Pernahkah kamu mendengar kalimat, “Jangan mimpi ketinggian, nanti kalau jatuh sakit lho”? Atau mungkin, “Tunggu sampai kamu benar-benar siap baru mulai”?
Sekilas, nasihat-nasihat ini terdengar seperti bentuk kepedulian. Namun, jika ditelaah lebih dalam, kata-kata tersebut sering kali menjadi “rem tangan” yang menghambat potensi terbaikmu. Dalam sebuah diskusi mendalam di kanal SUARA BERKELAS, beberapa praktisi dan pemikir berbagi perspektif baru tentang pilihan hidup yang tidak akan kamu sesali di masa muda.
Berikut adalah 5 jebakan nasihat populer yang harus kamu hindari dan bagaimana cara menyikapinya:
Daftar Isi
1. “Mimpi Jangan Ketinggian” vs Think Big, Start Small

Banyak orang tua atau lingkungan menyarankan kita untuk bersikap “realistis”. Masalahnya, menjadi terlalu realistis di usia 20-an sering kali berarti membunuh imajinasi sebelum sempat dicoba.
Solusinya: Gunakan prinsip “Think Big, Start Small, Move Fast”. Bermimpilah setinggi langit, tapi mulailah dengan langkah yang sekecil mungkin. Kunci keberhasilan bukanlah sekali jalan langsung sukses, melainkan Iterasi. Gagal, coba lagi, ubah sedikit, coba lagi—sampai kamu menemukan jawabannya.
2. “Cari Passion-mu” vs Bangun Passion-mu

Kita sering merasa frustrasi karena tidak kunjung “menemukan” panggilan hidup. Nasihat “temukan passion-mu” memberi kesan bahwa passion adalah harta karun yang sudah ada dan tinggal digali.
Kenyataannya: Passion sering kali bukan ditemukan, melainkan dibangun. Kamu mulai melakukan sesuatu yang kamu kuasai, mengerjakannya dengan tekun selama bertahun-tahun, dan seiring dengan meningkatnya kompetensimu, rasa cinta (passion) itu akan muncul. Jangan mudah menyerah hanya dalam hitungan minggu dengan alasan “tidak passionate”.
3. Jebakan Menunggu “Siap”
Bagi para perfeksionis, kata “siap” adalah musuh terbesar. Kita menunggu semua kondisi sempurna sebelum memulai bisnis, melamar pekerjaan impian, atau membuat konten.
Kebenarannya: Kamu tidak akan pernah merasa 100% siap. Bahkan maestro sehebat Leonardo da Vinci pun terus memperbaiki lukisan Monalisa selama 16 tahun karena merasa belum sempurna. Pakailah mindset “70% Cukup”. Jika kamu sudah merasa 70% mampu, langsung terjun. Kesiapan akan terbentuk di tengah perjalanan.
4. “If He Wanted To, He Would” vs Responsibilitas Tim
Dalam hubungan asmara, kutipan “If he wanted to, he would” (Kalau dia mau, dia pasti lakukan) sangat populer di media sosial. Namun, ini adalah pola pikir yang berbahaya karena melempar seluruh tanggung jawab hubungan ke satu pihak.
Perspektif Baru: Hubungan yang sehat adalah tentang “If WE want, WE would”. Sebuah hubungan adalah kerja tim. Alih-alih hanya menuntut, pastikan kedua belah pihak memiliki self-awareness, empati, dan manajemen emosi yang baik untuk membangun hubungan yang berkelas.
5. Mengabaikan Budgeting demi Gaya Hidup
Nasihat seperti “jalani saja, rezeki sudah ada yang atur” tanpa perhitungan keuangan adalah resep menuju kegagalan finansial.
Pentingnya Batasan: Budgeting (seperti rumus 50/30/20) bukan untuk mengekangmu, melainkan untuk membantumu membuat keputusan logis. Tanpa rencana keuangan, rezeki sebesar apa pun yang datang akan habis begitu saja untuk hal-hal konsumtif (seperti ganti mobil/gadget) tanpa pernah menyentuh dana pendidikan atau investasi masa depan.
Kesimpulan: Ambisi adalah Amunisi
Jangan biarkan ambisi dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Ambisi adalah energi yang membuatmu terus bangkit saat mengalami kegagalan. Gunakan masa mudamu untuk bereksplorasi, melakukan kesalahan, dan belajar dari setiap iterasi hidup.
Pilihan hidup yang tidak akan kamu sesali adalah ketika kamu berani mengambil langkah meskipun takut, daripada tetap diam karena merasa aman.
Response (1)