Seni Menutup Telinga: Mengapa Kita Harus Berhenti Hidup demi “Kata Orang”

Seni Menutup Telinga
Seni Menutup Telinga

Pernahkah Anda membatalkan sebuah rencana besar atau mengubur mimpi hanya karena satu komentar miring dari orang lain?

Dalam sebuah diskusi hangat di kanal YouTube Rory Asyari, Dr. Geofakta Razali, seorang pakar psikologi komunikasi, membedah fenomena mengapa opini orang lain bisa begitu mematikan bagi kemajuan hidup kita.

1. Rasa Sakit Sosial itu Nyata secara Fisik

Banyak yang menganggap sakit hati hanyalah masalah perasaan. Namun, Dr. Geofakta menjelaskan bahwa otak kita memproses penolakan sosial sama seperti rasa sakit fisik.

“Kita harus mengakui dulu bahwa omongan orang itu kalau menyakitkan, itu sama dengan orang menyakiti kita secara fisik. Dalam konsep ‘social pain overload’, fungsi tubuh kita bekerja beriringan dengan rasa sakit emosional tersebut.”

Saat kita dikritik atau dinyinyiri, tubuh memberikan respon otonom: jantung berdegup kencang, otot menegang, dan napas memendek. Jika dibiarkan menumpuk tanpa regulasi, ini bisa berubah menjadi penyakit psikosomatis seperti asam lambung atau nyeri kronis.

2. Membedakan Kritik vs. Nyinyiran

Seni Menutup Telinga
Seni Menutup Telinga

Kita sering terjebak mencoba mendengarkan semua orang. Padahal, tidak semua suara layak mendapatkan tempat di kepala kita. Kuncinya adalah melihat kapasitas pemberi kritik.

“Kalau rasa-rasanya (mereka) tidak mengerti siapa kita, ya kita enggak perlu telan mentah-mentah juga orang-orang yang kayak begini. Kalau tidak punya engagement dengan kita, ya kenapa harus kita dengerin?”

Orang-orang yang benar-benar sukses biasanya tidak akan merendahkan mereka yang baru memulai. Sebaliknya, nyinyiran sering kali datang dari mereka yang memiliki “nilai moral absolut” namun tidak mampu menerima perbedaan.

3. Kekuatan Strategi “Let Them” (Biarkan Saja)

Salah satu konsep paling menarik dalam diskusi ini adalah mempraktikkan filosofi Let Them. Ini adalah tentang melepaskan hal-hal yang berada di luar kendali kita.

“Let them itu tentang gimana kita biarin orang dengan nilai dirinya sendiri ketika itu enggak fit in dengan nilai kita. Setuju untuk tidak setuju itu adalah faktor yang sangat mampu memberikan regulasi yang sangat baik terhadap diri.”

Ketika orang lain menghakimi pilihan hidup Anda—apakah itu cara berpakaian, hobi, atau karier—biarkan mereka dengan pikirannya, dan biarkan diri Anda (let me) tetap melangkah maju.

4. Jeda 5 Detik: Cara Waras Mengatur Emosi

Dr. Geofakta menyarankan agar kita tidak reaktif. Emosi kita biasanya bereaksi 5 detik lebih cepat daripada nalar. Strateginya? Pause (Berhenti sejenak).

“Requirement-nya itu memang waktu. Artinya ada post (jeda) dan reframing. Shifting dari otak emosi (amigdala) ke otak logika (prefrontal cortex) perlu dilatih.”

Saat menerima komentar negatif di media sosial atau secara langsung, tarik napas, tunggu beberapa detik, dan tanya secara logis: “Apakah omongan ini masuk akal? Apakah ini membantu pertumbuhan saya?” Jika tidak, lepaskan.

5. Jangan “Over-sharing” Sebelum Selesai

Banyak rencana gagal karena kita terlalu cepat membagikannya ke publik. Mengapa? Karena ada “ilusi progres”.

“Ketika kita oversharing, itu ada ilusi progres. Kita merasa seolah sudah melakukan sesuatu karena sudah menceritakannya, padahal action-nya belum ada.”

Kesimpulan: Berani Memilih Ketakutan

Menjadi berani bukan berarti tidak punya rasa takut. Menjadi berani adalah tentang memilih apa yang layak kita pedulikan.

“Berani itu sebenarnya bukan karena kita enggak takut, tapi kita layak milih apa yang kita takutin.”

Jangan biarkan komentar dari orang yang tidak relevan menghentikan langkah Anda. Gunakan energi Anda untuk membangun resiliensi, regulasi diri, dan teruslah bergerak maju. Karena pada akhirnya, hidup Anda adalah milik Anda, bukan milik penonton Anda.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Menguak Sisi Gelap Ritual Epstein: Konspirasi Global, Pemujaan Iblis, dan Fitnah Dajjal

Read More :  Kamu Tak Pernah Benar-Benar Rindu. Kamu Hanya Kesepian, Lalu Mencariku

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *