Menavigasi Uang di Tahun 2026: Strategi Bertahan dari Guncangan Ekonomi dan Ancaman AI

Menavigasi Uang di Tahun 2026
Menavigasi Uang di Tahun 2026

Di tengah ketidakpastian global, mengelola keuangan pribadi bukan lagi sekadar menabung, melainkan sebuah strategi bertahan hidup. Dalam podcast terbaru Raditya Dika bersama pakar keuangan Wina Hananto, terungkap berbagai fakta mengejutkan tentang kondisi pasar tahun 2026 dan bagaimana kita harus bersiap menghadapi masa depan yang semakin terotomasi.

1. Realita Pasar: Emas Sang Juara, Bitcoin yang Fluktuatif

Uang
Uang

Tahun 2025 memberikan pelajaran berharga bagi para investor. Emas secara mengejutkan melesat hingga 64%, sementara IHSG mencapai level tertinggi meski banyak saham perbankan besar justru memerah.

“Beli di harga lebih rendah, jual di harga lebih tinggi. Kamu baru untung kalau kamu sudah eksekusi jual. Kalau belum, itu cuma angka di atas kertas.”Wina Hananto

Pesan utamanya jelas: jangan terlena dengan angka kenaikan di aplikasi jika Anda tidak tahu kapan harus merealisasikan keuntungan tersebut demi tujuan hidup yang nyata.

2. Fokus pada Tujuan, Bukan Sekadar Angka

Wina Hananto menekankan perbedaan besar antara menjadi seorang trader dan seorang perencana keuangan. Bagi seorang ayah yang menyiapkan dana pendidikan, kenaikan aset 100% tidak berarti apa-apa jika uangnya belum cukup untuk membayar SPP sekolah anak.

“Investasi itu harus bikin kita bisa tidur nyenyak. Kalau jangkanya sudah dekat (kurang dari 3 tahun), ngapain kasih eksposur risiko lebih besar lagi? Parkir saja uangnya ke tempat aman.”Wina Hananto

3. “Job Hugging”: Bertahan di Era AI dan Mesin

Salah satu bahasan paling provokatif dalam diskusi ini adalah ancaman pengangguran massal akibat teknologi. Wina memperingatkan bahwa mesin dan AI mulai mengambil alih peran manusia, bahkan di sektor manufaktur.

“Sebagai pakar perencanaan keuangan, saya lebih takut orang tidak punya pekerjaan daripada harga produk investasi turun. Karena investasi itu berasal dari hasil kerja.”Wina Hananto

Kuncinya adalah memiliki keterampilan yang sulit digantikan mesin. Raditya Dika menggarisbawahi pentingnya memiliki core skill (seperti kemampuan bercerita atau storytelling) yang bisa diadaptasi ke berbagai zaman dan medium.

4. Menuju Pensiun: Aset Akumulatif vs Generatif

Ilmu Keuangan yang Bikin Gen Z Anti-Miskin
Ilmu Keuangan yang Bikin Gen Z Anti-Miskin

Banyak orang terjebak hanya mengumpulkan aset (akumulatif) tanpa memikirkan bagaimana aset tersebut menghasilkan uang secara rutin (generatif) saat mereka sudah tidak bekerja lagi.

“Untuk yang sudah pensiun atau mencapai financial freedom, posisinya harus punya banyak aset generatif: bisnis, properti yang disewakan, surat berharga dengan dividen, atau kekayaan intelektual dengan royalti.”Wina Hananto

5. Pesan untuk Generasi “Ayam Geprek”

Wina mengingatkan bahaya Sandwich Generation yang bisa berubah menjadi “Ayam Geprek Generation”—terhimpit lebih keras jika generasi orang tuanya tidak memiliki persiapan pensiun yang matang di tahun 2045.

“Tahun 2045 kita berisiko tidak bisa pensiun karena kehabisan uang. Jadi, yang umurnya sudah 40 tahun ke atas, tolong berbenah sekarang. Saya tidak mau kita miskin bareng-bareng.”Wina Hananto

Kesimpulan: Eksperimen adalah Guru Terbaik

Jangan hanya menjadi pengamat. Mulailah melakukan “eksperimen finansial” dengan nominal kecil untuk memahami karakter produk investasi sebelum terjun sepenuhnya.

“Belajar investasi itu ibarat belajar berenang. Lu kapan mau tahunya kalau nggak pernah nyebur? Tapi nyeburnya di kolam cetek dulu, pakai pelampung.”Wina Hananto

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Benarkah Hanya Satu Golongan yang Selamat? Membedah Mitos dan Hakikat Hadis 73 Golongan

Read More :  5 Trik Sukses Segera Mendapatkan Pekerjaan. Biar Nggak Lama- Lama Menganggur! 

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *