Menemukan “The One”: Mengapa Memilih Jodoh Mirip dengan Merencanakan Traveling?

Bila Memang Jodoh Dia Akan Kembali Lagi
Bila Memang Jodoh Dia Akan Kembali Lagi

Pernahkah kamu merasa bimbang, “Apakah dia benar-benar orangnya?” atau “Gimana sih cara tahu kalau kita benar-benar cocok?” Banyak orang terjebak mencari kecocokan lewat tes kepribadian atau zodiak. Namun, menurut Coach Anez dan Yaser dalam diskusi terbaru mereka, cara paling ampuh untuk menguji masa depan hubungan bukan lewat teori, melainkan dengan satu analogi sederhana: Traveling.

Mengapa perjalanan jauh bisa menjadi simulasi terbaik untuk pernikahan? Inilah alasannya.

1. Satu Tujuan, Satu Visi: Mau ke Pantai atau ke Gunung?

Jodoh Adalah Ketentuan Allah
Jodoh Adalah Ketentuan Allah

Bayangkan kamu sudah siap dengan baju renang dan sunblock karena ingin ke Bali, tapi pasanganmu justru membawa jaket tebal karena bersikeras ingin mendaki Everest. Itulah yang terjadi jika kamu menikah tanpa visi yang sama.

Visi hidup bukan sekadar “ingin bahagia”. Visi adalah hal praktis seperti:

  • “Setelah nikah, kita mau langsung punya anak atau sekolah dulu?”

  • “Kita mau gaya hidup yang stabil (karyawan) atau dinamis (bisnis)?”

Jika tujuan akhirnya berbeda jauh, perjalanan kalian hanya akan penuh perdebatan tentang arah jalan, bukan menikmati pemandangan.

2. Definisi “Seru” Saat Menghadapi Ban Bocor

Perihal Jodoh Itu Urusan Allah
Perihal Jodoh Itu Urusan Allah

Banyak orang mengira kecocokan adalah tentang tidak pernah bertengkar. Padahal, kecocokan sejati terlihat saat “ban motor mogok” di tengah hujan.

Dalam hubungan, ada momen-momen sulit—masalah finansial, ego, atau perbedaan pendapat. Pasangan yang cocok adalah mereka yang menganggap kesulitan itu sebagai “petualangan yang seru” untuk diselesaikan bersama, bukan alasan untuk saling menyalahkan. Jika kalian bisa tertawa setelah melewati masa sulit, itu adalah tanda bonding yang kuat.

3. “Packing” Diri Sendiri Sebelum Berangkat (Self-Awareness)

Insan Yang Berjodoh
Insan Yang Berjodoh

Sebelum bertanya “Apakah dia cocok buatku?”, tanyalah pada diri sendiri: “Apa yang aku bawa di dalam koperku?”

Kamu perlu tahu kelebihan dan kekuranganmu. Jika kamu tahu kamu orang yang kurang disiplin, mungkin kamu butuh pasangan yang bisa menjadi “jam weker” hidupmu. Hubungan yang hebat terjadi ketika dua orang yang sadar diri saling melengkapi resource yang mereka miliki.

Tips Pro: Jangan mencari orang yang “sempurna”, carilah orang yang “pas” dengan kekuranganmu.

4. Ruang untuk Tumbuh: Jangan Jadi “Pot” yang Sempit

Mantan Adalah Jodoh Orang Lain
Mantan Adalah Jodoh Orang Lain

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memberikan ruang untuk tumbuh. Analoginya, jika kalian adalah tanaman, jangan biarkan hubungan kalian menjadi pot yang kekecilan sehingga pertumbuhan kalian terhenti.

Pasangan yang baik akan selalu bertanya: “Apalagi yang bisa kita kembangkan?” Mereka tidak takut berubah menjadi lebih baik, meski itu berarti harus keluar dari zona nyaman bersama-sama.

Kesimpulan: Ujilah dengan Traveling!

Kalau kamu masih ragu, cobalah ajak pasanganmu jalan-jalan. Perhatikan bagaimana dia menghadapi keterlambatan pesawat, makanan yang tidak enak, atau peta yang salah. Karakter asli seseorang tidak muncul di meja makan restoran mewah saat kencan pertama, tapi muncul saat mereka lelah di tengah perjalanan.

Ingat: Kecocokan 100% itu mitos. Yang ada adalah dua orang yang memiliki tujuan yang sama dan sepakat untuk menikmati setiap “turbulensi” dalam perjalanan hidup mereka.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Sumbu Pendek atau Tegas? Seni Mengelola Amarah Agar Tidak Menjadi Penyesalan

Read More :  Sudah Menjalin Hubungan Tapi Tetap Memikirkan Orang Lain?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *