Cerita Perjalanan Menuju Simfoni Curug Naga Biru dan Curug Sawer Bogor

Curug Naga Biru
Curug Naga Biru

Bogor memang tak pernah ingkar janji soal urusan air terjun. Julukan “Kota Seribu Curug” rasanya masih terlalu sedikit untuk menggambarkan betapa suburnya tanah ini melahirkan permata-permata tersembunyi.

Hampir setiap bulan, selalu ada nama baru yang muncul ke permukaan, memanggil para petualang untuk datang dan membuktikan keindahannya. Kali ini, radar saya tertuju pada satu nama yang terdengar mistis sekaligus menantang: Curug Naga Biru.

Saya pun akhirnya berhasil menaklukkan tantangan curug naga biru yang penuh dengan jalur ekstrim dan bisa membuat aderanlin meningkat. Bahkan sebagian tim kami ada yang beberapa kali jatuh di jalur karena jalurnya masih baru. Lantas bagaimana kisah perjalanan saya?

Sebelum saya melanjutkan kisahnya, kamu harus membaca kisah Pendakian Puncak Awan Gunung Pasir Ipis Bogor yang merupakan bagian dari trip ini karena memang jalur pos 1 sampai 2 masih sama.

Yuk, simak cerita selengkapnya.

Pos 2 Menuju Pos 3 Puncak Gunung Awan (10 Menit)

Pos 3 Puncak Gunung Awan
Pos 3 Puncak Gunung Awan

Perjalanan menuju Pos 2 adalah sebuah ujian fisik dan mental yang sesungguhnya. Langkah kaki terasa berat, napas memburu, dan tantangan medan seolah tak ada habisnya. Namun, semua lelah itu mendadak luruh saat kami menapakkan kaki di jalur menuju Pos 3.

Jika jalur sebelumnya adalah perjuangan, maka jalur ini adalah hadiah.

Hanya butuh waktu sekitar 10 menit dengan langkah kaki yang sedikit dipercepat, kami menyusuri trek datar yang memanjakan lutut. Di tengah perjalanan singkat ini, sebuah kejutan menanti: sebuah rumah pohon yang berdiri gagah dengan bendera Merah Putih yang berkibar riuh ditiup angin.

Dari ketinggian rumah pohon itu, dunia seolah berhenti sejenak. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan hutan alami yang hijau pekat—sebuah permadani alam yang mengingatkan kami betapa kecilnya manusia di hadapan semesta. Puas menyesap ketenangan di sana, kami pun melanjutkan langkah hingga tiba di Pos 3.

Persimpangan Takdir: Puncak atau Air Terjun?

Sesampainya di Pos 3, kami dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menggoda, Jalur Langit: Terus menanjak menjemput Puncak Awan yang legendaris dan Jalur Air: Menjelajahi kesegaran Curug Naga Sawer dan Curug Naga Biru.

Setelah berdiskusi sejenak di bawah keteduhan pohon, pilihan kami pun jatuh pada gemericik air. Kami memutuskan untuk membelah jalur menuju Curug Naga Biru, mencari ketenangan di balik derasnya air terjun yang tersembunyi.

Pos 3 Puncak Gunung Awan Menuju Pos 3 Curug Sawer (11 Menit)

Curug Sawer Bogor
Curug Sawer Bogor

Setelah melepas penat sejenak, kami kembali mengayunkan kaki. Kali ini, tujuannya adalah Curug Sawer. Perjalanan ini bukan lagi soal kecepatan, melainkan tentang menikmati setiap jengkal cerita yang mengalir di sepanjang jalur.

Read More :  Sensasi Trekking ke Puncak Pasir Ipis dan Segarnya Curug Sejoli Bogor dalam Satu Jalur

Hanya sebelas menit perjalanan, namun medannya mulai memberi tantangan baru. Sisa hujan yang baru saja turun meninggalkan jejak licin di tanah, memaksa kami untuk melangkah lebih waspada. Meski sedikit menanjak, jalur ini tetap ramah bagi kaki-kaki yang mulai lelah. Di sela napas yang teratur, tawa dan obrolan ringan menjadi teman setia kami hingga tak terasa suara gemericik air mulai terdengar di kejauhan.

Begitu sampai di Curug Sawer, hal pertama yang kami cari bukanlah air terjunnya, melainkan isi tas saya yang sedari tadi terasa berat. Rupanya, tas itu menyimpan “harta karun” pemberian Bu Aty: tumpukan buah rambutan merah yang ranum dan jeruk yang segar.

Sambil duduk bersandar, kami berpesta kecil. Rasa manis rambutan dan asam segar jeruk seolah menjadi pemulih tenaga yang sempurna, berpadu dengan pemandangan Curug Sawer di depan mata.

Curug ini bukanlah tipe air terjun yang megah dan bergemuruh. Ia justru tampil bersahaja—aliran airnya tipis dan jernih, meluncur lembut dari sela-sela bebatuan setinggi lima meter. Alirannya yang tenang membentuk kolam mungil di bawahnya. Bagi pendaki, ini adalah “curug bonus”; tempat yang sempurna untuk sekadar membasuh muka atau mengisi kembali botol minum dengan air pegunungan yang murni sebelum melanjutkan petualangan.

Pos 3 Curug Sawer  Menuju Pos 4 Curug Naga Biru (20 Menit)

Pos 4 Curug Naga Biru
Pos 4 Curug Naga Biru

Puas menyesap kesegaran Curug Sawer, semangat kami kembali penuh untuk menaklukkan etape menuju Pos 4. Awalnya, semesta seolah memberi angin segar dengan jalur yang landai dan datar. Namun, itu hanyalah sebuah pembuka sebelum kaki kami dipaksa kembali bekerja keras menanjak di antara pepohonan yang rapat.

Rasa lelah mulai merayap di otot kaki, tapi kejutan sesungguhnya baru saja dimulai setelah kami mencapai puncak tanjakan. Di depan mata, jalur berubah drastis menjadi turunan curam yang menantang.

Sisa hujan mengubah jalur tanah ini menjadi medan yang licin dan berisiko. Di sinilah peralatan yang tepat menunjukkan taringnya. Beruntung, sepatu pendaki yang saya kenakan bekerja dengan sempurna—setiap langkah terasa kokoh, mencengkeram tanah basah yang labil, memberikan rasa aman di tengah jalur yang bisa membuat siapa pun tergelincir jika salah memilih pijakan.

Selama sepuluh menit terakhir menuju Pos 4, konsentrasi kami benar-benar diuji. Jalur ini masih sangat alami, belum ada undakan tangga yang rapi, hanya tanah murni yang terus menurun tajam.

Di tengah perjuangan menuruni jalur ekstrem tersebut, kami bertemu dengan para pahlawan di balik layar—pihak pengelola yang sedang bekerja keras. Suara alat yang beradu dengan tanah dan kayu menjadi latar belakang pertemuan kami. Mereka sedang berjibaku membuka jalur baru yang lebih nyaman, memahat anak-anak tangga di sela medan yang curam, dan mulai memasang pagar pengaman.

Melihat dedikasi mereka yang sedang memagari tebing demi keamanan para pendaki, kami pun melangkah dengan rasa hormat. Pos 4 bukan sekadar titik pemberhentian, tapi saksi bagaimana sebuah jalur sedang dipersiapkan untuk menyambut para petualang selanjutnya dengan lebih ramah.

Read More :  One Day Trip : Curug Sanghyang Taraje, Curug Sanghyang Santen dan Curug Ciarjuna

Pos 4 Menuju Pos 5 Curug Naga Biru (17 Menit)

Pos 5 Curug Naga Biru
Pos 5 Curug Naga Biru

Jalanan seolah tak lagi memberi ampun pada kaki yang mulai bergetar. Dengan sisa-sisa tenaga yang semakin menipis dan perut yang mulai menuntut haknya, setiap langkah kini menjadi ujian kesabaran. Harapan kami sederhana: segera menemukan tempat untuk menyantap makan siang yang sudah terbayang-bayang di benak.

Namun, alam punya rencana lain. Jalur yang kami lalui justru semakin curam menurun, memaksa otot paha dan lutut bekerja ekstra keras menahan beban tubuh agar tidak terperosok.

Tak ada lagi “bonus” jalan datar atau pemandangan indah yang menenangkan. Yang ada hanyalah turunan tajam yang tak berujung, dengan tanah basah yang masih setia menjadi teman perjalanan kami—teman yang licin dan menuntut kewaspadaan penuh.Di tengah situasi itu, langit pun mulai menumpahkan rintik hujannya.

Di bawah guyuran hujan yang terasa tidak bersahabat, kami terbungkus dalam jas hujan masing-masing, berjalan laksana barisan pengelana yang gigih. Dingin yang merayap masuk tak mampu memadamkan api semangat kami.Kami terus memacu langkah, membelah rintik hujan dan menaklukkan tanah yang becek.

Rasa lapar bukan lagi musuh, melainkan bahan bakar yang mendorong kami untuk segera sampai ke titik peristirahatan. Satu per satu langkah kami ayunkan, demi satu tujuan: sebuah meja makan alami di mana kami bisa merayakan kemenangan kecil ini dengan santap siang yang hangat.

Pos 5 Menuju Pos Bayangan Curug Naga Biru (9 Menit)

Curug Naga Biru Bogor
Curug Naga Biru Bogor

Kami tak lagi memberi ruang untuk sekadar berhenti. Di bawah rintik hujan yang belum juga reda, kaki-kaki kami terus membelah jalur, hingga perlahan sebuah suara mulai merayap di telinga—sayup-sayup dentum air yang jatuh dari ketinggian. Itu adalah suara Curug Naga Biru.

Seketika, rasa lelah yang tadi mengikat kaki seolah menguap begitu saja. Semangat kami kembali membara; suara aliran air itu adalah kompas yang menandakan bahwa tujuan sudah di depan mata.

