Idol  

Memeluk Luka, Menemukan Jati Diri: Perjalanan Cut Vivia Talita Melawan Tirani “Kekuatan”

Perjalanan Cut Vivia Talita Melawan Tirani Kekuatan
Perjalanan Cut Vivia Talita Melawan Tirani Kekuatan

Di balik senyum tenang dan deretan prestasi akademik yang gemilang, Cut Vivia Talita menyimpan narasi yang jauh lebih kompleks. Dalam sebuah diskusi mendalam di kanal Suara Berkelas, penulis dan mahasiswi berprestasi ini membongkar mitos tentang “menjadi kuat” yang selama ini membelenggu banyak perempuan.

Vivia tidak hanya bicara soal kesuksesan, ia bicara tentang keberanian untuk menjadi rapuh.

Paradoks Kekuatan: Saat Air Mata Adalah Senjata

Perjalanan Cut Vivia Talita Melawan Tirani Kekuatan
Perjalanan Cut Vivia Talita Melawan Tirani Kekuatan

Bagi banyak orang, kekuatan sering kali diidentikkan dengan ketegaran tanpa celah. Namun, bagi Vivia, konsep itu justru menjadi penjara emosional selama bertahun-tahun. Ia sempat terjebak dalam pola pikir bahwa menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan.

“Kuat itu bukan saat kita bisa kelihatan tenang-tenang aja tanpa nangis. Tapi kuat itu justru saat kita bisa nerima emosi-emosi—nangis, sedih—tapi tetap bisa bergerak walaupun sambil menerima itu,” ujar Vivia dengan nada reflektif.

Ia menekankan bahwa menekan emosi demi terlihat logis hanya akan menciptakan “bom waktu” di masa depan. Menurutnya, mengakui kerentanan adalah langkah awal menuju pemulihan yang autentik.

Tubuh yang Berbicara: Kaitan Trauma dan Fisik

Salah satu bagian paling mengejutkan dalam narasinya adalah bagaimana beban mental memanifestasikan diri dalam bentuk penyakit fisik yang kronis. Vivia menceritakan pengalamannya menderita sariawan parah selama 13 tahun tanpa henti—sebuah kondisi yang secara medis sulit dijelaskan, namun secara psikologis sangat masuk akal.

Setelah didiagnosis mengidap Complex PTSD pada awal 2025, Vivia menjalani terapi EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing). Hasilnya mencengangkan: penyakit fisiknya berangsur hilang seiring dengan terurainya trauma masa lalu.

“Sariawan aku yang sudah 13 tahun itu, pelan-pelan sembuh setelah aku mulai memproses beban emosional. Ternyata selama ini tubuhku berteriak karena aku tidak mau mendengarkan perasaanku sendiri,” ungkapnya.

Rekonsiliasi dan Memaafkan Diri Sendiri

Puncak dari perjalanan penyembuhan Vivia bukan hanya tentang memaafkan orang lain yang pernah melukainya, melainkan tentang berdamai dengan sosok yang paling sering ia abaikan: dirinya sendiri.

Vivia mengenang momen-momen emosional bersama mendiang ayahnya. Ia belajar bahwa setiap orang, termasuk orang tua, sering kali bertindak berdasarkan luka dan keterbatasan kapasitas mereka sendiri.

“Aku perlu dimaafkan. Kenapa? Karena aku selama ini terlalu denial sama apa yang aku rasa, dan udah waktunya aku memaafkan diriku… yang terlalu banyak meninggalkan diriku sendiri,” tuturnya dengan penuh ketulusan.

Pesan untuk Mereka yang Sedang Berjuang

Bagi mereka yang merasa terjepit oleh ekspektasi lingkungan atau rasa tidak percaya diri (insecurity), Vivia menawarkan perspektif yang membumi. Ia menyarankan untuk berhenti terobsesi pada validasi eksternal dan mulai mengenali kelemahan diri sebagai bentuk pertahanan.

“Kenali kelemahanmu, bukan untuk ditutupi, tapi agar tidak ada orang lain yang bisa menggunakan kelemahan itu untuk menjatuhkanmu,” tegas Vivia.

Perjalanan Cut Vivia Talita adalah pengingat bagi setiap wanita—dan setiap manusia—bahwa kesembuhan tidak datang dari pengabaian luka, melainkan dari keberanian untuk melihatnya, mengakuinya, dan akhirnya, memeluknya.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Di Mana Seharusnya Seorang Muslim Dikuburkan?

Read More :  Tak Tergoyahkan! V BTS Sabet Gelar Musisi dan Bintang Instagram Paling Berpengaruh Sedunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *