Pernahkah Anda merasa seperti sedang menjalani hidup milik orang lain? Anda bekerja keras, memenuhi ekspektasi keluarga, dan mengikuti tren sosial, namun di dalam hati, Anda merasa asing dengan diri sendiri.
Fenomena ini sering disebut sebagai “kehilangan diri,” sebuah fase yang kini tidak hanya menghantui mereka yang berusia 20-an (quarter-life crisis), tapi juga menyerang mereka yang sudah mapan di usia 30 hingga 40 tahun.
Dalam diskusi hangat di POD. RUANG TUNGGU, psikolog Nago Tejena membedah bukunya, “Aku yang Sudah Lama Hilang,” dan menawarkan perspektif radikal tentang cara menemukan kembali identitas yang terkubur.
Daftar Isi
1. Berhenti Bertanya, Mulailah Menjawab

Banyak dari kita terjebak dalam “labirin refleksi.” Kita terus bertanya: “Apa yang sebenarnya aku inginkan?” atau “Siapa aku sebenarnya?” Namun, menurut Nago, refleksi yang berlebihan justru bisa melumpuhkan.
“Jika kamu sudah bertanya berkali-kali tapi belum mengenal dirimu, mungkin kamu tidak butuh pertanyaan lagi. Kamu butuh jawaban.”
Jangan takut jawabanmu salah. Lebih baik memberikan jawaban yang “salah” (seperti mencoba hobi atau karier baru yang ternyata tidak cocok) tetapi berasal dari keputusanmu sendiri, daripada menerima jawaban “benar” yang dipaksakan oleh orang lain.
2. Seni “Mendendam” yang Sehat
Di dunia yang menuntut kita untuk selalu cepat memaafkan dan move on, Nago menawarkan pandangan berbeda: Kamu boleh mendendam.
Namun, perlu dicatat bahwa mendendam di sini berbeda dengan balas dendam. Mendendam adalah mengakui rasa sakit dan amarah di dalam kepala Anda tanpa membohongi diri sendiri. Menekan amarah demi terlihat “bijak” justru menjadi racun. Mengakui bahwa “Aku belum bisa memaafkan dia” adalah langkah jujur untuk membebaskan ruang mental Anda.
3. Jangan Menjadi yang Terbaik, Jadilah yang Berbeda

Sistem pendidikan dan dunia kerja sering memaksa kita untuk menjadi nomor satu dalam hierarki yang sama. Masalahnya, di puncak hierarki tersebut, banyak orang justru merasa tidak bahagia karena mereka harus mengorbankan idealisme mereka.
Solusinya? Keluar dari hierarki kompetisi. Jangan fokus untuk menjadi yang “terbaik,” tetapi fokuslah untuk menjadi “berbeda.” Kesuksesan sejati ditemukan saat Anda berhenti bersaing dengan standar orang lain dan mulai menciptakan standar Anda sendiri.
4. Keberanian dalam Obrolan Canggung
Salah satu cara paling nyata untuk “pulang” ke diri sendiri adalah dengan memulai obrolan canggung. Ini adalah saat Anda berani berkata “tidak” pada ajakan teman, atau menyatakan keberatan pada orang tua mengenai pilihan hidup.
Memang terasa tidak nyaman, namun obrolan canggung adalah cara Anda menunjukkan kepada dunia—dan kepada diri sendiri—bahwa suara Anda ada dan berharga. Tanpa keberanian untuk merasa tidak enak pada orang lain, Anda akan terus merasa tidak enak pada diri sendiri.
5. Menikmati Proses “Mengunyah” Hidup
Nago menyarankan agar kita tidak terburu-buru keluar dari krisis identitas. Krisis adalah momen “pembongkaran bangunan lama” untuk membangun sesuatu yang lebih kokoh. Seperti membaca bukunya yang disarankan untuk dibaca pelan-pelan, hidup juga perlu “dikunyah.”
Nikmati fase bingung Anda. Gunakan waktu tersebut untuk mengumpulkan data tentang apa yang Anda suka dan benci. Jangan telan mentah-mentah pendapat orang lain; biarkan diri Anda mencerna realita sampai Anda menemukan makna yang pas.
Kesimpulan Menemukan diri bukan tentang mencari harta karun yang tersembunyi, melainkan tentang berani memunculkan kembali suara yang selama ini kita bungkam. Dunia mungkin mencoba membuatmu mundur, tapi ingatlah: Anda tidak butuh izin dari siapapun untuk menjadi diri sendiri.
Apakah Anda merasa sedang berada di fase “hilang” tersebut? Jika ya, mungkin ini saatnya Anda berhenti bertanya dan mulai mengambil satu keputusan kecil untuk diri Anda sendiri hari ini.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnuya seperti Membedah Mindset “Manusia Berkelas”: Rahasia Percaya Diri, Kebahagiaan, dan Ketangguhan Mental