Di era media sosial, setiap rumah seolah adalah panggung kebahagiaan yang sempurna. Foto liburan, hadiah mewah, hingga update status kemesraan seakan menjadi tolok ukur sukses berumah tangga. Namun, tanpa disadari, kesibukan mengintip ‘rumput tetangga’ telah menjadi penyakit kronis yang merusak kebahagiaan di rumah sendiri.
Ustadz Syafiq Riza Basalamah dalam ceramahnya yang viral, menyajikan nasihat Nabi Muhammad ﷺ yang sangat relevan dengan zaman ini. Pesan utama beliau jelas dan tegas: “Lebih Baik Sibukkan Dirimu dengan Rumahmu.” Ini adalah seruan untuk memutus rantai perbandingan yang meracuni hati, dan menciptakan surga kecil di tempat kita berpijak.
Daftar Isi
Jebakan Perbandingan: Standar Kebahagiaan Fatwa Medsos

Penyebab utama keretakan rumah tangga modern, kata Ustadz Syafiq, adalah kebiasaan membanding-bandingkan.
“Kadang kala yang menyebabkan rumah tangga itu berantakan karena kita sibuk membanding-bandingkan rumah tangga kita sama rumah tangga orang.”
Bahkan, kini muncul standar-standar baru tentang apa itu ‘suami saleh’ atau ‘istri ideal’ yang justru bersumber dari feed TikTok atau Instagram. Seorang suami dituntut harus selalu update dan memberi kabar via chat seperti standar yang dibuat oleh media sosial. Padahal, standar yang sejatinya jauh lebih berbahaya adalah:
1. Kezaliman Membandingkan Pasangan Ketika membandingkan pasangan, kita cenderung mencari sisi terburuk dari pasangan kita, lalu membandingkannya dengan sisi terbaik dari orang lain (pasangan orang lain, idola, atau influencer). Ini adalah bentuk kezaliman! Fokuskan pandangan pada kebaikan dan kelebihan yang dimiliki pasangan Anda.
2. Fatwa ‘Wajib’ Keluar Rumah Terutama bagi wanita, nasihat untuk “Waqarna fi buyutikum” (tinggallah di rumahmu) adalah pondasi ketenangan. Jika seorang istri tidak betah di rumah, maka suami pun akan mencari kenyamanan di luar. Rumah harus menjadi tempat paling indah di muka bumi bagi kita.
Bentengi Keluarga dengan Tiga Solusi Nabi ﷺ

Ustadz Syafiq Riza Basalamah menawarkan tiga solusi praktis berdasarkan hadis Nabi ﷺ untuk menghadapi fitnah akhir zaman yang masuk ke setiap rumah:
Solusi 1: Hadirkan Qana’ah (Rasa Cukup) Sejak Pagi
Qana’ah adalah kunci kebahagiaan. Orang yang beruntung adalah mereka yang berserah diri, diberi rezeki yang cukup, dan dijadikan Allah memiliki sifat qana’ah (merasa puas dengan apa yang dimiliki).
-
Musibah Handphone: Telepon genggam dan pasar yang mendekat (online shop, mall 24 jam) telah menjadi alat perusak qana’ah paling efektif. Ketika mata tidak tertundukkan, kita terus melihat barang baru, koleksi orang lain, dan kemewahan yang tidak kita miliki.
-
Terapkan “Unzuru Il Man Hua Asfala Minkum”: Jika kita ingin qana’ah, Nabi ﷺ berpesan: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang di atas kalian.” Dalam urusan dunia (motor, rumah, harta), selalu lihat ke bawah agar kita bersyukur dan menghargai apa yang ada di rumah.
Solusi 2: Jaga Lisan, Senjata Paling Tajam dalam Rumah
“Lisan itu dapat menembus apa yang tidak ditembus sama pisau.”
Ucapkanlah ucapan yang baik. Kata-kata kasar atau celaan dari suami kepada istri, atau sebaliknya, akan meninggalkan luka yang mungkin tidak tersembuhkan. Anak-anak pun akan membenci ayahnya jika melihat ibunya dizalimi oleh lisan.
Bahkan, Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan sedikit pun. Jika suka, beliau makan; jika tidak, beliau tinggalkan. Ganti celaan dengan pujian, agar dapur dan meja makan menjadi ladang pahala, bukan medan perang lisan.
Solusi 3: Tangisi Dosa-Dosamu (Wabki Ala Khatika)

Solusi ketiga adalah introspeksi diri. Daripada sibuk mencari kekurangan orang lain atau menuding pasangan, gunakan waktu untuk bermuhasabah (evaluasi diri).
Ketika kita menghitung nikmat Allah dibandingkan dengan musibah yang menimpa, kita akan sadar bahwa nikmat Allah itu jauh lebih banyak. Kesadaran akan dosa-dosa sendiri akan mengalihkan fokus dari kekurangan pasangan. Fokus pada perbaikan diri sendiri, bukan perbaikan kehidupan orang lain.
Senjata Rahasia: Doa Qurrata A’yun
ah
Sebagai penutup, Ustadz Syafiq mengingatkan bahwa cinta, kasih sayang, dan betah di rumah hanya bisa dihadirkan dengan memohon kepada Allah azza wa jalla.
Perbanyaklah doa untuk pasangan dan anak-anak, terutama doa sapu jagat keluarga:
“Rabbana hablana min azwajina wa dhurriyatina qurrata a’yunin waj’alna lil-muttaqina imama.”
(“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati (qurrata a’yun), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”)
Rumah adalah tempat kita berjuang. Hentikan drama perbandingan, matikan notifikasi yang meracuni hati, dan sibukkan diri untuk menciptakan kenyamanan, qana’ah, dan kasih sayang di rumah tangga Anda. Karena sejatinya, keindahan sejati yang Anda cari di luar sana, telah Allah letakkan tepat di dalam rumah Anda.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti