Perjalanan tidak hanya tentang melihat tempat baru, tetapi juga menemukan diri yang baru. Kisah ini membawa kita melalui keindahan sureal Ladak hingga momen pencerahan spiritual di Turki yang mengubah cara pandang seseorang terhadap alam semesta.
Dalam sebuah perbincangan mendalam di kanal SUARA BERKELAS, seorang narasumber berbagi penyesalan mayoritas orang di usia 50-an karena melewatkan eksplorasi penting di usia 20-an. Namun, inti pembahasannya jauh lebih dalam dari sekadar penyesalan, melainkan sebuah kisah tentang menemukan kekecilan diri di hadapan kebesaran alam.
Ladakh: Planet Mars di Ujung Utara India

Ladak, wilayah yang terletak di ujung utara India dan berbatasan dengan Pakistan, digambarkan sebagai tempat yang sangat unik—bukan sekadar pegunungan, melainkan “seperti planet lain”.
Berbeda dengan pemandangan tropis yang biasa kita lihat, Ladak menawarkan keindahan pegunungan Himalaya yang kering dan berwarna-warni:
- Pemandangan Sureal: Puncak-puncak gunung didominasi warna cokelat, beige, dan gurun kering, dengan lapisan warna ungu akibat bias cahaya, serta salju yang menambah kontras.
- Pengalaman Three Idiots: Narasumber menyewa motor di kota Leh untuk berkeliling, mencari lokasi syuting adegan ikonik di akhir film “Three Idiots”. Pengalaman bermotor di hamparan gurun yang luas membuatnya merasa seolah-olah sedang mengendarai motor “di tengah planet Mars”.
Momen paling berkesan bukanlah tentang check-list wisata, melainkan saat ia duduk sendirian di pinggir gunung, merenungi luasnya dunia.
“Itu gila sih, itu tempat di mana gua ngerasa gua tuh kecil banget di antara besarnya alam semesta.”
Saat Matahari Terbenam Membuka Kesadaran
Namun, perjalanan fisik hanyalah permulaan. Inti dari kisah ini terletak pada perjalanan batin yang puncaknya terjadi di Turki. Saat menyaksikan matahari terbenam yang indah di pantai selatan Turki, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Narasumber, tanpa alasan jelas, mulai menangis kencang.
Awalnya ia mengira itu hanya karena terharu melihat keindahan, namun setelah merenung, ia menyadari bahwa itu adalah momen “Spiritual Awakening”.
Sejak hari itu, cara pandangnya terhadap dunia berubah total:
- Koneksi Lebih Dalam: Ia tidak lagi melihat orang dan alam hanya sebagai entitas fisik biasa.
- Bahasa Alam: Ia merasa alam itu berbahasa dan ia dapat berkomunikasi dengan pergerakan awan, lekukan ombak, dan matahari.
Pengalaman ini membuktikan bahwa ada “lebih banyak hal dalam hidup” (more to life) daripada yang biasa kita jalani, yaitu kesadaran bahwa alam semesta berbicara kepada kita.
Kamu juga bisa membaca artikel lainnya seperti Rahasia Mental Baja Usia 20-an: Dari Pewaris Jadi Perintis, Samuel Kris Bongkar Kunci Tahan Banting dan Sukses Eksponensial