Pernahkah kamu merasa hidup ini berat banget? Sedikit bentakan dari bos rasanya mental hancur. Lupa naruh kunci motor langsung panik, takut kena demensia dini. Atau, merasa gagal menjadi manusia sehat karena “cuma” tidur 5 jam, padahal Andrew Huberman bilang harus 8 jam?
Kamu tidak sendirian. Kita sering mendengar istilah “Generasi Strawberry” atau “Generasi Trauma”. Sedikit tertekan, langsung butuh healing. Tapi, sebuah pandangan menarik dari video Suara Berkelas membuka mata kita: Masalah utamanya mungkin bukan karena mental kita lemah, tapi karena kita “mabuk” informasi.
Berikut adalah fakta menohok kenapa kita jadi gampang overthinking dibandingkan generasi orang tua kita.
Daftar Isi
1. Jebakan Narasi: “Dikoreksi” vs “Disakiti”

Mari mundur ke masa lalu. Bayangkan orang tua zaman dulu yang mendidik anak dengan rotan. Terdengar kejam? Bagi standar sekarang, itu KDRT. Tapi bagi anak zaman dulu, narasi di kepala mereka berbeda.
-
Mindset Dulu: “Bapak mukul karena sayang. Bapak ingin aku jadi benar, bukan binasa. Aku dipukul berarti aku dipedulikan.”
-
Mindset Sekarang: Kita dibanjiri konten parenting ideal. Bahwa orang tua tidak boleh marah, tidak boleh main tangan. Ketika realita tidak seindah teori Instagram, narasi di kepala kita langsung berubah: “Orang tuaku toxic. Mereka narsisistik. Aku adalah korban. Mentalku hancur.”
Perbedaannya ada pada persepsi. Generasi dulu menerima rasa sakit fisik tapi batinnya merasa dicintai. Generasi sekarang mungkin fisiknya aman, tapi batinnya merasa menjadi korban (victim mentality) karena realita tidak sesuai dengan “standar ideal” yang kita baca di media sosial.
2. Bahaya “Cocoklogi” Penyakit Mental

Pernah dengar istilah “Medical Student Syndrome”? Saat mahasiswa kedokteran belajar tentang penyakit, tiba-tiba mereka merasa memiliki semua gejalanya. Nah, kita sekarang mengalami hal serupa lewat TikTok dan Google.
Dalam video tersebut dicontohkan sebuah fenomena menarik: Saat kita tidak tahu apa itu demensia (pikun), lupa naruh barang itu hal biasa. Tapi begitu kita ikut seminar atau nonton video tentang “Gejala Awal Demensia”, otak kita melakukan Prior Update.
-
Lupa kunci? “Wah, jangan-jangan demensia.”
-
Lupa nama teman? “Aduh, otakku rusak.”
Semakin banyak label psikologis yang kita tahu (Bipolar, ADHD, NPD, Trust Issue), semakin otak kita sibuk mencocokkan perilaku normal sehari-hari dengan penyakit tersebut. Hasilnya? Kita menciptakan penderitaan kita sendiri lewat cocoklogi.
3. Teori Mobil Merah & Kecemasan yang Dibuat Sendiri
Bayangkan kamu diberi tahu: “Hati-hati, mobil hijau sering lempar sampah, mobil hitam pembawa sial, mobil putih suka ngerem mendadak.” Tadinya perjalananmu ke Puncak tenang-tenang saja. Tapi karena informasi tadi, perjalananmu jadi penuh teror. Setiap lihat mobil hijau, kamu waspada. Lihat mobil hitam, kamu cemas.
Itulah yang terjadi pada hidup kita. Kita tahu terlalu banyak aturan:
-
“Tidur harus 8 jam nyenyak.”
-
“Makanan harus clean eating.”
-
“Lingkungan kerja tidak boleh toxic.”
Ketika kita tidur cuma 4 jam, kita mensugesti diri sendiri: “Besok pasti sakit, besok pasti lemas.” Dan tebak apa yang terjadi? Kamu benar-benar lemas. Bukan karena kurang tidur, tapi karena “Belief is a command to the nervous system” (Keyakinan adalah perintah bagi sistem saraf).
4. Belajar dari Kakek Usia 78 Tahun
Bandingkan dengan cerita ayah dari narasumber video tersebut. Usianya 78 tahun, tapi masih sanggup jalan kaki dari Jakarta ke Puncak (30 jam lebih!) hanya untuk iseng memecahkan rekor pribadi.
Apakah dia tidur 8 jam sehari? Tidak, dia tidur jam 12 malam, bangun jam 5 pagi. Apakah dia pusing memikirkan cortisol level? Tidak. Dia sehat karena dia tidak terbebani oleh aturan-aturan ideal yang justru membuat stres. Dia menjalani hidup dengan santai, have fun, dan tidak mendiagnosis diri sendiri setiap detik.
Jadi, Harus Bagaimana?
Artikel ini bukan mengajak kita untuk mengabaikan kesehatan mental atau membenarkan kekerasan. Tapi, ini adalah ajakan untuk memfilter informasi.
Kadang, ketidaktahuan adalah berkah (Ignorance is bliss).
-
Berhenti melabeli diri sendiri dengan istilah psikologis yang kamu dengar sekilas di medsos.
-
Berhenti terobsesi dengan rutinitas “sempurna”.
-
Ubah narasimu: Saat menghadapi tekanan, jangan langsung merasa jadi korban, tapi lihat itu sebagai ujian untuk naik kelas.
Mungkin kita tidak butuh healing ke Bali setiap bulan. Kita hanya butuh sedikit lebih “bodo amat” dan berhenti membiarkan standar internet mendikte kebahagiaan kita.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Melepas Ego: Sebuah Pelajaran Radikal tentang Hidup Tenang dari Gobind Vashdev