Melawan Arus “Kegoblokan”: Mengapa Menjadi Serba Tahu Saja Tidak Cukup untuk Sukses?

Melawan Arus Kegoblokan
Melawan Arus Kegoblokan

Di tengah banjir informasi digital yang melanda Indonesia, sebuah paradoks muncul ke permukaan: mengapa indeks literasi kita tetap jalan di tempat sementara penggunaan media sosial kita adalah salah satu yang tertinggi di dunia?

Dalam sebuah dialog mendalam di kanal Suara Berkelas, pakar strategi pemasaran Aditya Pratama membedah anatomi masalah ini dengan lugas, provokatif, dan tanpa tedeng aling-aling.

Aditya tidak hanya berbicara soal bisnis, ia bicara tentang krisis eksistensial SDM yang ia labeli dengan istilah yang cukup keras: “Kegoblokan Struktural.”

Definisi Goblok: Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain

Melawan Arus Kegoblokan
Melawan Arus Kegoblokan

Merujuk pada teori sejarawan ekonomi Carlo Cipolla, Aditya mendefinisikan “goblok” bukan sebagai rendahnya IQ, melainkan sebuah perilaku sistematis.

“Goblok adalah sesuatu yang kamu lakukan yang merugikan dirimu sendiri sekaligus merugikan orang lain,” cetus Aditya.

Ia mencontohkan bagaimana kebijakan publik yang buruk atau manajemen perusahaan monopoli yang tetap rugi adalah manifestasi dari kegoblokan ini. Baginya, penjahat (bandit) masih lebih “logis” karena mereka menguntungkan diri sendiri meski merugikan orang lain. Namun, orang goblok menciptakan kerugian di segala lini tanpa ada yang diuntungkan.

Jebakan “Bahagia dalam Ketidaktahuan”

Bahagiakan Dirimu
Bahagiakan Dirimu

Salah satu poin paling tajam dalam diskusi ini adalah bagaimana kebahagiaan sering kali menjadi tabir bagi kemandekan. Aditya menyoroti data bahwa masyarakat Indonesia seringkali masuk dalam daftar negara dengan indeks kebahagiaan tinggi, namun di sisi lain memiliki skor literasi PISA yang rendah.

“Ciri-ciri orang goblok itu bahagia. Sudah miskin, ditipu negara, dikorupsi, tapi tetap bilang ‘bersyukur’. Itu bukan sabar, itu stupidity yang merasa dirinya sudah benar dan selamat,” ujarnya dengan nada satir.

Menurutnya, rasa puas yang prematur ini mematikan api introspeksi. Tanpa introspeksi, tidak akan ada inisiatif untuk keluar dari lingkaran kemiskinan atau ketertinggalan.

Compound Interest dan Senjata Literasi

Kamu Bahagia
Kamu Bahagia

Sebagai solusi, Aditya tidak menawarkan mantra ajaib. Ia kembali ke dasar: Membaca. Namun, ia menekankan pada metode, bukan sekadar durasi. Mengutip prinsip dalam buku Atomic Habits karya James Clear, ia menyarankan pendekatan 1% setiap hari.

“Jangan nunggu motivasi gila-gilaan. Kalau mau berubah, mulai baca satu menit sehari. Konsisten naikin 1% setiap hari. Dalam satu tahun, kamu sudah 37 kali lebih baik dari dirimu yang lama. Itulah keajaiban bunga majemuk (compound interest) dalam karakter,” jelasnya.

Bagi Aditya, membaca bukan sekadar menyerap informasi, melainkan latihan bagi otak untuk tetap fokus dan memiliki kendali atas emosi. Ia percaya bahwa literasi adalah kunci dari segala perbaikan, mulai dari kesehatan, ekonomi keluarga, hingga pola asuh anak (parenting).

Redefinisi Sukses: Berhenti Menjadi Beban

Semoga Kamu Tetap Bisa Bahagia
Semoga Kamu Tetap Bisa Bahagia

Menariknya, Aditya merobohkan definisi sukses yang sering kali dianggap abstrak atau filosofis. Baginya, sukses harus bisa diukur dan dirasakan oleh lingkungan terdekat.

“Jangan bilang kamu sukses kalau masih jadi beban buat orang tua. Sukses itu sederhana: tidak pinjol, tidak judi online, dan bisa membiayai sekolah adikmu atau membayar listrik rumah. Sukses itu punya dampak nyata,” tegasnya.

Ia juga menantang generasi muda untuk berhenti menyalahkan keadaan atau privilege. Menurutnya, selama masih ada orang dari latar belakang yang sama atau bahkan lebih sulit bisa berhasil, maka alasan utama kegagalan bukanlah struktur sosial, melainkan keengganan untuk belajar.

Kesadaran Meta-Kognisi: Mengenal Diri Sendiri

Di akhir sesi, Aditya berbagi tentang pentingnya metacognition—kemampuan untuk berpikir tentang apa yang kita pikirkan. Ia secara jujur mengakui sisi narsistiknya dalam melakukan kebaikan, sebuah pengakuan yang jarang terdengar dari seorang figur publik.

“Saya sadar saya narsis. Saya senang kalau orang yang saya bantu tersenyum dan memuji saya. Tapi setidaknya saya sadar. Kesadaran itulah (self-awareness) yang mencegah saya menjadi monster yang tidak saya kenali,” tutupnya.

Pesan jurnalisme moral dari diskusi ini jelas: Indonesia tidak butuh lebih banyak orang yang sekadar “tahu” segalanya dari cuplikan media sosial 30 detik. Indonesia butuh individu yang berani melakukan introspeksi, disiplin dalam literasi, dan bertanggung jawab penuh atas pilihan hidupnya sendiri.

Read More :  Belajar Sembuh dari Trauma: Seni Memaafkan dan Berdamai dengan Diri Sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *