Mengapa Menjadi “Warga Konoha” Tidak Sedang Baik-Baik Saja? Dampak Politik di Balik Piring Makan Kita

Warga Konoha
Warga Konoha

Istilah “Warga Konoha” sering kali digunakan netizen Indonesia untuk menggambarkan realitas kehidupan yang penuh ironi. Namun, di balik humor tersebut, ada kenyataan pahit yang jarang terungkap: setiap aspek kehidupan kita—mulai dari harga makanan hingga bencana alam—adalah produk dari keputusan politik yang diambil di ruang-ruang rapat tertutup.

Dalam sebuah diskusi mendalam di kanal SUARA BERKELAS, terungkap bahwa banyak masalah yang kita anggap sebagai “nasib” atau “musibah alam” sebenarnya adalah hasil dari kebijakan yang kurang tepat.

1. Pajak yang Naik: Kreativitas yang Menjerat

Warga Konoha
Warga Konoha

Banyak warga yang marah kepada pemerintah daerah ketika Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) naik berkali-kali lipat. Namun, narator menjelaskan bahwa ini sering kali merupakan efek domino dari kebijakan pusat.

“Pemerintah daerahnya diminta untuk kreatif mencari uang… transfer ke daerahnya dipotong signifikan. Gimana mau membiayai program? Yang paling gampang ya naikin pajak PBB.”

Artinya, kemarahan warga sering kali salah alamat. Kita mengkritik bupati atau wali kota, padahal mereka sedang terjepit oleh pemotongan anggaran dari pusat.

2. Bencana Alam: 50% Alam, 50% “Buatan Manusia”

Ketika banjir bandang atau tanah longsor terjadi, kita sering menyebutnya sebagai ujian Tuhan. Namun, video ini memberikan perspektif yang menampar:

“Siapa yang memberikan izin untuk penebangan pohon yang secara masif? Itu juga putusan politik. Saya enggak bisa bilang ini 100% karena bencana alam… man-made-nya juga ada.”

Deforestasi yang terjadi sejak 2010 telah menghilangkan penyerap air alami. Ketika izin tambang atau pembukaan lahan diberikan tanpa kajian lingkungan yang ketat, maka “bencana” hanyalah masalah waktu.

3. Pemimpin yang Memuja “Feeling” Ketimbang Data

Salah satu poin paling krusial dalam diskusi ini adalah kritik terhadap pengambilan kebijakan yang tidak berbasis sains (science-based policy). Menariknya, pembicara menyinggung fenomena pejabat yang bangga menggunakan intuisi pribadi.

“Ada beberapa menteri yang bahkan bangga di podcast, ‘oh ini pakai feeling, ini pakai intuisi nih programnya’. Harusnya itu bukan suatu yang dibanggakan. Harusnya melibatkan Bappenas dan kajian riset.”

Kesenjangan antara akademisi yang memegang data dengan politisi yang memegang kuasa menciptakan risiko besar bagi rakyat. Seperti dalam film Don’t Look Up, peringatan ilmuwan sering kali diabaikan demi kepentingan jangka pendek atau bisnis semata.

4. Kekuatan Suara Publik: Harapan di Tengah Ketidakpastian

Meski terdengar suram, video ini mengingatkan bahwa suara warga tetap memiliki taring. Contoh nyata adalah ketika rencana kenaikan PPN menjadi 12% sempat tertunda karena tekanan publik yang masif.

“Itu the power of kita juga bersuara.”

Kesimpulan

Menjadi “Warga Konoha” berarti harus mulai menyadari bahwa politik bukan hanya soal pemilu lima tahun sekali. Politik adalah tentang bagaimana bantuan bencana datang tepat waktu, bagaimana sanitasi di pengungsian disediakan, dan bagaimana hutan kita dijaga.

Sebagaimana kutipan penutup dalam diskusi tersebut:

“Kalau kesalahan diulang dua kali, itu kesalahan. Tapi tiga kali, empat kali, lima kali, itu kebodohan kita sendiri yang terus mengulang lagi.”

Sudah saatnya kita berhenti memaklumi “kebodohan” kolektif dan mulai menuntut kebijakan yang berdasarkan data, bukan sekadar intuisi.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Jennifer Coppen dan Justin Hubner segera Menikah, Netizen Ikut Terharu

*** Artikel ini disusun berdasarkan video: Yang JARANG Terungkapkan Tentang Menjadi WARGA KONOHA

Read More :  Jebakan Kesenangan Instan: Mengapa Integritas adalah Kompas Moral Paling Penting di Era FOMO

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *