Banyak orang mengira bahwa kepercayaan diri adalah sebuah bakat alami atau sekadar teknik bicara yang dipelajari di depan cermin. Namun, bagi Dea Rizkita—seorang Communication Trainer dan mantan Puteri Indonesia—kepercayaan diri sejati adalah hasil dari “pekerjaan dalam” (inner work) yang melelahkan namun membebaskan.
Dalam percakapan hangat di podcast Suara Berkelas, Dea membedah konsep yang ia sebut sebagai Personal CV, sebuah kumpulan nilai dan luka masa kecil yang tanpa sadar menyetir hidup kita hingga dewasa.
Daftar Isi
1. “Mulut Kita Adalah yang Paling Jahat pada Diri Sendiri”

Dea menekankan bahwa energi yang kita bawa saat bertemu orang lain adalah refleksi dari dialog internal kita. Jika kita terus-menerus mengutuk diri dalam hati, teknik komunikasi secanggih apa pun tidak akan mampu menutupi kekosongan tersebut.
“Kita adalah orang yang mulutnya paling jahat sama diri kita sendiri. Karena tidak ada yang dengar kalau kita ngebatin… Masalahnya, yang kita batin itu tetap dianggap sebagai kenyataan oleh alam bawah sadar, dan itu terefleksi lewat energi yang kita bawa saat bertemu orang lain.”
2. Berdamai dengan Trauma Uang (Money Trauma)

Salah satu bagian paling jujur dari wawancara ini adalah ketika Dea mengakui bahwa ia sempat memiliki hubungan yang sangat buruk dengan uang. Meski uangnya tersedia, ia merasa pusing setiap kali melihat saldo m-banking atau menunda membayar tagihan karena takut kehilangan keamanan finansial.
Ia menemukan bahwa penyebabnya adalah “nilai” masa kecil yang sudah tidak relevan lagi.
“Jangan pikir kalau kita bisa nabung itu hubungan kita terhadap uang sudah beres. Kalau kita nabung membawa rasa takut—takut nanti kalau pengin ini enggak ada—yang ketabung itu bukan cuma uangnya, tapi rasa takutnya juga.”
Kini, Dea menerapkan prinsip “Saving and Spending with Love”. Ia percaya bahwa uang adalah benda cair yang harus mengalir agar membawa manfaat.
3. Empati: Menghargai Ukuran Sepatu yang Berbeda

Menggunakan analogi sepatu, Dea menjelaskan mengapa kita sering gagal memahami orang lain. Kita sering terjebak dalam fenomena fundamental attribution error, di mana kita menganggap masalah kita kompleks, tapi masalah orang lain itu sederhana.
“Empati itu kita tidak harus selalu setuju sama orang lain. Empati adalah menghargai bahwa ada point of view lain selain apa yang kita punya. And that’s okay.”
4. Melepaskan Keterikatan dan Kontrol
Pengalaman Dea saat menghadapi Postpartum Depression (PPD) dan penyakit fisik paska melahirkan menjadi titik balik terbesar dalam hidupnya. Sebagai seorang overachiever yang terbiasa mengontrol segalanya, ia dipaksa untuk menyerah pada keadaan.
“Hidup ini penuh dengan dinamika. Kadang bisa bersemangat, kadang ada waktunya kita istirahat, and that’s okay. Siapa sih orang pertama yang menyuruh kita kuat terus? Kenyataannya kita enggak bisa.”
5. Rekomendasi “Senjata” untuk 2026
Untuk kamu yang ingin menjadikan tahun depan sebagai tahun terbaik, Dea menitipkan tiga buku non-fiksi yang mengubah hidupnya:
-
Manifest (Roxie Nafousi): Mengajarkan cara meng-embody perasaan masa depan yang kita inginkan.
-
The Let Them Theory (Mel Robbins): Tentang melepaskan apa yang tidak bisa dikontrol dan mengambil kembali kekuatan diri.
-
Your Unique Path to Wealth (Eric John Campbell): Mengubah paradigma bahwa uang adalah bahan bakar untuk menebar manfaat.
Kesimpulan: Urip Iku Urup
Di akhir wawancara, Dea kembali ke prinsip hidupnya: Urip Iku Urup—hidup itu harus membawa cahaya. Segala pencapaian, panggung megah, dan piala tidak akan berarti jika internal kita belum selesai dengan dirinya sendiri.
Pesan terpentingnya sederhana: Mulailah memvalidasi diri sendiri, maka dunia luar akan mengikuti. Karena pada akhirnya, dunia luar hanyalah cermin dari apa yang terjadi di dalam hati kita.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Redmi 15 5G: Ponsel yang Praktis dan Tahan Lama, Meski Ada Kekuarangan!
Response (1)