Idol  

Antara Kamera dan Realita: Perjalanan Prilly Latuconsina Menemukan Diri yang Utuh

Prilly Latuconsina
Prilly Latuconsina

Di balik gemerlap lampu panggung dan jutaan pengikut di media sosial, terdapat sebuah jiwa yang sedang belajar untuk menjadi “manusia biasa”. Prilly Latuconsina, dalam sebuah percakapan yang sangat jujur, membongkar topeng-topeng yang selama ini ia kenakan dan berbagi tentang fase paling rapuh dalam hidupnya: Retak, Luruh, dan Kembali Utuh.

1. Beban Menjadi “Rumah” Bagi Semua Orang

63278121
instagram.com/@prillylatuconsina96

Sebagai anak pertama dan figur publik yang sukses sejak belia, Prilly sering kali dipaksa oleh keadaan untuk menjadi sosok yang tak boleh tumbang. Ia merasa sering kali dituntut menjadi solusi bagi masalah orang lain, namun jarang ada yang bertanya, “Siapa tempat bersandarmu?”

“Aku adalah rumah, tapi siapa rumahku? Kadang orang-orang terdekat menuntut aku untuk kuat, sehingga aku dituntut hanya mendengar tapi enggak didengar.”

Prilly menggambarkan kesepian yang mendalam saat berada di fase “Retak”. Ia merasa tidak punya hak untuk sedih hanya karena ia memiliki pencapaian material yang dianggap luar biasa oleh publik.

2. Melawan Paradoks Kebahagiaan dan Materi

1822025783
instagram.com/@prillylatuconsina96

Salah satu poin paling tajam dalam diskusi ini adalah bagaimana masyarakat modern sering kali menyepelekan kesehatan mental seseorang hanya berdasarkan saldo rekening atau gaya hidup.

“Jangan membandingkan kesedihan orang dari materi. Aku sedih karena enggak punya teman yang tulus, lalu dikaitkan dengan ‘Masih mending lo bisa makan’. Itu enggak apple to apple.”

Prilly mengingatkan kita bahwa penderitaan tidak memilih kasta. Uang mungkin bisa membeli kenyamanan, tetapi ia tidak bisa membeli ketenangan jiwa atau kehadiran yang tulus.

3. Filosofi Sisyphus: Menemukan Makna dalam Penderitaan

Mengutip karya Albert Camus, The Myth of Sisyphus, Prilly menjelaskan bahwa hidup sering kali seperti mendorong batu besar ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya jatuh kembali. Namun, keberanian untuk terus mendorong batu itulah yang disebut kemenangan.

“Fase kembali utuh adalah fase di mana aku akhirnya menerima perjuangan yang aku hadapi. Perjuangan itu sendiri adalah kemenangan.”

Bagi Prilly, menjadi utuh bukan berarti kembali ke masa lalu atau menjadi sempurna, melainkan menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari identitas diri.

4. Keberanian untuk Menjadi Rapuh (Vulnerability)

Prilly Latuconsina
instagram.com/@prillylatuconsina96

Lama dikenal sebagai “Wanita Mandiri”, Prilly kini menyadari bahwa kemandirian yang ekstrem terkadang hanyalah mekanisme pertahanan dari trauma masa lalu. Ia belajar bahwa meminta bantuan (ask for help) bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kemanusiaan.

“Bukan berarti kita kalah, tapi itu menandakan bahwa kita manusia biasa. Jangan kayak Wonder Woman terus.”

Kini, ia memberikan ruang bagi dirinya untuk tidak selalu menjadi “100%”. Ia membiarkan dirinya bertemu orang tersayang dalam kondisi “50%” agar mereka bisa saling mengisi dan memberikan energi.

5. Pesan untuk Teman Berkelas

Apa yang membuat seseorang disebut berkelas? Bagi Prilly, jawabannya bukan pada merek tas yang dipakai atau kelas pesawat yang dinaiki.

“Teman berkelas adalah siapa dia di saat orang enggak melihat. Di zaman media sosial, banyak orang baik saat ada kamera. Aku mau orang yang baik karena dia memang pure baik dari hatinya.”

Kesimpulan: Menata Ulang Prioritas

Kisah Prilly adalah pengingat bagi kita semua yang sedang berjuang di usia 20-an atau 30-an. Bahwa tidak apa-apa untuk berkata “tidak”, tidak apa-apa untuk tidak memenuhi ekspektasi semua orang, dan yang paling penting: hargailah dirimu sendiri melebihi barang-barang yang kamu miliki.

“Barang tidak mendefinisikan kelas hidupku. Aku lebih besar dari barang yang aku pakai.”

Apakah Anda juga sedang merasa di fase “Retak” atau sedang berusaha “Kembali Utuh”?

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Fakta MSG hingga Kopi yang Sering Disalahpahami Orang Tua

Read More :  Park Bom 2NE1 Keluar Dari Konser Manila di Tengah Jalan Karena Kesehatan yang Buruk

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *