Di era kerja yang serba cepat, kata “burnout” dan “toxic boss” bukan lagi sekadar tren percakapan di media sosial, melainkan realitas pahit yang menggerogoti kesehatan mental ribuan pekerja.
Dalam sebuah diskusi mendalam di kanal YouTube Rory Asyari, psikolog klinis Analisa Widyaningrum membedah anatomi stres di tempat kerja dan bagaimana kita bisa tetap menjadi “mutiara” di tengah lingkungan yang berlumpur.
Daftar Isi
1. Membedah Burnout: Saat Alarm Tubuh Berteriak

Banyak dari kita menyalahkan beban kerja sebagai satu-satunya penyebab kelelahan. Namun, Analisa menekankan bahwa stres adalah bagian alami dari pertumbuhan. Perbedaannya terletak pada bagaimana kita mengelolanya.
“Stres itu tidak terhindarkan karena perubahan hidup itu signifikan. Burnout adalah kelelahan emosional yang bertumpuk karena kita gagal mengelola stres negatif tersebut.”
Tanda-tanda burnout seringkali muncul lewat “bahasa tubuh” yang tidak biasa. Jika Anda mengalami pusing yang tak sembuh dengan obat, asam lambung yang terus naik, atau perubahan emosi yang drastis selama lebih dari dua minggu, itu adalah alarm bahwa jiwa Anda sedang tidak baik-baik saja.
2. Rumus Keseimbangan: Workload vs Resource

Analisa menjelaskan bahwa stres kerja muncul ketika terjadi ketidakseimbangan antara Workload (beban kerja) dan Resource (sumber daya).
Resource bukan hanya soal alat kerja, tapi juga kapasitas personal.
“Kadang sumber stres itu individual banget. Apakah kompetensi kita level 5 sementara beban yang diberikan level 10? Jika ya, solusinya bukan resign, tapi upgrade diri.”
Sebelum memutuskan untuk menyerah, ia menyarankan kita untuk memeriksa dua hal:
-
Personal Resource: Manajemen emosi dan kompetensi teknis.
-
Organizational Resource: Dukungan atasan, sistem promosi, dan apresiasi.
3. Strategi “Fight” Bukan “Flight”
Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, Analisa memberikan nasihat realistis: “Hari ini, lebih capek cari kerja daripada kerja.” Oleh karena itu, langkah pertama bukanlah langsung melarikan diri (flight), melainkan menghadapi situasi secara sadar (fight).
Salah satu caranya adalah dengan inisiatif bottom-up:
“Jangan menunggu atasan memanggil. Cobalah bertanya: ‘Pak/Bu, ada waktukah? Ada yang mau saya sampaikan terkait progres saya.’ Lihat psikologis atasan dan jangan baperan.”
Namun, ada satu garis merah yang tidak boleh dilanggar. Analisa menegaskan bahwa batas antara “bertahan untuk tumbuh” dan “harus pergi” adalah Integritas.
“Kalau sudah berlawanan dengan hati nurani, kebijakan yang melawan idealisme, atau diminta melanggar aturan… itulah saatnya Anda keluar dengan mode ‘fight’ karena memegang prinsip.”
4. Pesan untuk Para Pemimpin: Jabatan Itu Sementara, Legasi Itu Amanah
Bagian paling menyentuh dari diskusi ini adalah ketika Analisa berbicara langsung kepada para pemimpin senior. Ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin adalah “penentu cuaca” di kantornya. Jika pemimpin stres dan tidak sadar, ia akan menciptakan badai bagi seluruh timnya.
“Bapak Ibu senior leaders, jabatan itu sementara. Kalau kita mengejar jabatan, itu hanya urusan dunia. Tapi kalau bicara legasi, itu adalah amanah yang dipertanggungjawabkan sampai akhirat.”
Pemimpin yang hebat di masa kini adalah seorang Storyteller yang mampu merangkul lintas generasi dengan empati, bukan hanya sekadar memberikan perintah tanpa makna (bossing).
5. Pertolongan Pertama: Teknik 6 Detik
Jika Anda merasa sangat sesak atau marah di tengah rapat yang toksik, Analisa memberikan alat sederhana namun ilmiah:
-
Ambil napas panjang.
-
Hitung mundur selama 6 detik.
-
Hembuskan perlahan.
“Emosi bekerja 6 detik lebih cepat daripada logika. Dengan berhitung mundur, kita melakukan ‘pause’ pada emosi agar logika bisa mengambil alih kendali.”
Kesimpulan untuk Anda yang Sedang Berjuang: Tetaplah memberikan yang terbaik meski lingkungan tidak ideal. Mengapa? Karena kapasitas yang Anda bangun adalah milik Anda selamanya.
“Mutiara akan tetap menjadi mutiara di mana pun ia berada. Intan akan tetap ditemukan berkilau di mana pun ia diletakkan.”
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Panduan “Survival” 1000 Hari Pertama: Rahasia dr. Tiwi Cetak Anak Cerdas dan Mandiri
Response (1)