Pernahkah Anda merasa bahwa hidup ini menuntut kita untuk selalu menjadi versi terbaik setiap hari? Bahwa gagal adalah aib, dan menunjukkan kelemahan adalah kekalahan? Dalam episode terbaru podcast Suara Berkelas, musisi Kunto Aji membongkar perspektif tersebut dan menawarkan sudut pandang yang jauh lebih manusiawi tentang kesehatan mental dan proses bertumbuh.
Bagi Kunto, hidup bukanlah tentang garis lurus yang terus menanjak, melainkan sebuah spiral.
Daftar Isi
1. Keberanian dalam Menjadi Lemah

Satu kutipan yang sangat membekas dari percakapan ini adalah: “Menjadi kuat itu penting, tapi tahu di mana letak lemah kita itu jauh lebih penting.”
Di tengah budaya yang menuntut laki-laki untuk selalu tangguh, Kunto Aji justru mengajak kita untuk merangkul sisi vulnerable (rentan). Mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja bukanlah tanda menyerah, melainkan bentuk pertahanan diri yang paling jujur. Menurutnya, mengakui kelemahan adalah cara kita memberikan “perisai” yang tepat pada bagian diri yang paling rapuh.
2. Dunia yang Terlalu “Bising” (Hyper-Connection)

Kunto menyoroti bagaimana kita hidup di era di mana satu orang bisa memiliki lebih dari 20 grup WhatsApp. Secara psikologis, kapasitas otak kita tidak dirancang untuk memproses ribuan informasi dan emosi dari begitu banyak orang dalam waktu bersamaan.
Hasilnya? Overwhelming. Solusi yang ditawarkan Kunto adalah “Memberi Jarak”. Kita butuh waktu untuk sunyi, untuk tidak terkoneksi dengan siapa pun kecuali diri sendiri. Dalam kesunyian itulah, kita seringkali baru bisa menemukan jati diri dan ketenangan yang selama ini tergerus oleh notifikasi media sosial.
3. Filosofi Spiral: Kembali ke Titik yang Sama, Namun Berbeda

Banyak dari kita merasa gagal jika menemui masalah yang sama berulang kali. Namun, Kunto Aji memiliki teori menarik tentang Pertumbuhan Spiral.
“Berkarya atau hidup itu bukan kompetisi linear. Kita akan kembali ke titik yang sama, tapi dengan kesadaran yang berbeda.”
Artinya, jika hari ini Anda merasa sedang mengalami masalah yang dulu pernah terjadi, jangan merasa gagal. Lihatlah dengan kacamata baru. Kesadaran Anda yang sekarang jauh lebih kaya dibanding versi Anda yang dulu. Anda tidak sedang jalan di tempat; Anda sedang naik level dalam lingkaran spiral tersebut.
4. Melawan Nasihat “Harus Lebih Baik Setiap Hari”

Secara mengejutkan, Kunto menyebut nasihat “Kamu harus lebih baik dari hari kemarin” sebagai salah satu saran yang bisa berdampak buruk. Mengapa? Karena kata “Harus” adalah beban.
Hidup memiliki ritme. Ada kalanya kita berlari, namun ada kalanya kita perlu rehat tanpa merasa bersalah. Mengharuskan diri untuk selalu melampaui pencapaian kemarin hanya akan melahirkan kecemasan baru. Kunto mengajak kita untuk mengganti “Harus” dengan “Bisa”—bahwa kita bisa bertumbuh, namun kita juga boleh beristirahat.
5. Menemui Luka Lewat “Pilau Membiru”

Melalui karya-karyanya seperti di album Mantra-Mantra, Kunto mengingatkan bahwa proses penyembuhan dimulai dengan menemui luka. Bukan melarikan diri darinya. Seperti lagu Pilu Membiru, kita diajak untuk berdamai dengan kehilangan dan kesedihan, menjadikannya bagian dari cerita hidup yang membuat perjalanan kita menjadi lebih menarik.
Kesimpulan: Hidup Tak Akan Menarik Jika Lurus Saja
Percakapan ini ditutup dengan sebuah refleksi indah: Hidup yang lurus dan tanpa masalah justru akan terasa hambar. Masalah, patah hati, dan kegagalan adalah bumbu yang membuat cerita hidup kita layak untuk diceritakan—bahkan mungkin menjadi bahan candaan bersama teman di masa depan saat kita sudah berhasil melaluinya.
Langkah Kecil untuk Anda: Hari ini, berhentilah sejenak. Berikan jarak antara Anda dan kebisingan dunia. Ingatlah bahwa tidak apa-apa untuk tidak menjadi luar biasa hari ini. Sebab, kadang-kadang, bertahan hidup saja sudah merupakan sebuah kemenangan.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Lee Junho dan Lee Chae Min Reuni! Cashero Tayang Perdana 26 Desember!