingin memahami lebih dalam tentang dinamika pasar ini, tonton video lengkapnya di sini:
Response (1)