Pernahkah Anda berada di posisi di mana seseorang yang sangat baik datang, memberikan perhatian, namun Anda sama sekali tidak merasakan percikan emosi apa pun? Atau mungkin Anda merasa seharusnya sedih saat kehilangan, tapi yang ada hanyalah kekosongan. Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai mati rasa emosional.
Dalam sebuah diskusi di kanal Ruang Tunggu, Dr. Andreas Kurniawan menjelaskan bahwa mati rasa bukanlah tanda bahwa kita “rusak”, melainkan sebuah bentuk perlindungan diri.
Daftar Isi
1. Mati Rasa Sebagai “Tameng” Otak

Banyak orang merasa bersalah saat tidak bisa merasakan emosi. Namun, secara biologis, ini adalah cara otak menyelamatkan kita dari rasa sakit yang lebih besar.
“Mati rasa secara emosional adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengalami perasaan yang dia tahu secara normal harusnya ada… Ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri ketika mengalami suatu perasaan yang intens.”
Ibarat bius saat operasi, otak “mematikan” saraf emosi agar kita bisa bertahan hidup di tengah trauma atau luka yang terlalu dalam.
2. Mengapa Kita Sulit Mencintai Lagi?

Salah satu pertanyaan terbesar adalah: Apakah cinta bisa habis? Dr. Andreas menekankan bahwa cinta tidak habis, namun “alat ukur” kita yang berubah. Trauma masa lalu seringkali membuat otak kita menjadi kaku dalam menilai orang baru.
“Pada kondisi yang traumatis, otak tuh menjadi kaku. Dia jadi menganggap ‘Udah biar aman, anggap saja semuanya itu sama.’ Akibatnya ketika bertemu dengan orang baru, otaknya udah keburu traumatis dan menganggap ini sama aja (dengan yang lama).”
Seringkali, kita terjebak dalam over-intellectualization, di mana logika bekerja terlalu keras mengalkulasi risiko sehingga perasaan tidak diberi ruang untuk tumbuh.
3. Hidup Tanpa “Bumbu” Emosi

Bisakah kita hidup tanpa cinta atau emosi yang meluap-luap? Secara teknis bisa, tapi hidup akan terasa hambar.
“Secara teoritis manusia bisa hidup tanpa dengar musik, tanpa nonton film… Manusia pun bisa makan tanpa bumbu. Tetapi hidup kayaknya lebih indah ketika ada bumbu, ketika ada musik, ketika ada film.”
4. Langkah Memulihkan Rasa: Strategi “Tiga Potong Semangka”

Jika Anda merasa sedang berada di fase “kebas” ini, Dr. Andreas memberikan tiga langkah praktis untuk mulai membuka diri kembali:
-
Potongan Pertama: Menyadari & Berdamai. Jangan membenci diri sendiri karena merasa hambar.
“Sadar bahwa kamu lagi mati rasa dan itu bukan tubuhmu gagal. Itu adalah cara tubuhmu melindungi diri.”
-
Potongan Kedua: Bergerak. Aktivitas fisik membantu menurunkan ketegangan saraf.
“Coba aja jalan dulu… karena pada saat itu juga membantu menurunkan ketegangan dari sistem saraf. Dengan kita bergerak, kita menanamkan diri bahwa ini aman kok.”
-
Potongan Ketiga: Berikan Konteks. Berhenti menyamaratakan semua orang.
“Berikan konteks bahwa yang sekarang belum tentu (sama dengan yang dulu). Tugas kita adalah merancang kita maunya dengan orang seperti apa.”
Kesimpulan
Mati rasa adalah bagian dari proses penyembuhan. Tidak perlu terburu-buru untuk mencintai lagi jika memang belum siap. Yang terpenting adalah menyadari bahwa kapasitas kita untuk merasa tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya sedang beristirahat untuk melindungi Anda.