Banyak dari kita tumbuh dengan nasihat keuangan yang itu-itu saja: “Tabung di awal,” “Jangan konsumtif,” atau “Kalau pintar atur uang, gaji berapa pun pasti cukup.” Namun, benarkah realitanya sesederhana itu?
Dalam sebuah diskusi menarik di kanal SUARA BERKELAS, Anisa, seorang praktisi keuangan, membongkar beberapa realitas pahit sekaligus strategi cerdas yang bisa mengubah cara kita melihat uang selamanya.
Daftar Isi
1. Jebakan “Cicilan Cerdas” yang Ternyata Melelahkan

Pernah mendengar saran ini: “Jangan beli cash, uangnya investasikan saja, lalu cicil barangnya dari hasil investasi”?
Anisa pernah mencobanya saat membeli iPhone. Secara matematis, ia memang untung. Namun secara psikologis? Ia menyesal. Menanggung beban cicilan selama setahun ternyata memberikan tekanan mental yang luar biasa setiap kali melihat saldo gaji terpotong otomatis.
Pelajaran: Keputusan keuangan bukan cuma soal angka di atas kertas, tapi juga soal ketenangan pikiran. Jika cicilan membuat tidurmu tidak nyenyak, maka itu bukan investasi yang baik.
2. Investasi “Lingkungan”: Alasan Tersembunyi di Balik Sekolah Mahal

Banyak orang mengira menyekolahkan anak di sekolah elite hanya soal gengsi atau fasilitas. Namun, ada satu sudut pandang yang sering terlewat: Lingkungan orang tua.
Ketika Anda menempatkan anak di lingkungan yang berkualitas, Anda sebagai orang tua juga ikut masuk ke dalam “ruangan” orang-orang hebat.
-
Melihat bagaimana para pengusaha sukses bekerja keras.
-
Mempelajari pola pikir mereka dalam mengelola bisnis.
-
Mendapatkan motivasi untuk “naik level” karena Anda bukan lagi orang paling pintar di ruangan tersebut.
3. Dilema “Generasi Sandwich”: Saat Logika Kalah oleh Perasaan

Masalah keuangan tersulit bukanlah saat kita boros, melainkan saat keluarga (orang tua atau saudara) terlilit utang besar. Di sinilah teori keuangan seringkali gagal.
Secara teori, kita harus set boundary (memasang batas). Namun dalam praktiknya? Pilihannya seringkali antara:
-
Tidak enak: Membantu keluarga sampai tabungan sendiri lunas/habis.
-
Sangat tidak enak: Melihat rumah orang tua disita atau putus hubungan keluarga.
Anisa menekankan bahwa membantu itu harus sesuai kemampuan. “Selama uang kamu terbatas, membantumu pasti terbatas.” Menyadari batasan ini sangat penting agar Anda tidak ikut tenggelam bersama masalah orang lain.
4. Kritik Pedas: “Gaji Pasti Cukup” Adalah Saran Privilege

Salah satu kutipan paling provokatif dalam diskusi ini adalah kritik terhadap pernyataan bahwa “Gaji itu pasti cukup kalau bisa mengaturnya.”
Anisa dengan tegas membantah ini. Bagi banyak orang, gaji UMR yang digunakan untuk menghidupi diri sendiri, adik, dan orang tua secara matematis memang tidak akan pernah cukup. * Masalahnya bukan pada cara mengatur uang (money management).
-
Masalahnya adalah pada pendapatan yang kurang (income problem).
Jika Anda merasa gagal menabung meski sudah berhemat luar biasa, mungkin memang saatnya fokus bukan pada memotong pengeluaran, melainkan mencari jalan untuk memperbesar pemasukan.
Kesimpulan: Apa Langkah Selanjutnya?
Jangan menyalahkan diri sendiri jika rencana keuanganmu sering gagal. Bisa jadi, beban yang kamu tanggung memang lebih besar dari kapasitas pendapatanmu saat ini.
Langkah pertama yang bisa kamu lakukan: Coba hitung ulang pengeluaran wajibmu (termasuk tanggungan keluarga). Jika hasilnya sudah mendekati atau melebihi gaji, berhentilah merasa bersalah karena tidak bisa menabung, dan mulailah alokasikan energi untuk mencari side hustle atau meningkatkan skill demi gaji yang lebih tinggi.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Timothy Ronald : Aksi Lebih Penting dari Seribu Rencana!
Response (1)