Di dunia yang serba cepat ini, banyak dari kita merasa terbebani oleh luka masa lalu atau trauma yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Seringkali, kita merasa tertekan untuk terus “bercerita” agar bisa sembuh.
Namun, Coach Anez dalam sebuah bincang-bincang mendalam mengungkapkan perspektif baru: pemulihan sejati terkadang tidak butuh cerita, melainkan koneksi dengan kesadaran diri.
Daftar Isi
1. Kembali ke “Napas”, Kembali ke Kesadaran

Pemulihan seringkali dianggap sebagai proses yang rumit, namun Coach Anez menyederhanakannya melalui konsep “Langit Kesadaran”.
“Sebenar-benarnya pulih dari trauma atau luka adalah dengan terhubung dengan langit kesadaran. Praktiknya gimana? Luangin waktu untuk duduk diam, pause momen, sadari napas.” [00:00:00]
Menurutnya, saat kita menyadari napas, kita sedang mengaktifkan dimensi kesadaran yang berada di momen here and now (saat ini), bukan terjebak dalam memori masa lalu yang menyakitkan.
2. Krisis Pendengar di Dunia yang Hobi Berbicara

Salah satu alasan mengapa orang takut bercerita adalah karena lingkungan yang tidak lagi mampu mendengarkan tanpa menghakimi. Kita hidup di era di mana semua orang ingin didengar, namun sedikit yang mau mendengar.
“Kita kekurangan pelatihan deep listening. Banyak sekali pelatihan public speaking. Kalau semuanya speaking, siapa yang dengerin?”
Efeknya, banyak dari kita menjadi terlalu cepat memberikan penghakiman atau asumsi saat orang lain baru mulai terbuka. Inilah yang membuat proses bercerita terkadang justru menambah luka baru.
3. Rahasia Deep Listening: Menghilangkan Ego

Coach Anez menjelaskan bahwa menjadi pendengar yang baik sebenarnya adalah bentuk latihan spiritual untuk mengecilkan ego.
“Pendengar yang baik adalah pendengar yang tiadanya ‘aku’. Bukan aku mendengarkan, tapi hanya mendengarkan… Tidak ada asumsiku, tidak ada penilaianku, tidak ada aku yang menyiapkan jawaban setelah dia menutup mulutnya.” [00:04:13]
Dengan mendengarkan tanpa ego, kita memberikan ruang bagi orang lain untuk menemukan jawaban yang sebenarnya sudah ada di dalam diri mereka sendiri.
4. Feeling Better vs Healing Better

Dalam perjalanan konseling, Coach Anez sering menemukan perbedaan antara orang yang benar-benar ingin sembuh dengan orang yang hanya ingin merasa nyaman sesaat.
“Banyak orang mungkin bilang kepengin sembuh, tapi sebenarnya hanya kepengin feeling better aja. Itu dua hal yang berbeda.”
Feeling better mungkin hanya melibatkan divalidasi atau “dipuk-puk” secara emosional. Sementara healing better membutuhkan kesiapan untuk melakukan kerja batin yang lebih dalam dan jujur terhadap diri sendiri.
5. Jawaban Itu Ada di Dalam Dirimu
Pesan penutup yang kuat dari diskusi ini adalah bahwa seorang profesional (coach atau konselor) bukanlah “pemberi jawaban” atau penentu masa depan seseorang.
“Banyak orang ini sebenarnya hanya perlu didengerin, bukan dikasih nasihat. Karena jawabannya sudah di dalam dirinya sendiri.”
Kesimpulan
Healing tidak selalu tentang membongkar kembali semua memori masa lalu di hadapan orang lain. Terkadang, healing adalah tentang diam, menarik napas, dan belajar untuk benar-benar hadir. Baik itu hadir untuk diri sendiri dalam keheningan, atau hadir bagi orang lain sebagai pendengar yang utuh.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Rahasia Keuangan yang Jarang Diungkap: Mengapa “Gaji Cukup” Bisa Jadi Mitos Berbahaya?
Response (1)