Langkah kami berakhir di sebuah shelter pos bayangan, tempat perlindungan terakhir sebelum menyentuh titik utama air terjun. Di sinilah kami benar-benar menyerah pada rasa lapar. Tanpa menunggu lama, bungkusan Nasi Padang yang kami bawa sejak pagi dikeluarkan.

Bayangkan saja: di tengah hutan yang basah, dengan aroma tanah dan udara dingin pasca-hujan, kami menyantap nasi dengan lauk pauk favorit masing-masing. Tak ada suara obrolan yang riuh, yang ada hanyalah keheningan orang-orang yang makan dengan lahap, menikmati setiap suap yang terasa berkali-kali lipat lebih nikmat dari biasanya.

Sebagai penutup pesta kecil itu, kami menghabiskan sisa-sisa buah rambutan yang terselip di dalam ransel. Manisnya buah ranum itu seolah menjadi pencuci mulut yang sempurna di tengah belantara.

Dari posisi kami duduk, kemegahan Curug Naga Biru sudah mulai terlihat. Melihat air yang terjun bebas dari kejauhan sebenarnya sudah cukup untuk membuat kami bahagia. Namun, ada sesuatu yang bergejolak di dalam hati—sebuah rasa penasaran yang tidak bisa dipadamkan hanya dengan melihat dari jauh.

Read More :  Menikmati Desa Panglipuran Bali dan Pusat Oleh-Oleh Krisna Desa Wisata Blangsinga

Maka, dengan perut yang sudah kenyang dan tenaga yang telah pulih, kami sepakat untuk bangkit. Kami memutuskan untuk turun lebih jauh, mendekat ke dasar air terjun, dan membiarkan diri kami benar-benar tenggelam dalam pesona sang “Naga Biru”.

Suasana Curug Naga Biru, Curug yang Jatuh Dari Tebing Membentuk Kolam Alami Dengan Bebatuan yang Estetik.

Curug Naga Biru
Curug Naga Biru

Setelah tenaga kembali penuh, tiba saatnya kami menghadapi babak terakhir menuju Curug Naga Biru. Di depan kami, ada dua jalan untuk menuju ke sana, dan keduanya menawarkan sensasi yang berbeda.

Pilihan pertama adalah jalur yang cukup memacu adrenalin: Tangga Roblox. Ini adalah anak tangga yang seolah tergantung di dinding tebing. Bagi mereka yang tidak punya masalah dengan ketinggian dan cukup berani membiarkan tubuhnya digoyang angin pegunungan, jalur ini adalah jalan pintas yang seru. Namun, atas saran yang kami terima, kami memilih jalur kedua—jalur yang sedikit lebih jauh namun menjanjikan kedekatan dengan alam yang lebih intim.

Petualangan dimulai dengan menuruni anak tangga kayu yang tersusun rapi di lereng yang tajam. Begitu sampai di bawah, pemandangan berubah menjadi sangat puitis. Kami melintasi jembatan-jembatan kayu yang membelah keasrian hutan alami.

Langkah kaki kami berirama di atas kayu, bersahutan dengan suara gesekan daun dan kicauan burung yang tersembunyi. Jalur ini adalah perpaduan antara anak tangga curam dan jembatan kayu yang memanjang, membawa kami semakin dalam ke pelukan hutan. Rasanya seperti sedang berjalan di atas labirin rahasia menuju sebuah tempat yang sakral.

Lambat laun, medan yang menantang itu mulai melandai. Jalanan berubah menjadi lebih ramah dan mudah dilalui, sebuah tanda nyata bahwa pelindung hutan telah mengizinkan kami masuk. Udara terasa semakin lembap dan dingin, suara gemuruh air pun kini terdengar begitu nyata di depan telinga. Kami tahu, kami telah benar-benar tiba di kawasan Curug Naga Biru.

Curug Naga Biru menyajikan pemandangan air terjun yang tinggi dan deras, dikelilingi oleh tebing hijau yang rimbun. Gemuruh air yang jatuh menciptakan suasana megah di tengah alam yang masih asri.

Di depan aliran air tersebut, kami terpaku dalam kekaguman, berpose di atas bebatuan besar sambil menikmati kesegaran suasana pegunungan. Momen ini memberikan kesan kedamaian yang mendalam, di mana keindahan visual air terjun yang putih bersih berpadu sempurna dengan rimbunnya hutan di sekelilingnya.

Kami menikmati setiap jengkal dan keindahan yang disajikan curug naga biru. Keindahan bunga-bunga yang sedang bermekaran dan bebatuan yang besar menjadikan curug naga biru semakin indah. Airnya yang dingin langsung menusuk tubuh kami. Bahkan, aliran air terjun ini bisa melayang sedikit demi sedikit ke arah kami sehingga membuat tubuh basah kuyup.

Menurutn informasi yang beredar, curug naga biru menajdi curug paling tinggi di bogor mengalahkan curug seribu. Curug Naga Biru memiliki ketinggian kurang lebih 160 meter.

Kamu bisa menonton langsung video perjalanan kami di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *