Jebakan “Toxic Self-Development”: Saat Upaya Menjadi Lebih Baik Justru Menghancurkanmu

Toxic relationship
Toxic relationship

Di era digital saat ini, narasi untuk menjadi “versi terbaik dari diri sendiri” ada di mana-mana. Kita didorong untuk lebih produktif, bangun lebih pagi, dan membaca lebih banyak buku. Namun, psikolog Nago Tejena dalam wawancara di kanal Coach Anez memperingatkan adanya bahaya tersembunyi di balik obsesi ini.

1. Hukum Hasil yang Menurun (The Law of Diminishing Return)

Lingkungan Toxic
Lingkungan Toxic

Sama seperti dalam ekonomi, penambahan usaha dalam pengembangan diri tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. Ada titik di mana bekerja lebih keras justru merusak aspek kehidupan yang lain.

“Kadang ketika kita kerja lebih keras, artinya kita akan mengambil bagian dari aspek hidup kita yang lain… kesuksesan yang kita harapkan malah semakin jauh karena pondasinya goyah.”

Banyak orang merasa bangga saat kurang tidur atau terlalu sibuk, padahal secara mental mereka kosong. Niat yang awalnya baik untuk berkembang, justru berubah menjadi beban yang melelahkan.

2. Bahaya “Rabbit Hole” Informasi

Tipe Teman Toxic
Tipe Teman Toxic

Kita sering terjebak dalam siklus mengonsumsi konten pengembangan diri tanpa henti—menonton video, ikut kelas, membaca buku—tapi hidup tidak kunjung berubah. Nago menekankan pentingnya untuk sesekali berhenti mencari dan mulai menentukan.

“Di situ justru kita mesti mulai berhenti dan nanya ke diri kita: apa ini jangan-jangan gua nanya terus ya, tapi enggak berhenti dan enggak memberikan jawaban gua nih maunya apa.”

Menurutnya, pengembangan diri yang sehat adalah tentang keberanian untuk mengambil risiko dan membuat keputusan, bukan sekadar menumpuk informasi.

3. Mengorbankan Diri yang Lama

Tanda-Tanda Kamu Sedang Menjalani Hubungan Toxic
Tanda-Tanda Kamu Sedang Menjalani Hubungan Toxic

Untuk sampai ke tujuan baru, kita seringkali tidak bisa menggunakan “alat” yang sama yang membawa kita ke posisi saat ini. Bertumbuh berarti berani melepaskan sebagian identitas lama.

“Apa yang membuatmu sampai sini, tidak akan membuatmu sampai sana.”

Nago memberikan contoh bagaimana sifat “penurut” mungkin membantu seseorang sukses di sekolah, namun saat masuk ke dunia kerja yang dinamis, sifat itu justru bisa menghambat kreativitas dan kemajuan karirnya.

4. Menemukan Kebebasan Melalui Hobi yang “Sia-sia”

2090484017
instagram.com/@hanggini

Di tengah tuntutan untuk selalu produktif, hobi seringkali dipaksa untuk menghasilkan uang (monetisasi). Padahal, esensi hobi adalah tentang kebebasan tanpa alasan logis.

“Justru hobi itu untuk menghabiskan uang… melakukan hal yang technically di atas kertas ini enggak produktif, tapi gua tetap memilih itu karena itu memenuhi kebebasan jiwa gua.”

5. Menjadi Otentik untuk Menghindari Burnout

Salah satu pemicu utama kelelahan mental (burnout) adalah ketika kita sibuk berkompetisi di jalur orang lain. Nago mengutip prinsip bahwa otentisitas adalah kunci untuk lepas dari kompetisi yang melelahkan.

“Ketika lu udah otentik, lu enggak akan sibuk berkompetisi… lu jalan di jalan lu sendiri. Yang membuat orang jadi burnout adalah ketika dia enggak berjalan di jalannya dia.”

Kesimpulan

Pengembangan diri seharusnya tidak membuat kita merasa “kurang” terus-menerus. Kuncinya adalah keseimbangan—tahu kapan harus memacu diri dan kapan harus berhenti sejenak untuk menikmati hidup. Seperti yang disampaikan di awal diskusi, tujuannya bukan hanya terlihat sukses di luar, tapi juga terasa utuh di dalam.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Nikah Muda: Solusi Hidup atau Jebakan “Otak Belum Matang”?

Read More :  Pembeli Sampai Antri, Cobain 3 Menu Gyoza Ikhana Kitchen Kalau Ke Malang!

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *