Melepas Ego: Sebuah Pelajaran Radikal tentang Hidup Tenang dari Gobind Vashdev

Gobind Vashdev
Gobind Vashdev

Bayangkan Anda berjalan memasuki bandara internasional, sebuah hotel bintang lima, atau mal mewah tanpa menggunakan alas kaki. Apa yang Anda rasakan? Malu? Takut dihakimi? Atau khawatir dianggap gila?

Bagi Gobind Vashdev, seorang wellness guru dan inspirator, berjalan tanpa alas kaki (nyeker) bukan sekadar gaya-gayaan atau aksi protes. Selama lebih dari 13 tahun, ini adalah latihan spiritualnya yang paling brutal namun membebaskan.

Dalam perbincangannya di kanal YouTube Rory Asyari, Gobind membongkar rahasia di balik ketenangan hidup yang sesungguhnya: seni melepaskan kemelekatan dan keberanian menantang ego sendiri.

1. Musuh Terbesar Bukan Orang Lain, Tapi Pikiran Sendiri

Gobind Vashdev
Gobind Vashdev

Gobind memulai perjalanannya bertelanjang kaki sebagai bentuk solidaritas sosial, namun ia menemukan pelajaran mental yang jauh lebih dalam. Setahun sebelum benar-benar melepas sepatunya, ia dihantui ratusan ketakutan: Bagaimana kalau dilarang masuk gedung? Bagaimana kalau klien kabur? Bagaimana kata keluarga?

Namun, setelah menjalaninya, realitas berkata lain.

“Setelah satu tahun, ada ratusan ketakutan itu… setelah dijalanin ternyata semuanya tidak terbukti. Artinya, di dunia ini yang paling berat itu bukan menjalani, tapi mikirin sesuatu yang belum dijalanin.”

Ketika ditanya Rory tentang bagaimana ia menghadapi cibiran atau tatapan aneh orang-orang yang melihatnya nyeker, jawaban Gobind menohok kesadaran kita tentang validasi sosial.

“Omongan orang enggak pernah mengganggu manusia. Tidak pernah. Yang mengganggu adalah pikiran kita sendiri yang mikirin orang lain yang sedang ngomongin kita.”

2. ‘Grounding’: Koneksi yang Hilang dengan Bumi

Amanda Manopo dan Kenny Austin
Amanda Manopo dan Kenny Austin

Di balik filosofi mentalnya, ada alasan kesehatan yang mendasari keputusan Gobind. Ia mempraktikkan Grounding—menghubungkan tubuh langsung dengan permukaan bumi untuk menyeimbangkan ion tubuh.

Gobind menjelaskan bahwa manusia modern kehilangan koneksi ini karena isolasi karet sepatu dan lantai gedung tinggi. Padahal, bersentuhan dengan tanah, pasir, atau rumput selama 30 menit sehari bisa meningkatkan kualitas tidur, meredakan inflamasi, dan menstabilkan emosi.

“Kita dapat banyak ion positif dari matahari, tapi kita enggak dapat elektron negatif dari bumi… Ketidakseimbangan magnetik di dalam tubuh kita itu menyebabkan masalah kesehatan.”

3. Ikhlas Itu Kata Kerja, Bukan Kata Sifat

Salah satu bagian paling mengejutkan dari wawancara ini adalah pandangan Gobind tentang hak cipta. Buku terlarisnya, Happiness Inside, tidak memiliki Copyright, melainkan Copyleft.

Ia mengizinkan siapa saja membajak, memfotokopi, mengganti sampul, bahkan mengganti nama penulisnya dan menjualnya kembali. Mengapa? Karena bagi Gobind, belajar ikhlas tidak bisa hanya lewat teori di mimbar agama.

“Kita enggak bisa sabar dengan hanya baca kitab suci, enggak bisa. Kita enggak bisa ikhlas dengan dengar ceramah podcast begini, enggak bisa. Kita harus berpraktik… Ini (Copyleft) adalah praktik keikhlasan saya.”

Ia percaya pada hukum alam: tidak ada ruang hampa. Apa yang dilempar ke alam semesta, kebaikan maupun keburukan, akan kembali pada pemiliknya.

4. Jebakan “Narkoba” Bernama Pujian

Lebih Baik Dibenci Jadi Diri Sendiri
Lebih Baik Dibenci Jadi Diri Sendiri

Gobind menyoroti betapa manusia modern kecanduan “narkoba” sosial: pujian, penerimaan, dan pengakuan. Kita membeli barang mewah, mengejar jabatan, atau memoles penampilan seringkali bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk memberi makan ego yang lapar akan validasi.

“Waktu kecil kita disuntik begitu banyak ‘narkoba’: persetujuan, penerimaan, pujian, penghargaan. Sewaktu besar kita enggak dapat itu semua… Maka itu kita ingin memunculkan diri kita untuk mendapatkan narkoba itu.”

Ia menekankan bahwa ego tidaklah salah, ia hanya tidak sadar. Kuncinya adalah menyadari motif di balik tindakan kita: Apakah saya melakukan ini karena saya butuh, atau karena saya ingin orang lain melihat saya hebat?

5. Cinta vs. Kemelekatan: Sebuah Tamparan Keras

Mungkin ini adalah poin paling kontroversial namun filosofis dari Gobind. Ia mengajak kita merenung: apakah kita benar-benar mencintai pasangan atau anak kita? Atau kita hanya mencintai konsep tentang mereka di kepala kita?

Ketika pasangan tidak lagi sesuai dengan bayangan ideal kita (menjadi tua, sakit, atau berubah sifat), rasa cinta itu seringkali luntur. Itu bukti bahwa yang kita cintai adalah syarat-syaratnya, bukan jiwanya.

“Sebenarnya kita cinta dia atau cinta dengan pikiran-pikiran kita? … Cinta menurut saya adalah hilangnya kebencian. Anda enggak bisa cinta dengan kaum tertentu dan membenci kaum tertentu. Enggak ada. Cinta itu esensi dari diri kita.”

Penutup: Berhenti Belajar, Mulai Praktik

Artikel ini mungkin memberi Anda inspirasi, tetapi seperti kata Gobind, inspirasi tanpa eksekusi hanyalah hiburan intelektual. Hidup tenang tidak dimulai saat saldo rekening penuh atau saat semua orang memuji Anda. Hidup tenang dimulai saat Anda berani melepaskan kemelekatan, berhenti takut pada penilaian orang, dan mulai berdamai dengan diri sendiri.

“Kita belajar fisika, kimia, matematika ribuan jam dan kita lupakan. Sementara emosi, yang dari lahir sampai akhir hidup kita bawa, kita enggak pernah belajar.” — Gobind Vashdev

Kamu juga bisa membaca artikel menarik lainnya seperti Bedah Isi Kepala Dosen ITB: Kunci Sukses di Era AI, dari Growth Mindset hingga Merancang CV Masa Depan

Read More :  Hentikan Scroll! Ini yang Terjadi pada Hidup dan Otakmu dalam 7 Hari

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *