Di dunia yang semakin terkoneksi secara digital, ironisnya manusia justru merasa semakin sendirian. Kita terjebak dalam gulungan pesan singkat dan notifikasi, namun kehilangan sentuhan emosional yang mendalam. Fenomena ini disebut Adjie Santosoputro sebagai “Loneliness Pandemic” atau pandemi kesepian.
Melalui bincang-bincang di CEO Room, Adjie membedah mengapa kita sering merasa hampa dan bagaimana cara “pulang” ke diri sendiri melalui kacamata mindfulness.
Daftar Isi
1. Tubuh Adalah Rumah Bagi Mental

Banyak orang terlalu fokus menyembuhkan pikiran tapi mengabaikan badan. Adjie menekankan bahwa fisik dan psikis adalah satu kesatuan (wholeness).
“Mental itu rumahnya di fisik,” ujarnya. Ia menceritakan bagaimana olahraga angkat beban bukan sekadar membentuk otot, tapi memberikan rasa “hangat” pada tubuhnya yang cenderung dingin secara energi. Tubuh yang kuat dan bugar menjadi fondasi yang kokoh agar mental tidak mudah goyah.
2. Kamu Bukanlah Pikiranmu: Tiga Lapisan Kesadaran

Pernahkah Anda merasa diserang oleh pikiran buruk Anda sendiri? Adjie membagikan rahasia besar untuk berdamai dengan hal tersebut melalui konsep tiga lapisan:
-
Pikiran: Arus ide, kecemasan, dan suara-suara di kepala.
-
Aku (Self-Image): Label yang kita berikan pada diri sendiri (nama, jabatan, status).
-
Kesadaran (True Nature): Inti terdalam yang mengamati pikiran dan si “Aku”.
Saat kita sedih atau cemas, ingatlah bahwa itu hanyalah “awan” yang melintas, sementara diri kita yang asli adalah “langit” yang luas. Langit tidak pernah rusak hanya karena ada awan mendung. Dengan menciptakan jarak antara “diri” dan “pikiran”, kita tidak akan mudah hanyut dalam drama kehidupan.
3. Cinta vs Ketergantungan: Mengapa Kita Takut Kehilangan?

Bagi Adjie, banyak dari kita yang salah mengartikan cinta. Jika Anda merasa sangat takut kehilangan pasangan, itu bukanlah cinta sejati, melainkan ekspresi ego atau keterikatan (attachment).
“Love is when others are no longer others.”
Cinta sejati adalah kesadaran bahwa kita dan orang lain (bahkan alam semesta) adalah satu keutuhan. Saat kita menyakiti orang lain, kita menyakiti diri sendiri. Cinta sejati memberikan kebebasan, bukan rasa mencekik yang penuh ketakutan.
4. Senjata Rahasia: Jangkar Pernapasan

Bagaimana cara tetap tenang saat dunia terasa kacau? Jawabannya ada pada napas. Namun, Adjie membedakan antara Breathing Exercise dan Mindful Breathing:
-
Breathing Exercise: Mengatur napas (misal: teknik 4-4-4).
-
Mindful Breathing: Hanya menyadari napas apa adanya. Tanpa perlu mengubahnya, cukup amati saat udara masuk dan keluar.
Napas adalah jangkar yang membawa kita kembali ke saat ini (present moment), menghentikan pikiran yang terus melompat ke masa lalu yang pahit atau masa depan yang mencemaskan.
5. Berhenti Menunggu Tanggal 1 Januari

Kita sering menunggu momen “Tahun Baru” untuk berubah. Padahal, Adjie mengingatkan bahwa tantangan terbesarnya bukan takut pada hal baru, tapi takut melepaskan hal lama. Kita sering bertahan di zona nyaman yang beracun hanya karena hal itu terasa “familiar”.
Kenyataannya, setiap detik adalah awal yang baru. Anda tidak perlu menunggu kalender berganti untuk mulai mencintai diri sendiri atau melepaskan kebiasaan buruk.
Kesimpulan: Bahagia Itu Sederhana
Bahagia bukan berarti harus selalu gembira atau tertawa. Bahagia adalah saat kita bisa duduk diam, menyadari napas, dan merasa cukup dengan apa yang ada sekarang.
Ingin mencoba langkah awal menuju ketenangan? Cobalah untuk makan tanpa distraksi hari ini. Simpan ponsel Anda, rasakan setiap tekstur makanan, dan hadirkan diri Anda seutuhnya di atas piring tersebut. Itulah awal dari perjalanan mindfulness Anda.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Nasihat Buruk yang Sering Menghambat Anak Muda