Ketika Lulusan Psikologi Terjebak Depresi 10 Tahun: Sebuah Perjalanan Menemukan Harapan di Balik Stigma

500820129
menumbuhkan rasa empati, tanggung jawab, dan kasih sayang, serta membantu mengurangi stres dan risiko alergi.

Pernahkah Anda mendengar kalimat: “Kamu depresi karena kurang ibadah”? Di Indonesia, kesehatan mental sering kali masih dianggap sebagai “kegagalan spiritual”. Namun, bagi Regis Machdy, seorang praktisi kesehatan mental dan penulis buku bestseller, depresi bukan sekadar soal iman—itu adalah badai medis dan emosional yang nyata.

Dalam episode terbaru Podcast Ruang Tunggu, Regis membagikan kisah personalnya yang mentah dan jujur: tentang bagaimana seorang ahli psikologi justru sempat tersesat dalam labirin pikirannya sendiri selama satu dekade.

Ironi Sang Ahli: “Saya Tahu Teorinya, Tapi Tidak Menyadari Gejalanya”

Shershaah
Shershaah

Meski memiliki latar belakang pendidikan psikologi hingga jenjang S2 di Glasgow, Regis mengaku sempat mengalami fase penyangkalan (denial). Ia mempelajari gejala depresi dari buku teks, namun ketika dunia pribadinya mulai runtuh, ia merasa gejala itu hanya milik “pasien di rumah sakit jiwa”.

Ia didiagnosis menderita kombinasi Depresi Mayor dan Dysthymia (gangguan suasana hati kronis). Baginya, depresi bukan hanya sekadar sedih; itu adalah kondisi di mana ia bisa menatap langit-langit kamar selama 4 jam hanya karena tidak punya energi untuk sekadar pergi ke kamar mandi.

Surat 11 Halaman yang Tak Terbalas

Shershaah
Shershaah

Salah satu momen paling emosional dalam perjalanannya adalah ketika ia mencoba menjembatani jurang pemahaman dengan keluarganya. Regis menulis surat sepanjang 11 halaman dari Inggris untuk menjelaskan kondisinya kepada orang tuanya.

Namun, respon yang didapatnya saat itu adalah keheningan. “Keluarga awalnya tidak paham. Mereka menganggap itu hanya fase sesaat,” kenangnya. Hal ini menjadi cermin bagi banyak penyintas depresi di Indonesia yang sering kali merasa sendirian justru di tengah orang-orang terdekatnya.

Read More :  Mood Swing Menganggu Aktivitas Dan Pekerjaan? Yuk Atasi Dengan 7 Cara Ini

Titik Balik: Menemukan Diri di Lantai Dansa

HP OmniBook 5
HP OmniBook 5

Setelah bertahun-tahun menjalani pengobatan dan konseling, Regis menemukan “obat” yang tak terduga: Menari.

Pada tahun 2022, ia memutuskan untuk rehat sejenak ke Bali. Di sana, ia melepaskan identitasnya sebagai dosen atau penulis, dan menjadi “manusia” seutuhnya melalui gerakan.

  • State of Flow: Menari membantunya keluar dari pikiran negatif dan masuk ke dalam harmoni antara tubuh dan musik.

  • Melawan Harga Diri Rendah: Dengan menari di depan cermin bersama orang lain, ia belajar menerima kegagalan dan ketidaksempurnaan dirinya.

Pesan untuk Para Penyintas: “Jangan Takut Kambuh”

Kini, di tahun 2026, Regis tampil dengan energi baru. Namun, ia tetap realistis. Ia tidak menggunakan istilah “sembuh total”, melainkan “pulih”.

“Bedanya dulu dan sekarang adalah: jika suatu saat saya jatuh lagi, saya sudah punya ‘kotak p3k’ mental. Saya punya pengetahuan, support system, dan keyakinan bahwa saya pernah berhasil keluar dari sana sebelumnya.”

3 Pelajaran Utama dari Perjalanan Regis Machdy:

  1. Depresi adalah Masalah Medis, Bukan Moral: Jangan biarkan stigma “kurang iman” menghalangi Anda mencari bantuan profesional.

  2. Cari ‘Jendela’ Anda Sendiri: Jika olahraga tidak cocok, mungkin menulis, melukis, atau menari bisa menjadi cara Anda berdialog dengan tubuh.

  3. Harapan adalah Separuh Perjalanan: Percaya bahwa hari esok bisa lebih baik adalah bahan bakar utama untuk terus bergerak.

Regis membuktikan bahwa bahkan di balik awan gelap selama 10 tahun, ada kemungkinan untuk kembali berdansa di bawah cahaya.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Menjadi Berkelas: Mengapa “Berani Terlihat Bodoh” Adalah Kunci Pertumbuhan Diri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *