Banyak orang terjebak dalam siklus “menunggu mood” sebelum mulai berkarya. Namun, bagi kreator konten Eva Alicia, konsistensi selama lebih dari lima tahun bukan lahir dari semangat yang selalu meluap-luap, melainkan dari sebuah pergeseran pola pikir yang mendalam.
Dalam sebuah sesi di kanal YouTube Suara Berkelas, Eva membagikan filosofi di balik ketahanannya di dunia kreatif.
Daftar Isi
1. Berpindah dari Me-Centric ke We-Centric

Satu pelajaran terbesar yang dibagikan Eva adalah tentang tujuan. Menurutnya, jika motivasi kita hanya berputar pada diri sendiri—seperti uang, popularitas, atau kebanggaan pribadi—kita akan segera membentur tembok kejenuhan.
“Ketika fokus kamu itu cuma membahagiakan diri sendiri, kamu enggak akan mau maju lagi karena akan ada titik jenuh di mana kamu melihat follower sudah cukup, uang sudah cukup. Tapi untuk kamu bisa keep going, kamu harus punya namanya ‘We-Centric Purpose’, bukan ‘Me-Centric’.”
Eva percaya bahwa melayani orang lain adalah “bahan bakar” yang tidak terbatas. Saat kita fokus memberi dampak, motivasi kita menjadi sebuah mesin yang berkelanjutan (sustainable engine).
2. Kekuatan Kerentanan (Vulnerability)

Seringkali kita merasa harus terlihat sempurna untuk menginspirasi orang lain. Eva justru membuktikan sebaliknya. Dengan membagikan sisi manusianya—saat ia lelah, merasa sulit, hingga overthinking—ia justru menciptakan koneksi yang lebih dalam dengan audiensnya.
“Aku share journey konsistensi aku online enggak cuma bagus-bagusnya doang. Aku share ketika aku lagi capeknya, sulit, overthinking… dan ternyata vulnerability itu malah inspiring.”
3. Menemukan “Drive” Melalui Dampak Nyata

Saat mengalami burnout atau kehilangan arah, Eva kembali pada misinya di dunia nyata. Melalui Jiwa Emas Foundation, ia terlibat langsung dalam perbaikan sektor kesehatan dan edukasi di Papua Pegunungan. Baginya, melihat perubahan nyata pada hidup orang lain adalah obat mujarab bagi rasa lelah.
4. Bersyukur dalam Kelelahan

Satu hal menarik dari percakapan ini adalah bagaimana Eva dan sang host memandang rasa lelah. Alih-alih mengeluh, mereka melihat kelelahan sebagai sebuah hak istimewa (privilege).
“Kalau pun aku lelah, aku sangat bersyukur. It’s a privilege lelah dari pekerjaan yang aku impikan.”
Kesimpulan
Konsistensi sejati bukan tentang tidak pernah merasa lelah atau selalu punya mood yang bagus. Konsistensi adalah tentang memiliki alasan yang jauh lebih besar dari diri sendiri. Seperti yang dikatakan dalam video tersebut, kita tetap ada di sini karena eksistensi kita masih “berfungsi” dan “berguna” bagi orang lain.
Apakah Anda sudah menemukan alasan “We-Centric” dalam pekerjaan Anda hari ini?
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Menemukan “The One”: Mengapa Memilih Jodoh Mirip dengan Merencanakan Traveling?