Mengapa Kita Ramah ke Orang Lain tapi “Galak” ke Orang Tua? Membedah Luka yang Tak Terlihat

Mengapa Kita Ramah ke Orang Lain tapi Galak ke Orang Tua
Mengapa Kita Ramah ke Orang Lain tapi Galak ke Orang Tua

Pernahkah Anda merasa menjadi orang yang paling ceria dan sabar di depan teman-teman, namun berubah menjadi sosok yang mudah tersinggung dan pemarah saat masuk ke pintu rumah? Fenomena ini bukan sekadar perilaku buruk, melainkan sinyal adanya dinamika psikologis yang lebih dalam antara anak dan orang tua.

Dalam sebuah diskusi mendalam, pakar psikologi mengupas mengapa rumah yang seharusnya menjadi “pelabuhan” justru sering menjadi tempat terjadinya ledakan emosi.

1. Rumah Sebagai Tempat “Melepas Topeng”

Mengapa Kita Ramah ke Orang Lain tapi Galak ke Orang Tua
Mengapa Kita Ramah ke Orang Lain tapi Galak ke Orang Tua

Bagi banyak orang, bersikap ramah kepada orang lain adalah bentuk adaptasi sosial atau bahkan pelarian. “Temu teman itu adalah sebuah healing, makanya bisa ramah dan sukacita”.

Di luar, kita memakai topeng kesantunan. Namun di rumah, saat rasa tidak nyaman itu muncul, semua emosi yang terpendam di luar sering kali tumpah kepada orang-orang terdekat.

2. Akar Masalah: Pengasuhan yang Kurang Tepat

Mendidik anak laki-laki
Mendidik anak laki-laki

Seringkali, kemarahan anak adalah gema dari masa lalu. “Terjadi sebuah proses yang kurang tepat dalam pengasuhan… hal paling penting adalah memberikan rasa nyaman”.

Ketika orang tua gagal memberikan rasa aman sejak dini—misalnya karena terlalu sibuk dengan karier atau kurang menerima kondisi anak apa adanya—anak tumbuh dengan “kekosongan” yang kemudian bermanifestasi menjadi sikap defensif dan mudah marah saat dewasa.

3. Lingkaran Trauma yang Tak Disadari

Dampak negatif memanjakan anak
Dampak negatif memanjakan anak

Menariknya, banyak orang tua yang bersikap keras sebenarnya adalah korban dari masa lalu mereka sendiri. Mereka sadar tidak ingin menjadi seperti orang tua mereka yang galak, namun tanpa sadar pola itu berulang. “Sadar itu cuma 20%, bawah sadar 70%” .

Read More :  Bagaimana Mengetahui Jika Seorang Pria Menyukai Kamu Lewat Pesan Teks?

Banyak orang tua yang menuntut anaknya terlalu keras karena mereka sendiri pernah terluka. Sebagai contoh, orang tua memaksa anak pintar karena mereka pernah dihina di masa lalu.

“Papa mau usahakan biaya semahal apa pun untuk kamu bisa pintar, karena dihina itu enggak enak banget, Nak”. Niatnya adalah kasih sayang, namun caranya justru melukai.

4. Bagaimana Memutus Rantainya?

Anak-anak belajar
Anak-anak belajar

Jika Anda merasa terjebak dalam situasi ini, perubahan bisa dimulai dari diri sendiri sebagai anak yang sudah memiliki kesadaran:

  • Jadilah Anak yang Asertif: Mulailah berkomunikasi dengan lembut, meski orang tua membalas dengan nada tinggi. “Coba kita yang menenangkan… dengan sedikit lelucon supaya situasi tidak tegang”

  • Sembuhkan Diri Sendiri: Sebelum memperbaiki hubungan dengan orang tua, sembuhkan dulu luka batin Anda. “Keluarkan semua luka-lukanya, jangan menyalahkan orang tua”

  • Pahami Niat di Balik Perilaku: Ingatlah bahwa “Orang tua itu sejatinya sayang banget, hanya saja terlalu banyak orang tua yang tidak tahu caranya”

Penutup

Menciptakan keharmonisan keluarga adalah perjalanan panjang. Jangan berharap orang tua berubah dengan cepat karena faktor usia dan pola pikir yang sudah mengakar. Namun, dengan memulai perubahan dari diri sendiri dan memperlakukan rumah dengan kelembutan, kita sedang mengupayakan agar “keluarga kita di dunia ini bisa menjadi surga dunia”

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Mengapa “Mencintai” Saja Tidak Cukup: Mengasah Kapasitas Berpikir untuk Hidup dan Asmara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *