Di tengah gempuran tren nikah muda yang sering berseliweran di media sosial, muncul sebuah frasa populer di kalangan anak muda: “Ah capek cari uang, mending nikah aja.” Seolah-olah, pernikahan adalah pintu darurat untuk keluar dari kelelahan hidup. Namun, benarkah demikian?
Dalam diskusi hangat di Podcast Ruang Tunggu, dr. Andreas, Sp.KJ, seorang psikiater, membedah fenomena ini dari sudut pandang medis dan psikologis.
Daftar Isi
1. Masalah “Prefrontal Cortex” yang Belum Matang

Secara medis, dr. Andreas menekankan bahwa kedewasaan bukan hanya soal angka di KTP. Bagian otak yang berfungsi untuk logika, perencanaan, dan pengambilan keputusan—disebut Prefrontal Cortex (PFC)—baru matang sepenuhnya di usia 21 hingga 25 tahun.
“Kalau kita ngomongin secara otak, sebenarnya ngeri loh kalau menikah di usia sebelum 21 tahun… Artinya sebelum itu, semua keputusan kita kayaknya sih setengah matang.” — dr. Andreas
Ketika seseorang menikah sebelum usia 21 tahun, bagian otak emosionalnya sudah berkembang pesat, namun logika belum mampu mengejar. Akibatnya, rasa cinta yang dirasakan sangat menggebu-gebu, namun seringkali mengabaikan tanda-tanda bahaya (red flags).
2. Terjebak dalam “Survivorship Bias”

Mengapa banyak orang tetap nekat nikah muda? dr. Andreas menjelaskan adanya fenomena Survivorship Bias. Kita sering disuguhi cerita sukses pasangan nikah muda yang tampak bahagia dan “glow up” di media sosial.
“Orang-orang yang menikah muda dan tidak sukses, yang hidupnya berantakan, mereka tidak punya platform untuk menyampaikan itu. Kita cuma mendengar informasi dari survivor (orang yang berhasil).” — dr. Andreas
Kita hanya melihat puncak gunung es, tanpa tahu ribuan orang lainnya yang menyesal karena memutuskan menikah sebelum mereka benar-benar mengenal diri sendiri.
3. Mencari Jati Diri vs. Mencari Cinta

Mengutip teori perkembangan psikososial Erik Erikson, dr. Andreas menjelaskan bahwa masa remaja (12-20 tahun) seharusnya adalah fase untuk mencari identitas (identity), bukan keintiman (intimacy).
“Masa remaja itu bukan waktu untuk mencari cinta, tapi untuk mencari jati diri… Seorang anak perlu mengenali ‘Aku ini siapa sih? Aku maunya apa?’” — dr. Andreas
Bahayanya, jika seseorang menikah sebelum tahu jati dirinya, ia akan menggantungkan seluruh identitasnya pada pasangannya. Ketika peran itu hilang atau pasangan tidak sesuai harapan, ia akan mengalami krisis identitas yang berat di kemudian hari.
4. Menikah Bukan Pintu Keluar Masalah

Bagi mereka yang berpikir menikah adalah solusi dari masalah ekonomi atau kesepian, dr. Andreas memberikan pengingat yang cukup menohok. Pernikahan bukan sekadar hidup bersama, melainkan keterampilan negosiasi yang kompleks.
“Bukannya menikah itu adalah menambah masalah? … Kemampuan untuk komunikasi dan negosiasi itu yang paling penting.” — Sora & dr. Andreas
Kesimpulan: Siapkah Anda?
Sebelum memutuskan untuk melangkah ke pelaminan di usia muda, dr. Andreas menyarankan tiga langkah “Semangka” (Solusi Kehidupan):
-
Awareness: Sadari alasan jujur Anda ingin menikah (apakah karena cinta, atau sekadar takut kesepian?).
-
Analisis Kesiapan: Bayangkan jika Anda menikah hari ini, sejauh mana kesiapan finansial dan mental Anda menghadapi konflik?
-
Fleksibilitas: Tanyakan pada diri sendiri, “Kenapa harus sekarang? Apa salahnya jika menunggu beberapa tahun lagi?”
Pernikahan adalah lari maraton, bukan sprint. Memastikan “mesin” (otak dan mental) Anda siap sebelum bertanding adalah kunci agar tidak menyesal di tengah jalan.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Seni Menghadapi Perselingkuhan, Trauma, dan Menjadi Diri Sendiri
Response (1)