Di era media sosial yang serba cepat, istilah seperti Anxiety, Burnout, hingga NPD bukan lagi sekadar istilah medis, melainkan bahasa sehari-hari bagi Generasi Z. Namun, bagi orang tua, istilah-istilah ini sering kali dianggap sebagai “manja” atau “kurang ibadah.” Melalui bincang-bincang di kanal Helmy Yahya Bicara, psikiater dr. Vivi Syarif mengupas tuntas apa yang sebenarnya terjadi di balik kesehatan mental generasi muda saat ini.
Daftar Isi
1. Fenomena NPD: “Ibu Gue NPD, Bos Gue NPD”

Salah satu topik yang paling hangat dibahas adalah Narcissistic Personality Disorder (NPD). Menariknya, banyak anak muda datang ke psikiater bukan karena mereka merasa sakit, melainkan karena mereka merasa menjadi korban dari orang dengan kepribadian narsistik.
“Mereka datang sebagai korban NPD. Dok, kayaknya ibu gue NPD deh. Dok, aku stres bos aku NPD,” ungkap dr. Vivi.
NPD bukan sekadar hobi selfie, melainkan gangguan kepribadian di mana seseorang merasa memiliki kuasa besar, haus pengaguman, namun minim empati. Salah satu ciri bahayanya adalah Gaslighting.
“Gaslighting itu membuat korbannya ragu mana yang realita mana yang bukan… diputarbalikkan fakta sehingga istri atau bawahan merasa mereka yang bersalah,” jelasnya.
2. Anxiety dan Depresi: Bukan Sekadar Sedih Biasa

Dr. Vivi menjelaskan perbedaan mendasar antara rasa cemas biasa dan gangguan klinis. Anxiety sering kali dipicu oleh overthinking terhadap masa depan atau tekanan media sosial.
“Gejalanya rasa cemas, khawatir, was-was terus-menerus, jantung berdebar, hingga keringat dingin,” kata dr. Vivi.
Jika tidak ditangani, kecemasan bisa merosot menjadi depresi, di mana seseorang kehilangan energi bahkan untuk sekadar bangun di pagi hari.
“Untuk bangun itu efforts banget buat orang depresi. Pagi hari jadi masa paling sulit karena energinya nggak ada, motivasi nggak ada,” tambahnya.
3. Jebakan “Kurang Ibadah” dan Luka Batin

Salah satu poin krusial dalam diskusi ini adalah kritik terhadap stigma orang tua yang sering kali membenturkan masalah mental dengan agama.
“Begitu anak minta ke psikolog, orang tua bilang: ‘Udah deh ibadah aja, kamu tuh kurang bersyukur, kurang berdoa.’ Ini yang bikin anak zaman sekarang jadi anti sama agama,” tegas dr. Vivi.
Sering kali, masalah mental ini berakar dari Generational Trauma—trauma yang diturunkan dari kakek-nenek ke orang tua, lalu ke anak melalui pola asuh yang penuh tekanan atau kekerasan verbal.
4. Solusi: Seni Mendengarkan Tanpa Menghakimi

Bagi orang tua atau atasan yang menghadapi Gen Z, dr. Vivi memberikan kunci sederhana namun sulit dilakukan: Public Listening.
“Orang tua itu template-nya ngomong, nasehatin, ngajarin. Padahal yang dibutuhkan adalah mendengar tanpa judgement (menghakimi),” saran dr. Vivi.
Ia juga menyarankan teknik Mindfulness, yaitu fokus pada masa kini tanpa menghakimi pikiran sendiri.
Kesimpulan
Dunia telah berubah, dan tantangan mental yang dihadapi Gen Z jauh lebih kompleks karena keterbukaan informasi yang tanpa filter. Memahami kesehatan mental bukan berarti memaklumi perilaku manja, melainkan membangun komunikasi yang sehat untuk memutus rantai trauma antargenerasi.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Seni Mengelola Uang: Mengapa Menjadi Kaya Bukan Hanya Soal Angka, Tapi Soal Jiwa
Response (1)