Bencana alam yang silih berganti menghantam tanah air sering kali dilabeli sebagai “takdir”. Namun, dalam sebuah wawancara tajam di kanal YouTube Rory Asyari, Ustadz Felix Siauw membongkar tabir lain: bahwa di balik setiap pohon yang tumbang dan banjir yang menerjang, ada jejak keserakahan sistemik dan hilangnya rasa “tahu diri” dari mereka yang memegang kuasa.
Daftar Isi
1. Merusak Hutan: Lebih dari Sekadar Pelanggaran Hukum

Bagi Ustadz Felix, pembabatan hutan bukan hanya urusan administrasi atau izin lahan, melainkan sebuah dosa besar dalam kacamata spiritual. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu orang, melainkan lintas generasi.
“Kenapa kita katakan dosa besar? Karena dosa itu tergantung efeknya. Pembunuhan itu satu orang yang mati. Tapi perusakan hutan? Itu bukan satu orang yang mati, dan bukan hari itu saja, tapi akan terjadi terus-menerus.”
Beliau menekankan bahwa fungsi manusia sebagai Khalifah di muka bumi adalah untuk merawat, bukan merusak. Bahkan dalam kondisi perang sekalipun, Islam melarang keras menebang pohon atau merusak sumber air.
2. Kritik Pedas: Pemerintah Bukan Kompetitor Rakyat
Salah satu bagian paling reflektif dalam diskusi ini adalah ketika membahas respons pemerintah terhadap inisiatif donasi masyarakat. Ustadz Felix menyoroti sikap oknum pejabat yang seolah merasa tersaingi oleh kepedulian rakyat.
“La syukron alal wajib—tidak ada terima kasih dalam perkara kewajiban. Pemerintah dibayar dan itu bukan uang kamu (pejabat). Jadi kenapa kamu harus merasa rakyat punya hutang budi? Lucu kalau pemerintah buka donasi, mbok ya tahu diri.”
Menurutnya, “tahu diri” jauh lebih tinggi nilainya daripada sekadar hukum. Pejabat seharusnya malu jika masyarakat harus turun tangan melakukan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.
3. “Wahabi Lingkungan” dan Justifikasi Agama yang Menjijikkan
Ustadz Felix juga mengkritik keras fenomena pemberian konsesi tambang kepada organisasi masyarakat (ormas) agama dan penggunaan istilah-istilah agama untuk menjustifikasi kerusakan alam.
“Aku jiji banget ketika mereka menggunakan nama Allah untuk menjustifikasi perbuatan mereka… Ada yang bilang ‘ngapain peduli konservasi, kamu Wahabi lingkungan’. Ini penghinaan terhadap akal sehat.”
Beliau mengingatkan bahwa fungsi ulama adalah sebagai check and balance, bukan justru mendekat ke penguasa demi dunia. “Ulama yang mendekati penguasa itu lebih parah daripada kotoran yang didekati lalat,” tegasnya mengutip sebuah perumpamaan klasik.
4. Akar Masalah: Pendidikan dan Sistem yang “Salah Input”
Mengapa masyarakat seolah diam? Ustadz Felix menyoroti data bahwa hanya sekitar 6% penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi. Hal ini membuat masyarakat menjadi permisif dan mudah lupa.
“Malaikat saja kalau masuk Indonesia bisa jadi jahat setelah masuk sistem. Karena sistem itu menstandarkan output apa pun inputnya. Kalau sistemnya salah, orang baik pun bisa berlaku salah.”
5. Pesan untuk Korban dan Pelaku
Sebagai penutup, Ustadz Felix memberikan pesan yang kontras bagi kedua belah pihak. Bagi korban, beliau memberikan penghiburan bahwa keadilan sejati akan hadir di akhirat.
“Bagi para pemegang konsesi, semua akan dipertanggungjawabkan. Di hari akhir, pahala salat dan umrah kalian akan diambil dan diberikan kepada korban yang kalian zalimi sampai habis. Jika pahala habis, dosa para korban akan ditimpakan kepada kalian.”
Beliau mengajak masyarakat untuk tidak hanya “sabar” dalam menghadapi kezaliman, karena sabar hanyalah untuk musibah yang tak terelakkan, bukan untuk perusakan yang disengaja. Energi bangsa ini harus dialihkan pada pendidikan dan keberanian untuk menunjuk siapa yang sebenarnya bertanggung jawab.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Seni Menjaga Kewarasan di Tengah Kepemimpinan Toksik dan Burnout
Response (1)