Inilah kisah Batara Sinta, seorang perempuan Indonesia yang membuktikan bahwa resiliensi, keberanian mengambil risiko, dan mentalitas belajar adalah kunci untuk berkembang jauh melampaui batas yang kita bayangkan. Batara Sinta, yang kini menjabat sebagai Spesialis Manajemen Sumber Daya Air di World Bank, membagikan kisahnya dalam episode terbaru podcast Suara Berkelas.
Daftar Isi
Gagal Menjadi Dokter, Ditemukan di Teknik Sipil

Bagi Batara, titik balik pertamanya adalah menerima kegagalan impian masa kecilnya. Ia gagal diterima di fakultas kedokteran umum maupun gigi, dan justru masuk ke Teknik Sipil.
“Aku sangat bersyukur karena dari kegagalan ini, it turns into blessings in disguise,” ujarnya.
Pada masanya, bidang engineering memiliki exposure dan kesempatan beasiswa yang jauh lebih besar daripada kedokteran. Kegagalan ini justru menempatkannya di jalur yang pada akhirnya membuka pintu ke panggung global.
Berangkat dari Niat “Nyentrik” Seorang Sahabat

Langkah Batara merantau ke Eropa berawal dari motivasi yang sangat tidak terduga: Seorang sahabatnya ingin sekolah di luar negeri agar bisa menikah dengan pria bule.
“Ayo Tara, ikut! Kita sekolah di luar negeri,” tiru Batara, sambil tertawa.
Meskipun niat awalnya bukan untuk mengejar karir, ajakan ini berfungsi sebagai pendorong lingkungan (supporting environment) yang memaksanya keluar dari zona nyaman. Ia mulai membuka diri, mencari tahu tentang beasiswa, dan akhirnya meraih beasiswa double degree di Belanda. Ini membuktikan bahwa motivasi, sekecil atau “sederhana” apapun, jika diikuti dengan aksi nyata, dapat membawa kita ke tempat yang sama sekali tidak terprediksi.
Pelajaran Kunci dari Negeri Kincir Angin
Selama menjalani pendidikan S1 dan S2 (Erasmus Mundus Master Degree) di Eropa, terutama Belanda, Batara mendapatkan tiga pelajaran fundamental yang membentuk mentalitasnya:
1. The Art of Taking Risk
Saat mencari magang di tengah krisis 2010 di Belanda, Batara nekad menulis CV dalam bahasa Belanda, meskipun ia hanya memiliki kemampuan bahasa yang sangat dasar.
“I was taking risk. Akhirnya aku bilang saat wawancara, ‘Aku masih dasar, tapi I’m willing to learn, jadi ajarin aku!’”
Keberanian ini berbuah manis. Ia diterima magang, dan dorongan untuk mengerjakan tesis berbahasa Belanda justru membuatnya menguasai bahasa itu lebih cepat dari teman-temannya.
2. Pentingnya Speak Up dan Adaptabilitas
Lingkungan akademik di Eropa mengajarkan rasa hormat terhadap perbedaan pendapat dan pentingnya proaktif untuk berani berpendapat (speak up). Program Erasmus Mundus yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara (seperti “PBB versi mahasiswa”) memaksanya belajar beradaptasi dan berkomunikasi lintas budaya.
3. Lingkungan yang Mendukung Growth Mindset
Batara menekankan bahwa lingkungan di luar negeri sangat mendukung konseling karir dan menyediakan banyak acara yang mempertemukan mahasiswa dengan para pakar industri, memberikan gambaran utuh tentang dunia profesional sebelum mereka lulus.
Memilih “Kolam Kecil” untuk Dampak yang Lebih Besar
Setelah bekerja permanen di Belanda selama empat tahun, Batara mengambil risiko terbesar: meninggalkan posisi nyaman untuk mengambil kontrak konsultan sementara selama satu tahun di World Bank Indonesia.
Keputusan ini didorong oleh satu nilai utama yang ia pegang teguh: berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain.
“Aku ingin mencari kolam yang serve my purpose lebih besar. Aku bisa melakukan hal yang lebih besar (di World Bank), meskipun harus keluar dari kenyamanan sementara,” jelasnya.
Pemikirannya sangat strategis. Ia memilih untuk menjadi spesialis di bidang yang langka—Hydroinformatics (Informatika di bidang air)—dan saat ini fokus pada Green Engineering. Dalam ilmu ekonomi karir, ia menyebutnya sebagai “kolam kecil”: sebuah bidang yang sedikit pesaingnya, membuat nilai dan posisi tawar (seperti pakar remote sensing di bidang air) menjadi sangat tinggi.
Green Engineering: Karir Masa Depan yang Menjanjikan
Batara Sinta kini fokus pada Green Engineering, sebuah bidang yang memanfaatkan ilmu teknik untuk mencapai keberlanjutan (sustainability) lingkungan.
Ia mencontohkan konsep menarik dari Belanda, yaitu Room for the River (memberi ruang bagi sungai), yang berupaya hidup berdampingan dengan alam daripada melawannya, serta konsep lokal Bambu Morisco yang diinisiasi oleh dosennya di UGM. Bambu, yang kuat namun lentur (strong but flexible), merupakan simbol ketahanan dan fleksibilitas yang juga dapat diterapkan dalam kehidupan.
Ia menegaskan, peluang di bidang Green Jobs sangat besar, terutama di sektor energi terbarukan (seperti hydro power dan solar panel).
Tiga Skill Abadi Versi Batara Sinta
Di tengah perubahan dunia yang cepat, Batara menutup perbincangan dengan tiga keterampilan yang menurutnya akan selalu relevan:
- Critical and Strategic Thinking: Pahami di mana posisi Anda dan nilai apa yang Anda kejar (analogikan dengan memilih “kolam kecil” atau “kolam besar”).
- Adaptability: Terus beradaptasi dan mengevaluasi diri agar tidak ketinggalan dengan perkembangan global.
- Resilience: Ketekunan, kegigihan, dan seni untuk tidak menyerah (the art of not giving up).
Akhirnya, ia berpesan: “Timing meets opportunity meets effort. It may create your reality.”
Jadilah seperti bambu: kuat, namun tetap fleksibel.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Terjebak Gaji UMR? Lupakan Saham! Ini ‘Investasi’ Paling Cerdas bagi Para Pekerja
Response (1)