Siapa bilang kawasan elit seperti Cimanggis Golf Estate atau Podomoro Golf View hanya milik mereka yang mencari hunian eksklusif? Bagi saya dan banyak warga sekitar—dari Kranggan hingga Cibubur—kawasan ini punya sisi lain yang jauh lebih merakyat dan hangat, terutama saat matahari mulai terbenam.
Oh iya, sebelumnya kami juga menikmati kulinaran yang nikmat di kawasan cimanggis depok, kamu bisa baca di Pengalaman Santap Sore di Vilo Lakeside Depok
Kalau biasanya saya ke sini pagi hari untuk sekadar menghirup udara segar sambil jalan santai, malam ini suasananya sungguh berbeda. Begitu memasuki kawasan, mata saya langsung disambut oleh “pesta cahaya”. Bukan dari gedung tinggi, melainkan dari gemerlap lampu warna-warni wahana pasar malam yang begitu meriah.
Nostalgia di Balik Wahana Langkah kaki saya seolah ditarik menuju keriuhan itu. Rasanya seperti kembali ke masa kecil. Saya memutuskan untuk mencoba komidi putar, membiarkan diri berputar dalam melodi klasik, sebelum akhirnya berpindah ke biang lala. Dari titik tertinggi biang lala, saya bisa melihat kontras yang cantik: kemegahan perumahan di satu sisi, dan keriuhan tawa manusia di sisi lainnya.
Menjelajahi Surga Kuliner Nusantara Puas bermain, perut mulai menuntut haknya. Di sinilah petualangan yang sebenarnya dimulai. Aroma sosis bakar, manisnya roti panggang, dan renyahnya crepes seolah saling bersahutan memanggil nama saya. Tapi, malam yang dingin ini butuh sesuatu yang lebih “serius”.
Pilihan saya akhirnya jatuh pada primadona kuliner malam: Mie Ayam dan Bakso Wonogiri.
Ada alasan mengapa Bakso Wonogiri selalu punya tempat spesial di hati (dan perut) kita. Begitu mangkuk dihidangkan, uap panasnya langsung menggoda indra penciuman. Tekstur bakso uratnya yang menantang, lembutnya bakso telur, hingga bakso mini yang kenyal berpadu sempurna dengan kuah kaldu yang gurih. Setiap suapan benar-benar definisi “kenikmatan hakiki”.
Malam itu saya pulang dengan hati senang dan perut kenyang. Ternyata, kebahagiaan di kawasan elit ini sesederhana melihat cahaya warna-warni dari puncak biang lala dan mengakhiri perjalanan dengan semangkuk bakso hangat di tangan.
Warna-Warni Masjid At Thohir yang Sungguh Memukau.

Setelah puas memanjakan lidah dengan semangkuk Bakso Wonogiri yang hangat, langkah kaki saya terhenti tepat di depan kemegahan Masjid At-Thohir. Jika di siang hari ia tampak anggun dengan balutan warna putih suci, malam hari adalah saat di mana keajaiban yang sebenarnya dimulai.
Kanvas Raksasa di Langit Malam Mata saya terpaku saat teknologi video mapping mulai bekerja. Perlahan namun pasti, seluruh permukaan masjid At Thohir bertransformasi. Dalam sekejap, bangunan yang tenang itu seolah “menyala” dan berubah warna menjadi merah membara yang sangat dramatis.
Cahaya itu tidak hanya menyelimuti dindingnya, tapi juga merambat naik hingga ke ujung menara dan memenuhi lekuk kubahnya.Keheningan yang Berwarna Ada perasaan magis yang sulit digambarkan saat melihat pendar warna tersebut kontras dengan gelapnya langit malam.
Di tengah hiruk-pikuk warga yang berkunjung, Masjid At-Thohir tetap berdiri kokoh membawa ketenangan, namun kali ini dengan cara yang lebih artistik dan penuh warna.Bagi saya, menyaksikan perubahan warna ini adalah cara terbaik untuk menutup perjalanan kuliner malam di Cimanggis.
Bukan sekadar tontonan visual, tapi sebuah pengingat bahwa keindahan bisa hadir dalam bentuk yang tak terduga—lewat harmoni antara teknologi, arsitektur, dan spiritualitas.
Response (1)