Uang Adalah Pelayan, Bukan Majikan: Menata Ulang Isi Kepala ala Felix Siauw

Uang
Uang

Banyak orang terjebak dalam pengejaran materi tanpa ujung, menganggap angka di saldo rekening sebagai penentu kebahagiaan. Namun, bagi Felix Siauw, ada titik balik di mana ia harus “merestrukturisasi” posisi uang di dalam kepalanya. Dari yang semula menganggap uang sebagai segalanya, menjadi sekadar “babu” untuk urusan akhirat.

1. Pergeseran Paradigma: Dari “Segalanya” Menjadi “Perantara”

Uang
Uang

Sebelum memeluk Islam, Felix mengakui bahwa dunianya berputar di sekitar materi. Logikanya sederhana: hidup hanya sekali, maka kumpulkan sebanyak-banyaknya. Namun, pemahaman tentang kehidupan setelah mati mengubah total koordinat berpikirnya.

“Uang memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya perlu uang. Itu pandanganku sebelum masuk Islam. Tapi setelahnya, aku tahu dunia pasti akan ditinggalkan.”

Ia menyadari bahwa kenikmatan dunia itu terbatas oleh usia. Selezat apa pun makanan, di usia 80 tahun rasanya takkan sama lagi. Dari sanalah ia memposisikan harta bukan sebagai tujuan, melainkan alat.

2. Karakter Lebih Penting daripada Ilmu Teknis

Dalam belajar, Felix menekankan bahwa metode dan karakter seorang guru jauh lebih krusial daripada sekadar ilmu yang diberikan. Karakter itulah yang menentukan bagaimana ilmu tersebut akan digunakan.

“Ilmu itu seperti emas. Tapi yang lebih penting adalah karakternya, yaitu bagaimana cara kita mengumpulkan emas itu. Metodologi mencapai ilmu lebih penting dari ilmu itu sendiri.”

3. Integritas Dakwah: Anti-Tarif dan Fokus pada Dampak

Salah satu prinsip keras yang dipegang Felix adalah tidak memasang tarif dalam berdakwah. Baginya, dakwah adalah beban amanah yang tidak bisa diperjualbelikan seperti jasa influencer atau talent.

“Jangan pernah narif. Tolak saja (pemberian) di awal-awal, supaya kamu ikhlas bahwa kamu berbuat dakwah ini bukan karena uang.”

Ia juga sangat selektif dalam menerima undangan kajian. Bukan karena sombong, tapi karena prinsip efisiensi dakwah. Ia lebih memilih medium yang jangkauannya luas (seperti media sosial) daripada hadir di acara kecil yang sebenarnya bisa diisi oleh orang lain.

4. Menolak Kemewahan: “Bermewah-mewah itu Menyakiti”

Felix memiliki pandangan yang cukup radikal soal gaya hidup pemuka agama. Ia percaya bahwa guru dan pemimpin harus menjaga diri dari gaya hidup glamor agar tidak melukai perasaan umat yang dipimpinnya.

“Menjadi guru, ulama, dan penguasa itu berarti Anda memilih untuk tidak bisa bermewah-mewahan dalam hidup, karena bermewah-mewahan (bagi mereka) sama dengan menyakiti.”

Ia mencontohkan prinsip pribadinya yang tidak akan pernah membeli tiket kelas bisnis kecuali dibayari orang lain. Baginya, selisih harga tiket tersebut lebih baik digunakan untuk memberangkatkan orang lain berdakwah atau belajar.

5. Hubungan Ideal Pengusaha dan Pendakwah

Melalui kolaborasinya dengan brand Ciomy, Felix menunjukkan model kerja sama ideal: pengusaha tidak menjadikan ustaz sebagai “bintang iklan”, melainkan mendukung program dakwahnya secara total.

“Uang itu babu, supaya dia bisa disuruh-suruh. Beli alat supaya dakwah lebih kinclong, beli lighting, bangun tempat. Itulah gunanya duit.”

Kesimpulan: Konversi Harta Menjadi Bekal

Artikel ini ditutup dengan pengingat bahwa semua yang kita miliki saat ini—apakah itu popularitas, uang, atau jabatan—hanyalah titipan yang harus segera “dikonversi” menjadi sesuatu yang bernilai di mata Tuhan.

“Apapun di dunia yang kita dapat; exposure, ilmu, kekayaan, atau posisi, tidak lain dan tidak bukan semua itu cuma babu yang harus kita manfaatkan untuk bekal berjumpa Allah.”

Kamu juga bisa membaca artikel menarik lainnya seperti 23 Tahun dalam “Sangkar Emas”: Kisah Kartika Suminar Melawan Badai NPD

Read More :  Istri yang Dimuliakan Allah Adalah Istri yang Menghormati Suaminya

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *