Di era media sosial saat ini, kita sering terjebak di antara dua narasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, ada konten yang memuja nikah muda seolah dunia hanya berisi romansa dan “estetika”. Di sisi lain, berita tentang perselingkuhan, KDRT, dan perceraian membuat banyak orang merasa married is scary—menikah itu menakutkan.
Lantas, di usia berapa sebenarnya kita harus menikah? Jawabannya ternyata bukan angka di KTP, melainkan kematangan di dalam diri.
Daftar Isi
Menikah Bukan Balapan Usia

Video dari kanal YNTV menekankan bahwa setiap orang memiliki “garis start” yang berbeda. Tidak ada gunanya membandingkan diri dengan orang lain.
“Menikah itu bukan soal kecepatan, tapi soal kesiapan. Dan kesiapan itu tidak diukur dari usia karena setiap orang punya latar belakang dan proses hidup yang berbeda.”
Sejarah Islam mencatat keberagaman ini. Fatimah Az-Zahra menikah dengan Ali bin Abi Thalib di usia belasan tahun, sementara ulama besar Imam Ahmad bin Hambal baru menikah di usia 40 tahun karena fokus pada ilmu. Keduanya adalah teladan, yang membuktikan bahwa usia hanyalah angka, namun kesiapan adalah kunci.
Tiga Pilar Kesiapan: Mental, Ilmu, dan Finansial

Sebelum melangkah ke pelaminan, ada tiga bekal utama yang harus dipastikan sudah ada dalam “tas punggung” kita:
1. Kesiapan Mental: Selesaikan Masalahmu Terlebih Dahulu
Banyak yang mengira menikah adalah solusi dari masalah pribadi atau luka masa lalu. Padahal, menikah justru menambah amanah baru.
“Selesaikan dulu masalah pribadi… hati-hati, masalah-masalah semacam ini kalau belum selesai, ini akan menjadi masalah dalam keluarga.”
2. Kesiapan Ilmu: Mengapa Menjadi Dokter Ada Sekolahnya, Tapi Menjadi Suami/Istri Tidak?

Kita rela sekolah belasan tahun untuk sebuah profesi, tapi seringkali abai mempelajari ilmu rumah tangga. Padahal, yang dihadapi bukan benda mati, melainkan manusia yang punya emosi.
“Belajar pernikahan itu penting banget, karena untuk menjadi suami atau istri, menjalani rumah tangga, itu tidak ada kuliahnya.”
Ilmu ini mencakup Ilmu Syariat (memahami visi misi pernikahan untuk sampai ke surga) dan Ilmu Teknis (manajemen waktu, komunikasi, dan problem solving).
3. Kesiapan Finansial: Tanggung Jawab, Bukan Sekadar Gaya Hidup
Islam tidak mewajibkan pernikahan yang mewah di gedung megah, namun Islam mewajibkan suami untuk menafkahi.
“Jangan sampai terpenuhinya rezeki kita itu kemudian merepotkan banyak orang lain… gara-gara kita tidak siap secara finansial.”
Hakikat Cinta: Bumbu, Bukan Fondasi Utama

Satu pelajaran penting dari video ini adalah posisi cinta dalam pernikahan. Cinta memang indah, tapi ia bisa berubah dalam sekejap jika tidak diikat dengan tujuan yang lebih besar.
“Cinta itu bisa hilang hitungan detik, hitungan menit, berganti dengan benci, berganti dengan konflik. Maka kalau menikah hanya alasannya karena cinta saja, ini berbahaya.”
Dalam Islam, tujuan utama menikah adalah melestarikan keturunan dan mendidik generasi. Cinta adalah “bumbu” yang diberikan Allah agar perjalanan yang penuh tantangan itu tetap terasa indah.
Penutup: Fokuslah Memantaskan Diri
Daripada terus bertanya “Kapan saya nikah?”, lebih baik bertanya “Sudah pantaskah saya menjadi pasangan yang baik?”.
“Enggak perlu berdebat soal mau nikah muda atau tidak, tapi kita fokus pada mempersiapkan diri agar layak untuk menjadi suami terbaik, agar layak menjadi istri terbaik.”
Ketika kita sudah siap secara mental, ilmu, dan tanggung jawab, insyaallah sakinah, mawaddah, dan warahmah bukan sekadar doa di kartu undangan, tapi kenyataan dalam kehidupan.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Mengapa Berani Berkata TIDAK Adalah Kunci Kekayaan dan Kebebasan