Mengapa “Mencintai” Saja Tidak Cukup: Mengasah Kapasitas Berpikir untuk Hidup dan Asmara

Cara Kita Mencintai Tak Pernah Sama
Cara Kita Mencintai Tak Pernah Sama

Banyak orang percaya bahwa keputusan besar dalam hidup—termasuk dalam urusan moral dan cinta—hanyalah masalah “niat baik” atau “hati nurani”. Namun, dalam sebuah perbincangan mendalam di kanal Suara Berkelas, Kania, penulis buku Makanya Mikir, membedah sudut pandang yang sering terlupakan: Kapasitas Berpikir.

Tanpa kapasitas otak yang memadai, niat baik sekalipun bisa berujung pada kekacauan. Berikut adalah rangkuman esensi pemikiran Kania tentang mengapa kita perlu “mengobati” cara berpikir kita.

1. Otak Bukan Blender Ajaib: Analogi Kapasitas

Mencintaimu dengan tulus
Mencintaimu dengan tulus

Pernahkah Anda melihat seorang pejabat atau pemimpin yang mengambil keputusan yang tampak sangat ceroboh? Kania menjelaskan hal ini dengan analogi yang sangat membumi.

“Itu kayak kita punya blender cuma muat 5 buah, tapi kita masukin tiba-tiba 5.000 buah. Ya meledak blendernya,” ujar Kania.

Banyak orang gagal membuat keputusan yang bertanggung jawab bukan karena mereka “jahat”, melainkan karena kapasitas berpikirnya belum dibangun untuk mengolah ratusan variabel sekaligus. Pendidikan kognitif dan moral harus berjalan beriringan; moralitas tanpa kapasitas berpikir yang kuat akan sulit diwujudkan dalam tindakan nyata yang berdampak luas.

2. “Bucin” yang Rasional: Cinta Bukan Berarti Berhenti Berpikir

Mencintai Gadis
Mencintai Gadis

Salah satu bagian paling menarik dari wawancara ini adalah ketika Kania membahas tentang hubungan romantis. Ada stigma bahwa orang yang terlalu logis akan menjadi pasangan yang “kering” dan dingin. Kania justru membalikkan logika tersebut.

Bagi Kania, berpikir sebaik mungkin adalah bentuk tertinggi dari mencintai.

  • Keputusan yang Sehat: Berpikir logis memastikan kita tidak mengambil keputusan yang merugikan atau menyakiti pasangan.

  • Manajemen Emosi: Dengan kapasitas berpikir yang baik, seseorang tidak akan menjadi pasangan yang “ngambek” tanpa alasan jelas atau memberikan silent treatment.

  • Diskusi Kepala Dingin: Logika memungkinkan pasangan untuk duduk bersama dan menyelesaikan konflik tanpa harus meledak-ledak secara emosional.

“Justru kemampuan berpikir dengan baik adalah salah satu pondasi kompetensi dalam mencintai,” tegasnya.

3. Navigasi di Lautan Lepas

Memutuskan Mencintai
Memutuskan Mencintai

Hidup tidak pernah bisa kita kendalikan sepenuhnya. Kania mengibaratkan hidup seperti kapal di lautan lepas yang berombak. Kita tidak bisa menuntut lautan untuk tenang, yang bisa kita lakukan adalah memperlengkapi diri dengan alat navigasi.

Alat navigasi itu adalah fondasi berpikir. Kania menyayangkan tren saat ini di mana orang ingin langsung belajar hal-hal canggih (seperti AI atau coding) tanpa memiliki logika dasar yang solid. Padahal, tanpa fondasi, semua proses belajar di masa depan akan terhambat.

Kesimpulan: Kembali ke Fondasi

Melalui bukunya, Kania ingin menyampaikan bahwa berpikir bukan hanya milik kaum akademis atau elitis. Berpikir adalah keterampilan dasar yang dibutuhkan setiap manusia—apakah itu untuk menjadi warga negara yang baik, pekerja yang kompeten, hingga pasangan yang dewasa.

“Makanya mikir” bukan sekadar teguran, melainkan sebuah ajakan untuk memperbesar “kapasitas blender” kita agar mampu mengolah kompleksitas kehidupan dengan lebih bijak.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Mengapa Menjadi “Warga Konoha” Tidak Sedang Baik-Baik Saja? Dampak Politik di Balik Piring Makan Kita

Read More :  Lelaki yang Serius Ingin Menikahimu, Akan Memperjuangkanmu Hingga Restu Ditangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *