Pernahkah Anda bangun tidur dengan leher kaku lalu berpikir sedang “salah bantal”? Atau mungkin Anda merasa pundak terasa berat dan curiga kolesterol sedang tinggi karena terlalu banyak makan santan? Tunggu dulu. Sebelum Anda buru-buru menelan obat kolesterol atau mencari tukang urut, ada fakta medis yang mungkin akan mengejutkan Anda.
Dalam sebuah sesi wawancara mendalam di kanal SUARA BERKELAS, Dr. Faisal, seorang ahli saraf, membedah berbagai kesalahpahaman yang selama ini mendarah daging di masyarakat Indonesia.
Daftar Isi
1. “Digendong Tuyul” vs Realitas Medis

Di beberapa daerah, terutama di Jawa, masih ada mitos yang menyebutkan bahwa punggung bungkuk atau pundak yang terasa sangat berat adalah pertanda gangguan makhluk halus. Dr. Faisal menceritakan pengalamannya menghadapi stigma ini.
“Kalau ada nenek-nenek atau kakek-kakek agak bungkuk sedikit, itu dibilang ada tuyulnya. Atau sakit leher dianggap ‘kiriman paket’ (santet). Padahal, itu masalah saraf atau tulang belakang yang distribusinya memang sampai ke sana.”
Menurut beliau, nyeri di belikat belum tentu masalah otot biasa, melainkan bisa jadi sinyal adanya gangguan pada tulang leher. Begitu juga dengan rasa kebas di kaki yang seringkali sumber masalahnya bukan di kaki, melainkan di pinggang.
2. Jebakan Batman: Diagnosis Mandiri Kolesterol & Asam Urat

Inilah kesalahan yang paling sering dilakukan masyarakat Indonesia: merasa kaku di tengkuk langsung divonis kolesterol. Akibatnya, banyak orang mengonsumsi obat tanpa resep yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.
“Dicek kolesterolnya normal, tapi dia tetap minum obat kolesterol tanpa pengecekan medis. Obatnya tetap diminum, tapi sakitnya tidak hilang karena obatnya nggak nyambung.”
Dr. Faisal menegaskan bahwa rasa kaku di leher, bahu, hingga menjalar ke lengan seringkali merupakan tanda saraf kejepit, bukan karena kadar lemak darah yang tinggi.
3. Rahasia “Salah Bantal” yang Sebenarnya
Kita semua sering menyalahkan bantal saat bangun tidur dengan leher yang tidak bisa menoleh. Namun, Dr. Faisal meluruskan bahwa bantal hanyalah benda mati—posisi kitalah yang salah.
“Penyebabnya karena lehernya terlalu menekuk, bantalnya terlalu tebal atau tinggi. Kalau dilakukan berjam-jam, otot akan keras dan tegang. Jadi bukan bantalnya yang salah, posisi tidurnya yang salah.”
Tips dari Dokter: Jangan letakkan ujung bantal tepat di tengkuk. Geser bantal agak ke bawah sedikit mengenai bahu agar leher memiliki penyangga yang alami dan kepala tidak menekuk ke depan.
4. Stres: Dari Pikiran ke Otot
Bagaimana stres bisa membuat tubuh sakit secara fisik? Dr. Faisal menjelaskan bahwa ini adalah reaksi berantai hormon.
“Kalau kita stres, ada pengaruh hormon yang bikin otot kita jadi nggak nyaman dan tegang. Keluhannya ya sakit di leher, bahu, sampai belikat.”
Meskipun stres tidak langsung merusak kabel saraf secara fisik, ketegangan otot yang terus-menerus akibat stres dapat menciptakan rasa nyeri yang kronis.
Penutup: Jangan Menunggu “Bertahun-tahun”
Pesan terpenting dari Dr. Faisal adalah jangan menunda konsultasi medis karena asumsi pribadi atau saran teman. Banyak pasien yang datang setelah bertahun-tahun menahan sakit hanya karena mengira mereka “hanya” butuh pantang daging, padahal ada saraf yang terhimpit dan membutuhkan penanganan serius.
Kesimpulannya? Tubuh Anda bicara melalui rasa nyeri. Pastikan Anda mendengarkannya melalui telinga seorang ahli, bukan sekadar mitos atau diagnosis Google.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Rahasia Dea Rizkita Berdamai dengan Trauma Uang, Ekspektasi, dan Diri Sendiri
Response (1)