Dalam dunia kesehatan, kita sering mendengar doktrin lama: “Sarapan adalah makanan terpenting hari ini.” Namun, seiring populernya tren Intermittent Fasting, banyak orang justru mulai meninggalkan meja makan di pagi hari. Sebaliknya, makan malam sering dikambinghitamkan sebagai penyebab utama perut buncit.
Lalu, mana yang benar? Dr. Hans melalui channel SB30 Health membongkar mitos ini dengan satu prinsip sederhana: Tubuh Anda bukan mesin yang mengikuti jam dinding, melainkan jam biologis.
Daftar Isi
1. Perang Antara Jam Dinding dan Jam Biologis

Banyak orang terjebak menghitung jam makan berdasarkan waktu lokal, padahal tubuh kita memiliki sistem internal yang disebut Chronotype.
“Antara jam biologis tubuh dengan jam yang kita lihat di jam dinding itu tidak selalu linier… Jam 8 malam di Indonesia tidak sama dengan jam 8 malam di negara lain. Jadi, jangan mematok jam makan hanya berdasarkan angka di jam tangan.” — Dr. Hans
Artinya, tidak ada aturan kaku apakah Anda “wajib” sarapan atau “haram” makan malam. Semuanya kembali pada jadwal kerja, aktivitas fisik, dan bagaimana tubuh Anda beradaptasi.
2. Dilema Makan Malam dan Kualitas Tidur
Pernahkah Anda merasa sangat lelah tapi mata sulit terpejam? Bisa jadi itu karena perut Anda kosong atau justru salah pilih menu. Di sinilah terjadi “pertempuran” hormon antara Insulin dan Kortisol.
Jika Anda tidur dalam kondisi kelaparan atau setelah makan karbohidrat berlebih (seperti nasi goreng), gula darah akan turun drastis (drop). Akibatnya, hormon kortisol naik untuk menyeimbangkannya.
“Kortisol akan meningkat ketika kalian tidak makan malam. Efeknya? Kalian jadi tidak bisa tidur atau susah tidur. Tubuh kita menginginkan gula darah yang stabil, bukan roller coaster.” — Dr. Hans
Tips Makan Malam: Pilih protein sedang dan lemak baik (seperti alpukat atau sup ayam) sekitar 3-4 jam sebelum tidur.
3. Belajar dari Jepang: Konsep “Hara Hachibu”

Dr. Hans mengajak kita melirik budaya Jepang, khususnya Okinawa, yang terkenal dengan umur panjangnya. Mereka tidak makan sampai begah, melainkan berhenti sebelum kenyang.
“Ada slogan di sana: ‘Hara hachibu ni isha irazu’. Artinya, orang yang makan 80% kenyang itu tidak butuh dokter.” — Dr. Hans
Selain porsi, mereka menggunakan konsep Ichiju Sansai (satu sup, tiga lauk). Ini adalah cara sederhana memastikan nutrisi mikro (vitamin & mineral) terpenuhi tanpa harus makan dalam porsi raksasa.
4. Nutrisi vs Higienis: Mana yang Lebih Penting?
Di tengah hiruk-pikuk program makan gratis dan gaya hidup instan, Dr. Hans mengingatkan bahwa makanan sehat tidak harus mahal, tapi harus tepat.
“Makan bergizi itu bukan cuma urusan karbohidrat dan protein. Setelah higienis, perhatikan variasi warnanya. Semakin banyak variasinya, semakin lengkap asam amino dan lemak esensial yang didapatkan tubuh.” — Dr. Hans
Kesimpulan: Dengarkan Tubuh, Bukan Tren
Pada akhirnya, perdebatan antara makan pagi vs makan malam akan selalu dimenangkan oleh keteraturan. Tubuh manusia adalah ahli adaptasi yang luar biasa, asal kita memberikan konsistensi.
“Kebutuhan nutrisi itu bisa kita penuhi sepanjang hari, tidak hanya waktu di pagi hari. Tidak perlu ikut-ikutan (FOMO), sesuaikan dengan pekerjaan dan kondisi kesehatan masing-masing.” — Dr. Hans
Langkah Selanjutnya: Apakah Anda merasa lebih bugar saat melewatkan sarapan atau justru butuh tenaga ekstra di pagi hari? Cobalah untuk mulai memperhatikan kualitas tidur Anda malam ini sebagai indikator apakah pola makan Anda hari ini sudah benar.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Menelusuri Labirin Mental Gen Z: Antara Anxiety, Depresi, dan Jeratan NPD
Response (1)