Istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD) kini bukan lagi sekadar istilah medis yang asing di telinga masyarakat Indonesia. Fenomena ini mencuat setelah banyak figur publik dan konten kreator, termasuk Raditya Dika dalam kanal YouTube-nya, membedah bagaimana kepribadian narsistik dapat menghancurkan kesehatan mental orang-orang di sekitarnya.
Dalam diskusi terbaru bersama psikiater dr. Elvin Gunawan, terungkap bahwa relasi kuasa, manipulasi emosional, hingga campur tangan mertua menjadi “bom waktu” dalam banyak rumah tangga di Indonesia.
Daftar Isi
Apa Itu NPD dan Mengapa Mereka Begitu Dominan?

Menurut dr. Elvin Gunawan, NPD adalah gangguan kepribadian di mana seseorang memiliki kebutuhan mendalam untuk dikagumi, merasa dirinya paling penting, dan kurang memiliki empati terhadap orang lain.
“Semua orang boleh merasa dirinya penting, tapi pada gangguan kepribadian narsistik, ia harus mementingkan dirinya sendiri dalam segala hal dan sering kali merugikan orang lain untuk mencapai tujuannya,” ujar dr. Elvin.
Akar Masalah: Antara ‘Anak Emas’ dan Pengabaian

Secara psikologis, NPD tidak muncul tiba-tiba. dr. Elvin menjelaskan dua jalur utama pembentukannya:
-
Pujian Berlebihan: Anak yang selalu dipuji secara ekstrem sejak kecil tanpa batasan, sehingga merasa menjadi “raja” atau “putri” yang tidak boleh salah.
-
Pengabaian Ekstrem (Neglected): Anak yang masa kecilnya penuh penghinaan atau pengabaian, sehingga saat dewasa ia membangun “benteng” kesuksesan yang kaku dan tidak mengizinkan siapa pun menjatuhkan harga dirinya.
Red Flags yang Sering Terabaikan: Dari Love Bombing ke Isolasi
Banyak korban NPD tidak sadar mereka sedang masuk dalam perangkap. dr. Elvin membeberkan tahapan manipulasi yang sistematis:
1. Fase Love Bombing
Di awal hubungan, pelaku NPD akan memberikan perhatian luar biasa, hadiah, dan pujian yang membuat korban merasa seperti di atas awan. Ini adalah strategi untuk membangun ketergantungan emosional.
2. Isolasi Sosial
Setelah korban terpikat, pelaku mulai membatasi ruang geraknya. Kalimat seperti, “Apakah aku saja tidak cukup buat kamu?” sering digunakan untuk memisahkan korban dari teman dan keluarganya.
3. Kontrol Finansial dan Digital
Bentuk kontrol ini bisa berupa paksaan untuk membagikan lokasi secara real-time 24 jam, kloning akun pesan singkat, hingga kontrol keuangan yang ketat (kekerasan finansial) di mana pasangan harus menyertakan struk belanja untuk setiap pengeluaran kecil
Fenomena ‘Bumi Mertua Indah’ (BMI)
Salah satu topik yang paling banyak mendapat respons netizen adalah istilah “Bumi Mertua Indah” (BMI). Ini merujuk pada kondisi di mana pasangan (biasanya istri) harus tinggal di rumah mertua yang dominan.
“Banyak mertua yang bertindak sebagai ‘Ibu Suri’ di dalam pernikahan anaknya. Si suami akhirnya memiliki dua istri secara emosional: ibunya sebagai ‘istri tua’ dan istrinya sebagai ‘istri muda’,” jelas dr. Elvin dengan nada getir.
Situasi ini sering memicu depresi pada menantu karena tidak adanya batasan (boundaries) yang jelas. dr. Elvin menekankan pentingnya suami untuk “pasang badan” dan membela keluarga kecilnya agar tidak terjadi konflik relasi kuasa yang berkepanjangan.
Mengapa Korban Sulit Pergi?
Pertanyaan besar yang sering muncul adalah: Kenapa tidak putus saja?
Jawabannya kompleks. Pelaku NPD ahli dalam melakukan Gaslighting dan Guilt Tripping. Mereka membuat korban merasa bahwa dialah penyebab masalahnya. Selain itu, banyak korban yang memiliki masa lalu kurang kasih sayang sehingga menganggap perhatian toksik tersebut sebagai bentuk cinta yang nyata.
Tips Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
Di akhir diskusi, dr. Elvin memberikan beberapa panduan bagi mereka yang merasa terjebak dalam hubungan narsistik atau sedang mengalami stres berat:
-
Identifikasi Masalah dengan Menulis: Tuliskan apa saja yang membuat stres. Pisahkan mana yang bisa dikontrol (masalah pribadi) dan mana yang tidak bisa dikontrol (masalah orang lain).
-
Bangun Pagar (Boundaries): Tidak semua orang harus masuk ke dalam kehidupan pribadi Anda. Pilah siapa yang boleh masuk ke “rumah” dan siapa yang cukup di luar “pagar” saja.
-
Jangan Takut ke Profesional: Pergi ke psikiater atau psikolog bukan tanda kelemahan. “Orang yang selamat hidupnya adalah mereka yang tidak terlalu banyak memikirkan omongan orang lain dan berani mencari bantuan saat kognitifnya mulai terganggu,” tutup dr. Elvin.
Kesimpulan: Memahami pola komunikasi narsistik adalah langkah pertama untuk melepaskan diri dari jeratan hubungan toksik. Jika Anda merasa terjebak dalam siklus manipulasi, ingatlah bahwa kesehatan mental Anda jauh lebih berharga daripada upaya mempertahankan hubungan yang merusak diri.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Mengapa IHSG “Goyang”? Antara Permainan Konglomerat, Jebakan MSCI, dan Mentalitas Investor
Response (1)