Find Yourself, Found Your Mate: Mengapa Mencari Pasangan Harus Dimulai dari “Cermin”, Bukan “Teropong”

Kekurangan Pasangan
Kekurangan Pasangan

Di era aplikasi kencan dan media sosial, mencari pasangan seharusnya terasa lebih mudah. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Banyak dari kita terjebak dalam siklus hubungan yang melelahkan, terjebak dengan pasangan yang hobi menghilang (avoidant), atau bahkan terjebak dalam dinamika yang kita labeli sebagai “toksik”.

Dalam sebuah diskusi mendalam di kanal Peep Talk, Coach Anes, seorang matchmaker profesional, membongkar rahasia besar: Masalahnya seringkali bukan pada siapa yang kita temui, tapi pada sejauh mana kita mengenal diri sendiri.

1. Hubungan Adalah Gelas, Cinta Adalah Isinya

Hubungan percintaan sehat
Hubungan percintaan sehat

Banyak orang sibuk mencari “isi” yang manis tanpa memperhatikan “gelas” yang mereka miliki. Coach Anes menganalogikan hubungan sebagai wadah (gelas) dan cinta sebagai isinya.

  • Pertanyaannya: Apakah gelas Anda cukup kuat untuk menampung komitmen?

  • Pilihannya: Apakah Anda ingin mengisinya dengan kopi yang hangat, atau justru “air sambal” yang membakar diri sendiri?

Seringkali kita hanya mengikuti standar orang lain tentang “pasangan ideal” (kaya, rupawan, mapan) tanpa tahu apakah itu yang sebenarnya kita butuhkan. Kecerdasan emosional adalah kunci untuk berhenti “dibajak” oleh ekspektasi sosial dan mulai mendengarkan autentisitas diri.

2. Rahasia Menghadapi Si “Tukang Kabur” (The Avoidant)

Salah satu keluhan paling umum saat ini adalah pasangan yang selalu menghindar saat ada masalah. Coach Anes menjelaskan bahwa avoiding tidak selalu buruk; terkadang itu adalah mekanisme pertahanan diri dari masa kecil.

Jika Anda menghadapi pasangan tipe ini, jangan mengejar. Sebaliknya:

  • Validasi Keamanan: Ingatkan bahwa “Kita adalah satu tim, bukan lawan.”

  • Beri Ruang: Tanyakan, “Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk tenang sebelum kita bicara lagi?”

  • Hargai Proses: Terkadang, seseorang hanya butuh mandi atau segelas air sebelum mampu berpikir rasional.

3. Detoks Hubungan: Siapa yang Sebenarnya Toksik?

Label “toksik” sering dilempar dengan mudah. Namun, Coach Anes mengajak kita melakukan refleksi tajam. Ada tiga komponen dalam sebuah hubungan: Aku, Kamu, dan Hubungan Kita.

Sebelum menyalahkan pasangan, tanyakan pada diri sendiri:

  1. Apakah pasanganku yang toksik?

  2. Atau justru perilakuku yang memicu sisi buruknya?

  3. Atau jangan-jangan, kita berdua orang baik, tapi memiliki visi hidup yang berseberangan?

4. “Find Yourself, Found Your Mate”

Ini adalah tagline andalan Coach Anes. Sebelum mencari “belahan jiwa”, Anda harus menjadi “jiwa yang utuh”.

  • Refleksi Cermin: Jangan hanya punya daftar kriteria untuk pasangan. Buatlah daftar: “Apa yang bisa saya tawarkan dalam sebuah hubungan?”

  • Sembuhkan Luka: Banyak orang mencari pasangan hanya untuk “menambal” luka masa kecil. Padahal, hubungan yang sehat membutuhkan dua orang yang sudah selesai dengan masa lalunya (atau setidaknya sadar akan lukanya).

5. Diet Informasi: Anda Adalah Apa yang Anda Klik

Kualitas hubungan Anda juga ditentukan oleh apa yang masuk ke otak Anda. Coach Anes membagi tiga level intelektual dalam berinteraksi:

  1. Level Rendah: Membicarakan orang lain (Gosip).

  2. Level Menengah: Membicarakan peristiwa (Event).

  3. Level Tinggi: Membicarakan ide dan gagasan (Idea).

Jika isi scrolling media sosial Anda penuh dengan drama dan kebencian, jangan heran jika cara Anda memandang pasangan juga penuh kecurigaan.

Kesimpulan: Menjadi Magnet bagi Cinta yang Tepat

Berhenti mencari orang yang “tepat” dan mulailah menjadi orang yang “tepat”. Saat Anda mulai mencintai proses mengenal diri sendiri—mulai dari mengatur napas, menulis jurnal, hingga berolahraga—Anda akan secara otomatis berada di frekuensi yang akan menarik orang yang setara.

Pesan penutup dari Coach Anes: “Jangan hanya mencari cinta, jadilah cinta itu sendiri.” 

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Menjadi Magnet Rezeki: Rahasia Psikologi dan Strategi Cuan yang Jarang Dibahas

Read More :  Jika Tak Memberi Kepastian, Lantas Kenapa Begitu Mudahnya Mengobral Janji?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *