Dalam lanskap media sosial yang keras, tokoh publik, khususnya content creator, seringkali menjadi sasaran empuk kritik hingga kebencian (hate comment). Namun, bagi seorang komika, medan pertempuran mentalnya ternyata jauh berbeda.
Sebuah cuplikan wawancara dari kanal SUARA BERKELAS berjudul “HIDUP Ini LUCU Kalau Kamu Bisa Melihat Dengan Sudut Pandang Ini” mengungkap perspektif unik dari seorang komika (diduga Muslim) mengenai betapa rentannya seseorang yang sedang berkembang menjadi target kebencian, dan bagaimana ia membangun imunitas mental.
Senjata Rahasia Komedian: Berdamai dengan Diri Sendiri

Narasumber menggarisbawahi sebuah paradoks: semakin seseorang maju, semakin besar pula “angin kencang” kebencian yang ia terima.
Ia kemudian membandingkan ketahanan mental komedian stand-up dengan content creator pada umumnya.
“Mungkin kalau background-nya komedian… kita sudah berdamai dengan kekurangan diri sendiri. Jadi, sebelum dikatain orang, kita sudah ngata-ngatain diri sendiri,” ujarnya.
Proses “menertawakan diri sendiri” di atas panggung membuat mereka memiliki benteng mental yang lebih kuat. Ketika hate comment datang—seperti cacian atau makian—hal itu dianggap sebagai risiko pekerjaan yang tidak terlalu berdampak.
Ini berkebalikan dengan banyak content creator lain yang, menurut pengamatannya, bisa mengalami doom’s day hingga depresi berat hanya karena segelintir komentar negatif.
Bukan Hinaan, Tapi Fitnah dan “Sok Tahu” yang Paling Menyakitkan
Jika hinaan dianggap angin lalu, narasumber mengungkapkan bahwa ia sangat membenci dua hal: fitnah dan kesoktahuan publik. Isu ini muncul terutama ketika ia mengambil sikap vokal terhadap isu-isu intoleransi, seperti pelarangan pembangunan tempat ibadah.
Contoh Fitnah: Ia mencontohkan komentar yang menuduhnya mendapat bayaran dari pihak tertentu hanya karena menyuarakan hak beribadah.
Melawan Narasi “Easy Way”: Narasumber dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Ia berargumen, jika tujuannya adalah kekayaan yang mudah (easy way), ia akan mengambil jalan content creator yang aman, bahkan mungkin dengan hanya fokus pada pencitraan agama.
“Justru karena saya sering ngepos gereja… jangankan dapat duit, brand saja mana ada yang mau masuk ke content creator yang tersesat seperti saya,” tegasnya.
Ancaman Digital Terbesar: Bahaya “Semua Jadi Pakar”
Narasumber menyayangkan bagaimana warganet bisa dengan cepat dan tanpa dasar menjadi ahli ekonomi atau pengamat politik dadakan saat ada kebijakan atau isu tertentu. Sikap sok tahu massal inilah yang dinilainya sebagai salah satu ancaman terbesar dalam komunikasi digital, karena menyebarkan informasi yang salah dan menyulitkan diskusi yang sehat.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Forever Newbie : Kunci Sukses Bertahan di Industri Kreatif Selama Dua Dekade Andin