Sumbu Pendek atau Tegas? Seni Mengelola Amarah Agar Tidak Menjadi Penyesalan

Diamnya Suami Saat Istri Marah
Diamnya Suami Saat Istri Marah

Pernahkah Anda merasa jauh lebih mudah meledak saat menghadapi pasangan atau orang tua dibandingkan saat menghadapi rekan kerja yang menyebalkan? Atau mungkin Anda sering merasa menyesal setelah mengeluarkan kata-kata tajam saat emosi memuncak?

Dalam Episode ke-9 Podcast Ruang Tunggu, dr. Andreas (Psikiater) dan Sara (Host) mengupas tuntas mengapa marah itu manusiawi, namun perilaku saat marah adalah pilihan. Berikut adalah rangkuman esensial untuk memahami “api” di dalam diri kita.

1. Mengapa Kita Lebih Galak pada Orang Terdekat?

Istri Marah
Istri Marah

Sering kali kita merasa bersalah karena bersikap “sumbu pendek” di rumah, padahal di luar kita dikenal sebagai pribadi yang sabar. Menurut dr. Andreas, ada dua alasan psikologis di baliknya:

  • Rasa Aman: Kita secara tidak sadar tahu bahwa keluarga atau pasangan kecil kemungkinan akan meninggalkan kita. Hal ini memberikan “kebebasan” semu untuk melepaskan emosi tanpa filter.

  • Ekspektasi Tinggi: Kita berharap orang terdekat bisa membaca pikiran atau memahami kemauan kita tanpa bicara. Ketika ekspektasi ini meleset, kekecewaan berubah menjadi ledakan.

2. Konsep “Budget Marah”

Salah satu poin paling menarik dalam diskusi ini adalah menganalogikan amarah dengan manajemen keuangan.

  • Jangan Over-Budget: Jika masalahnya sepele (seperti anak menumpahkan air), jangan keluarkan “investasi” amarah yang besar.

  • Jangan Kurang Budget: Menjadi terlalu sabar atau permisif juga berbahaya. Tanpa ketegasan (amarah yang terukur), perubahan perilaku pada orang lain sering kali tidak terjadi.

“Marahlah sesuai budgetnya. Masalah kecil, budget kecil. Masalah besar, budget besar. Yang jadi masalah adalah ketika hal kecil memicu ledakan raksasa.”

3. Teknik “STOP”: Rem Darurat Saat Emosi Memuncak

Alasan Wanita Yang Tiba-Tiba Marah Sama Kamu
Alasan Wanita Yang Tiba-Tiba Marah Sama Kamu

Saat Anda merasa rahang mengeras atau jantung berdebar kencang (fase eskalasi), dr. Andreas menyarankan teknik STOP dari terapi perilaku dialektis (DBT):

  • S (Stop): Berhenti total. Jangan bicara, jangan mengetik pesan, jangan bergerak. Jedah 0,5 detik saja bisa menyelamatkan Anda dari penyesalan seumur hidup.

  • T (Take a step back): Mundur secara fisik. Taruh HP Anda, keluar dari ruangan, atau sekadar minum air untuk memberi jarak antara Anda dan pemicu.

  • O (Observe): Amati apa yang terjadi. Mengapa saya marah? Bagian mana dari kata-katanya yang menyakitkan? Apa yang dirasakan tubuh saya?

  • P (Proceed mindfully): Lanjutkan tindakan secara sadar. Jika memang harus marah, sampaikan dengan I-statement (misal: “Aku merasa kecewa karena…”) daripada menyerang pribadi orang lain.

4. Bahaya Memendam vs. Bahaya Meledak

Memendam amarah secara total bukan berarti sehat. Stres yang tidak disalurkan (channeling) dapat memicu gangguan psikosomatik seperti sakit lambung hingga penurunan imun. Namun, sering meledak-ledak juga meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung karena lonjakan adrenalin yang drastis.

Kuncinya adalah penyaluran yang sehat, baik melalui olahraga, menulis, maupun komunikasi yang asertif.

5. Cara Meminta Maaf yang Benar

Jika Anda sudah terlanjur meledak, meminta maaf bukan sekadar formalitas.

  1. Akui Kesalahan: Jangan gunakan kata “tapi” (Misal: “Maaf ya aku marah, TAPI kan kamu yang mulai”). Itu adalah gaslighting.

  2. Tanggung Jawab: Akui bahwa meskipun Anda lelah atau lapar, itu bukan alasan yang sah untuk membentak.

  3. Rencana Kedepan: Berjanjilah untuk mencoba teknik jeda (seperti menarik napas) jika situasi serupa terulang kembali.

Kesimpulan: Marah adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu dilindungi atau diperbaiki. Tujuannya bukan untuk menjadi “zombie” tanpa emosi, melainkan menjadi nahkoda yang mampu mengendalikan badai amarah agar kapal tetap sampai ke tujuan tanpa melukai penumpang di dalamnya.

Apakah Anda sering merasa sulit mengendalikan amarah belakangan ini? Jika ya, mencoba teknik STOP di atas bisa menjadi langkah awal yang baik. Apakah Anda ingin saya membuatkan panduan praktis tentang cara menggunakan I-statement untuk menyampaikan kemarahan dengan lebih elegan?

Kamu juga membaca artikel menarik kami lainnya Menemukan Kedamaian di Tengah Kesepian: Seni Mengenal Diri ala Adjie Santosoputro

Read More :  Jangan Cuekin Pasanganmu, Karena Bisa Jadi Dia Selingkuh

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *